Search This Blog

Cpx24.com CPM Program
Showing posts with label Daur Ulang. Show all posts
Showing posts with label Daur Ulang. Show all posts

Salamku Untukmu

Monday, August 30, 2010

Apa kabarmu disana?
Masihkah paras ayu dan tatapan sayumu yang kau tawarkan padaku?
Aku tahu kau tidak akan terganti, sekuat apapun aku mencoba, tetap yang kuinginkan hanyalah auramu
Bahkan aku pernah meminta pada tuhan untuk menghadirkanmu di bunga tidurku

Kau ingat ketika kita berpisah di persimpangan dan memilih arah yang berbeda?
Aku tidak benar-benar memilih, aku kembali ke persimpangan itu, menunggumu
Tiba-tiba aku mengkhawatirkan masa depanku, bahwa ada yang lebih mencintaimu daripada diriku
Aku pasrah pada langit, tapi angin selalu menyusupkan namamu di setiap hirupan nafasku

Pergi bukan berarti hilang
Pergi hanyalah satu cara ketika keadaan memaksa kita memilih jalan yang berbeda
Ada yang pergi dan pasti ada yang ditinggalkan
Tapi tidak pernah ada yang benar-benar hilang

Lihatlah, takdir sedang mencandai kita
Kau tahu sepuluh tahun lagi aku akan menua, 20 puluh tahun lagi mungkin penyakit akan rutin menjengukku
Tapi kau tetap akan cantik, walaupun mungkin nanti 30 tahun lagi aku akan melupakanmu
Tidak apa-apa, hidup memang harus dijalani

Sudahlah, aku hanya punya doa yang tidak akan pernah habis untukmu
Mari kita lanjutkan hidup kita, tapi aku tidak akan meminta izin jika sewaktu-waktu aku ingin memutar lagu yang mengingatkanku padamu
Atau tiba-tiba melihat wajahmu di deretan gambar-gambar imajinasi yang menarikku ke lorong kenangan
Kuharap aku bisa tersenyum sambil menikmati kopiku, memandang langit yang sedang memerah menunggu sang malam menjemputnya

***************
Termotivasi ngeblog karena kuis agustus di ceritaeka :D

Read more...

Menikmati Panggung Kebersamaan

Sunday, March 21, 2010

Aku datang lagi ke acara itu setelah 5 bulan absen.
Suasana yang masih sama, semangat berbagi dan pluralisme yang tetap dinomorsatukan.
Udara yang cukup dingin karena sepanjang sore diguyur hujan tidak membuat surut yang datang.
Aku datang lebih awal, sekitar jam 8 malam. Masih sempat mengisi perut dengan angkringan di depan panggung dan segelas teh hangat sambil melihat-lihat suasana sebelum acara itu dimulai.

Malam itu termasuk spesial, karena Kiai Kanjeng sedang melakukan rekaman langsung di atas panggung untuk lagu-lagu sholawatnya. Pengunjung yang datang akhirnya kecipratan untuk mengisi suara jamaah dan diulang beberapa kali hingga terdengar mantab. *Ternyata untuk mengambil suara saja butuh take berulang-ulang :)*

Cak Nun menyapa pengunjung dengan ramah, sambil menjelaskan rangkaian acara malam itu, tentu tidak lupa dengan sentilan-sentilan khasnya yang membuat suasana langsung meriah.

Pengambilan suara membutuhkan waktu hampir satu jam. Setelah cukup puas, acara maiyah diawali Cak Nun dengan resume-resume yang tejadi belakangan ini, seperti dipanggilnya dia ke MK untuk memberikan pandangannya sebagai ahli tentang UU penodaan agama. Dia bersedia hadir karena permintaan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, sama seperti kedatangannya di Rembang untuk peresmian mesjid, itu karena permintaan Gus Mus.

Saya sekarang mulai memilah-milah permintaan apa saja yang datang pada saya. Bukan saya tidak percaya pada orang atau kelompok yang mengundang saya, tapi saya kehilangan alasan untuk datang. Jika di acara itu ada saudara-saudara saya atau sahabat-sahabat yang saya percayai, maka saya akan datang karena mereka.


Setelah resume Cak Nun lalu disambung oleh resume dari pengurus Kenduri Cinta, kemudian disambung oleh Cak Fuad, yang merupakan penggagas pertama acara Maiyahan ini tahun 1998.
Cak Fuad bercerita tentang konsep perbedaan, sangat menarik.
Bahwa perbedaan itu sesuatu yang harus ada, itulah yang menandakan manusia itu berakal.

Berbeda itu boleh, yang tidak boleh adalah perselisihan karena perbedaan


Yang paling penting kata Cak Fuad adalah bagaimana mencari solusi ketika terjadi perbedaan. Ada yang sepakat untuk satu kata, ada yang sepakat untuk tidak sepakat, itu sah-sah saja asal tidak menjadi permusuhan satu sama lain.

Setelah Cak Fuad menguraikan tentang perbedaan dengan cukup serius *tapi santai*, Cak Nun menanggapi dengan memberi contoh-contoh

"Yang melakukan pengeboman adalah teroris, Muslim bagi orang Barat adalah teroris, Israel bagi muslim adalah teroris, yang ditembak kemarin adalah teroris, lha semuanya teroris."

Cak Nun lalu mengurai

"Teroris diambil dari kata teror, berarti yang melakukan teror disebut teroris.
Tuhan juga memberi kerusakan berupa gempa di Padang dan Cile, apa tuhan juga teroris?, bagaimana kita bisa menyebut seseorang teroris?, adakah hukum atau UU yang mengklasifikasikan bahwa seseorang itu disebut teroris?"

"Itu semua bahasa budaya, bahasa psikologi, bahasa antropologi dan kelemahan yang paling mendasar tentang perbedaan di negara kita adalah bahasa Indonesia. Lihat semua pasal di UU, tidak ada satupun menggunakan bahasa hukum, semuanya bahasa budaya,psikologi dan antropologi. Bagus secara sosial kemasyarakatan tapi lemah untuk menegakkan hukum, hingga bisa dipelintir penguasa"

"saya melaporkan sia anu karena perbuatan tidak menyenangkan, tidak menyenangkan menurut siapa?, adakah ukuran menyenangkan-tidak menyenangkan dalam hukum?, berarti presiden pidato bisa saya laporkan, karena pidatonya tidak menyenangkan menurut saya"

Suasana terasa cair, Cak Nun pintar memainkan ritme. Kapan waktunya serius, kapan waktunya membuat hadirin terbahak-bahak *kebanyakan sih ketawa terus*

Hampir jam 1 malam, Cak Nun dan Kiai Kanjeng pamit mundur karena besok paginya harus sudah ada di Semarang. Acara tetap berlangsung, di panggung sudah ada Kiai Budi dan Sabrang yang lebih dikenal sebagai Noe 'Letto', tercatat juga sebagai anaknya Cak Nun.

Sabrang mengurai tentang fatwa rokok, bahwa ada monopoli kenapa sampai fatwa itu didukung oleh perusahaan rokok terbesar dunia Philip Morris. Standar ganda untuk menjadi penguasa tunggal, begitu pendapat Sabrang tentang fatwa rokok ini.

Setelah Sabrang, acara puncaknya diserahkan kepada Kiai Budi yang sudah jadi langganan tetap Mocopat Syafaat. Kiai pengagum Rumi ini menjelaskan tentang Cinta, konsep pohon yang berbuah, bahwa kita tidak dinilai dari identitas kita tapi kelakuan kita.

Perumpamaan-perumpaan yang dia paparkan cukup membuat suasana malam yang sudah beranjak subuh tetap bergairah, bahasanya yang tinggi, vulgar tapi kocak membuat penonton *khususnya aku* merenung sekaligus tertawa.

Dia juga menjelaskan tentang pandangan fisik, akal, nafsu lalu hati. Sangat menarik.

Ketika kau memandang wanita dengan fisikmu, yang kau lihat hanya onggokan daging berisi tulang, nanah dan darah. Ketika kau melihat wanita dengan pikiranmu, kau akan melihat suka atau tidak suka. Ketika kau melihat wanita dengan nafsumu yang bernama ego, kau akan melihat menang atau kalah.
Lewatilah ketiga tahap itu dan lihatlah wanita dengan hatimu, kau akan melihatNya dalam ciptaanNya


Di acara itu juga tampil teman-teman dari suku Mandar membawakan lagu dengan alat musik tradisional mandar, juga ada puisi rusak-rusakan yang mengocok perut dari Mustofa W. Hasyim dan tentu saja Kiai Kanjeng yang sangat terkenal *di kalangan jamaah maiyah* :D

Malam yang menyenangkan, aku pulang jam 2.30 pagi, tidak sampai tuntas karena aku tidak ikut dengan doa penutupnya. Disamping perjalanan cukup jauh dan udara dingin, aku juga harus bangun pagi untuk sebuah urusan.


Mocopat Syafaat
17-18 Maret,
Taman Tirto, Kasihan, Bantul, DIY



*Ini draft posting udah dari tanggal 18 Maret, baru sekarang buka internet dan publish*

Read more...

Aku Datang Lagi

Tuesday, March 16, 2010

Bicara tentang mimpi, tentang sebuah pelepasan
Kita sepakat, kau menungguku disana
Dan sekarang aku telah datang
Membawa banyak cerita

Mencium lagi bau tanah basah sehabis hujan
Berteman dengan dinginmu, bermain dengan mitosmu
Ini bukan pertemuan kita yang pertama, tapi ini cukup berkesan
Kau bersembunyi di balik kabutmu dan aku telah berdiri di puncakmu

Terimakasih telah menjamuku dengan hujanmu
Terimakasih untuk hadiahmu yang cukup membekas
Biarkan aku meneruskan pelarianku
Semoga kita bertemu lagi, dengan cerita yang lain



Gunung Lawu, 3265 Mdpl
14-15 Maret 2010

Read more...

Hei Ayah..

Friday, March 5, 2010

Seorang anak SMP berjalan pulang menuju rumah dari sekolahnya, ketika itu hari jum'at dan di kampung tempat si anak itu tinggal ada keluarga yang sedang melakukan hajatan hingga warga berkumpul.
Sesampai di rumah, si anak dipanggil ayahnya

"Benarkah yang kudengar di rumah kepling itu..?" kata si ayah

Si anak diam mematung di tempatnya berdiri, tahu kemana pembicaraan itu dan tidak berani menjawab

"Heh, kau dengar aku. benar atau tidak..!!! Kalau tidak benar biar kupukul si Kribo itu.."
"Benar yah.."

PLAAKKK...

Sebuah tamparan mendarat di pipi si anak, si ayah menyuruh masuk kamar.
Membuka ikat pinggangnya, menampar lagi si anak.

"Kau tahu, aku tidak pernah mengajarimu jadi pencuri. Apakah uangmu kurang hingga kau mencuri barang yang harganya tidak melebihi uang jajanmu.."

Si anak sudah terisak

"Kau membuat malu, hancur hatiku melihatmu berbuat seperti ini. Anak kurang ajar.."

Setelahnya berbagai macam pukulan, tendangan dan patahnya sebuah sapu menjadi bukti bagaimana remuknya hati ayah melihat anaknya melakukan sebuah tindakan tidak terhormat, mencuri. Mencuri gelang-gelang besi imitasi dari rumah tetangganya yang saat itu lagi tren. Dan tetangganya yang orang minang kebetulan adalah penjual grosir di pasar.
Kejahatan anak-anak masa puber, dilakukan tanpa memikirkan resiko bersama teman-teman sepermainan, hanya untuk gaya-gayaan dan orang-orang di kampung cukup arif untuk menyerahkan ini kepada keluarga masing-masing.
Tersangka 10 orang, sebaya dan dihajar babak belur oleh ayahnya masing-masing. Terselamatkan oleh bunyi adzan sholat jum'at.

"Pergi mandi dan jum'atan, habis itu langsung pulang"
"Iya yah.." jawab si anak disela isak tangisnya.

Dan si anak tahu, ayahnya tidak akan pernah lagi membahas masalah itu. Ayahnya yang tempramental tapi bukan pendendam, ayahnya yang berani melawan semua orang jika dia benar, mungkin jika dia berbohong dan berkata tidak melakukannya, bisa dipastikan ayahnya akan membelanya dan dia tahu itu.
Tapi tidak kali ini, ayahnya sudah cukup malu.

***

"Hidup 5000"
"Mati.."
"Ada samping-samping lagi gak sebelum diangkat..?"
"Bentar-bentar.."

Keriuhan pemuda-pemuda kampung di belakang rumah seorang engkong-engkong Cina, sedang melakukan permainan judi "martuo'". Dua keping logam Rp.50 atau Rp.100 diletakkan di tangan lalu disentil ke atas, kalau yang jatuh ke tanah gambar keduanya sama maka dikatakan hidup, Kalo beda dikatakan mati.
Ketika itu lebaran, masih banyak yang memberi salam tempel dan banyak orang yang pulang kampung. Bertemu keluarga dan teman-teman lama.

Yang memegang koin adalah seorang anak SMA tahun ketiga, disaksikan pemuda-pemuda kampung yang sedang memegang taruhannya masing-masing di tengah-tengah lingkaran besar.
Koin itu terangkat, dan sebelum jatuh ke tanah, para pemuda berhamburan lari kesana-kemari, menyelamatkan diri.

"Uwak datang...!!!!"

Si anak antara mengambil duit atau kabur, akhirnya diam di tempat. Tidak melakukan apa-apa.

"Pulang"
"Iya yah.."

Adzan pertama sholat magrib udah terdengar, si anak berpikir paling ayahnya akan berjalan lurus ke mesjid, tapi dugaannya salah. Ayahnya mengikutinya sampai ke rumah.
Masuk rumah dan ke ruang tv, diikuti ayahnya dan pandangan heran ibunya.
Sekarang sudah tidak perlu lagi bentakan atau ucapan pembukaan, tendangan pertama, kedua, tamparan hingga sapu.

Dan yang paling kurang ajar, si anak menangkis beberapa, mungkin kesal merasa sudah tidak pantas menerima perlakuan begini.

"Kau melawan sekarang.. hah.. Sudah jago perasaanmu"

Makin kesal ayahnya, sudah tahu salah, melawan lagi.
habislah si anak dihajar ayahnya, kali ini tanpa isakan air mata. hanya benjol di kepala.
Setelah itu ayahnya pergi sholat maghrib sekaligus isya ke mesjid, si anak akhirnya menangis di kamar mandi, ibunya mengusapi kepalanya yang benjol.

***

"Kau jangan kuliah disini, ke Yogya aja. Lagian ada kakakmu disana"
"Iya yah..."

Ibunya keberatan kalau anak bungsunya kuliah jauh lagi, seperti anak-anaknya yang lain, biar yang ini agak dekatan, begitu kata ibunya.

"Kau mau dia di bawah ketiakmu terus, biar dia belajar. Bertemu orang-orang baru, banyak ilmu disana, terutama ilmu hidup."
"Tapi kalau aku rindu, mereka jauh-jauh semua. Biar ada yang bisa nengokin kalau kita ada apa-apa"
"Halah, jangan egois. Ini untuk mereka"

Ibunya hanya bisa bersungut-sungut lalu memberi petuah panjang lebar tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di rantau orang. Panjang kalau dijabarkan satu-satu.
Tiba giliran ayahnya, tumben simpel banget. hanya 3 hal yang diinginkan ayahnya untuk dia pegang ketika nanti kuliah.

"Ingat tuhan, karena cuma dia yang akan menolongmu selama disana" pertama.
"Jangan narkoba, pilihannya cuma 2, penjara atau kuburan" kedua
"Jangan rusak anak orang, jika kau dekat dengan seseorang, perlakukan dia dengan baik" ketiga

Nasehat yang lebih dari cukup membuat si anak berani bertahan dengan status mahasiswa rantau.

***

Si ayah mendapat laporan si kakak kalau adiknya tidak pernah sholat selama di Yogya setelah 3 bulan di Jakarta dan Sulawesi.

"Kau mau apa hah.., tambah umur bukannya tambah dewasa, sudah lupa kau caranya sholat..?"
"Bukan begitu ayah, aku hanya ketemu masanya"
"oya, apa masalahmu, hingga kau lupa pada tuhan..?"
"Aku tidak tahu.."
"Mau jadi apa kau, tidak ada ridho disana kalau kau hanya mengejar dunia.."
"Engghhh......."
"Kuingatkan kau satu hal, ketika aku meninggal, aku ingin anakkulah yang men-sholatkan aku. Mulai sekarang kau harus ingat itu, pikirkan baik-baik"
"Iya yah.."

Singkat, menusuk seperti biasanya. Dan si anak terisak, setelah sekian lama tidak pernah mengeluarkan air mata.

***

Keesokan harinya, si ayah kembali menelepon

"Kau dimana..?"
"Di kos lama.."
"Tidur disana.."
"Iya yah.."
"Masih ada uangmu..?"
"Masih yah.."
"Kalau habis uangmu, bilang. Biar dikirim.."
"masih ada kok... enggghh yah, aku minta maaf soal kemarin"
"Kau sudah makan..?"
"Udah yah.."
"Kapan kau pulang ke rumah kakakmu..?"
"Mungkin 3 hari lagi"
"Ya udah, baik-baik kau disana"
"iya yah.."

Dan seperti biasanya, sudah tidak ada lagi percakapan tentang kemarin.

****


Hei ayah..
Aku dulu tidak mengerti kenapa kau begitu keras pada kami anak-anakmu.
Mungkin karena alasan umurku yang belum begitu memahami maksud tersirat dari semua tindakan dan ucapanmu
Setiap hari rumah kita diisi dengan suara-suara berisi emosimu, pasti selalu ada yang dimarahi, tapi aku tidak pernah merasa kesal padamu, mungkin itu terapi sehatmu.

Hei ayah..
Dulu aku heran, kenapa orang lebih senang datang ke rumah kita ketika ada masalah.
Pertengkaran rumah tangga, anak muda yang kawin lari, pemilihan calon bupati sampai anak yang kabur dari rumah orangtuanya.
Padahal kau hanya seorang PNS, bukan orang kaya. Bukan pula keturunan raja, hanya perantau.
Bentakan dan intonasi suaramu yang begitu tinggi membuat siapa saja takut, dan tetap orang mengadu padamu.

Hei ayah..
Dibalik sifatmu yang emosian dan kerasnya ucapan serta tindakanmu, kau adalah orang yang paling pengertian yang pernah kukenal selama hidupku.
Terimakasih kau telah mengingatkanku lagi, aku benar-benar membutuhkan itu.
Jakarta membuatku greget, Sulawesi membuatku sedikit melawan tuhan.
Dan kau berdiri di depanku, untuk meluruskan pandanganku lagi padaNYA

Kau mengerti bahwa aku sedang melarikan diri ke Yogya, untuk menemukan kembali apa yang hilang dalam diriku
Dan kau menjadi pemicuku untuk kembali lagi padaNYA
Aku mungkin masih butuh lebih banyak waktu lagi, mungkin naik gunung atau ke Karimun Jawa
Tapi percayalah, aku akan baik-baik saja

Jika cinta harus butuh kata-kata, maka yang kurasakan adalah cintamu yang tanpa perlu kata-kata.

Read more...

Galaksi Kinanthi

Wednesday, January 6, 2010

Aku sudah lama tidak membaca buku, dan mengawali tahun yang baru aku berjalan-jalan ke gramedia untuk melihat-lihat buku.
Berkeliling di rak-rak buku baru, pindah ke rak-rak novel terjemahan, hingga sampai ke rak-rak novel tulisan anak negeri.

Tiba-tiba saja aku tertarik pada buku di baris ketiga pojok sebelah kiri, covernya sangat elegan, lalu membaca nama penulisnya, *waduh gak kenal*.

Mengeja judulnya, menarik, lalu membaca endorsement di bagian bawah, semakin penasaran karena yang nulis adalah Dee. Pindah ke belakang untuk melihat harga *mulai mikir-mikir, masih pakai hitungan anak kos* :D.
Membaca kutipan novelnya *cerita cinta-cintaan*, lalu membaca endorsement dibelakang *Ahmad Tohari, Helvy Tiana Rosa sampe Gola Gong, semakin menarik*.

Aku mengambil buku yang terbuka *terimakasih buat gramedia yang begitu pengertian kepada pembaca, hingga selalu menyediakan satu buku tester*, membuka halaman pertama, endorsement lagi dan semuanya begitu memuji buku ini.

Kulewati halaman itu menuju daftar isi dan aku langsung bengong, sangat keren, kata-kata yang tidak biasa. Virgo (Sang Perawan), Cancer (Kepiting), Leo (Singa), Lyra (Dawai), Crux (Layang-layang), Sagitta (Panah), Vulpecula (Musang), Pavo (Merak), Orion (Pemburu), Pegasus (Kuda Terbang), Cepheus (Raja), Cassiopeia (Ratu), Bootes (Penggembala), Vela (Layar), Ara (Altar), Perseus (Pahlawan), dan Paus saja mampir ke Gunung Kidul.Sangat menarik.

Membuka Bab pertama yang berjudul Virgo (Sang Perawan), aku langsung disuguhi tulisan ini

Begini cara kerja sesuatu yang engkau sebut cinta..
Engkau bertemu seseorang lalu perlahan-lahan merasa nyaman berada di sekitarnya. Jika dia dekat, engkau akan merasa utuh dan terbelah ketika dia menjauh. Keindahan adalah ketika engkau merasa ia memperhatikanmu tanpa engkau tahu. Sewaktu kemenyerahan itu meringkusmu, mendengar namanya disebut pun menggigilkan akalmu. Engkau mulai tersenyum dan menangis tanpa mau disebut gila.
Berhati-hatilah...
Kelak, hidup adalah ketika engkau menjalani hari-hari dengan optimisme. Melakukan hal-hal hebat, menikmati kebersamaan dengan orang-orang baru. Tergelak dan gembira, membuat semua berpikir hidupmu telah sempurna.
Sementara, pada jeda yang engkau buat bisu, sewaktu langit meriah oleh benda-benda yang berpijar, ketika sebuah lagu menyeretmu ke masa lalu, wajahnya memenuhi setiap sudutmu. Bahkan, langit membentuk auranya. Udara bergerak mendesaukan suaranya. Bulan melengkungkan senyumnya. Bersiaplah... Engkau akan mulai merengek kepada Tuhan. Meminta sesuatu yang mungkin telah haram bagimu.


Kututup buku tester itu, mengambil buku yang masih bersampul plastik dan tanpa pikir panjang aku berjalan menuju kasir.

****

Kinanthi Hope adalah seorang Profesor muda yang populer di New York, sering menjadi dosen tamu di berbagai universitas, jadi pembicara di acara-acara seminar dan bukunya yang menyoroti masalah perempuan menjadi best seller di Amerika. Kinanthi sukses, sampai media memberinya gelar Queen of New York.

Tapi tidak banyak yang tahu kalau Kinanthi seorang muslimah, berasal dari Selatan Jawa yang dijual bapaknya demi 50Kg beras, disiksa majikannya yang orang arab sampai cerita masa kecilnya yang selalu dia simpan di galaksi cintanya.

Hampir 20 tahun Kinanthi menyimpan ceritanya, hingga Kinanthi membutuhkan sebuah pelepasan untuk dirinya, terutama untuk teman masa kecilnya. Kinanthi menulis sebuah buku novel. Novel yang bagi pembacanya adalah fiksi, tapi bagi Kinanthi jelas sangat nyata, karena dia adalah pelaku utama novel itu.

Dibantu editornya yang sangat pengertian, seseorang yang hampir 4 tahun Kinanthi berpikir adalah orang Cina tapi ternyata adalah orang Tibet, Kinanthi memulai pelepasannya.
Ditengah penggarapan novelnya, Kinanthi tersadar, dia harus kembali ke tanah dia lahir. Untuk mengulang, untuk mengenang, untuk menunjukkan pada kampungnya bahwa dia hidup, terutama untuk teman masa kecilnya yang dia yakin masih menunggunya dan untuk sesuatu yang Kinanthi selalu tunggu selama hampir 20 tahun ini, sesuatu yang selalu dia lihat di galaksi cintanya.

Kinanthi begitu ingat, betapa semesta tidak rela mereka menyatu. Orangtua, kemiskinan, nasib buruk bahkan jalur takdir mencandai mereka selama hampir 20 tahun ini. Keteguhan hati Kinanthi membuatnya bertahan untuk melawan kehidupan yang tanpa harapan itu. Percaya ada seseorang yang selalu tersenyum dan mengulurkan tangan di atas nasib buruknya, teman masa kecilnya.

Dia pulang setelah hampir 20 tahun 'dibuang' dari kampungnya, menemukan sosok teman masa kecilnya yang biasa-biasa saja, memupus harapannya untuk sesuatu yang lebih besar. bertemu tanpa ada getaran-getaran yang dia harapkan di sepanjang 20 tahun mengisi ruang sepinya, dan otak Profesor Kinanthi maklum, dia berharap terlalu banyak.

Tapi Kinanthi lupa, teman masa kecilnya mengisi hampir 20 tahun untuk sesuatu yang membuatnya terharu sepanjang hidupnya. Menentang orangtuanya yang menginginkannya menjadi rois kampung, teman masa kecilnya mencari Kinanthi, menggelandang di Bandung dan Jakarta demi Kinanthi, demi sebuah janji di masa kecil mereka.

*****

Satu kata untuk buku ini, fantastic...!!!
Penulis meramu buku ini dengan sangat kaya, pemilihan kata-kata yang sangat enak untuk dibaca, lugu namun sangat berbobot.
Dari Gunung Kidul, Arab, Kuwait sampai gedung pencakar langit New York.
Kehidupan sosial masyarakat kampung, dunia penerbitan sampai rasi bintang dijelaskan dengan rinci.
Tembang Jawa, Kejawen sampai astronomi, nasib TKW di Arab, kehidupan Muslim di Amerika, menjadi kesatuan yang utuh di novel ini.

Jelas ini novel cinta, tapi ini buatku novel cinta yang sangat beda dari hanya sekedar dua manusia bertemu di tempat hang-out, berkenalan, dekat, lalu happy ending walaupun ada intrik keluarga atau pihak ketiga.
Ini tentang harapan, bagaimana mencintai itu adalah satu hal dan memiliki itu adalah hal lain.
Bagaimana memahami perasaan memikirkan seseorang bertahun-tahun dan mencoba melepasnya karena waktu berjalan terus.

Bahkan novel ini memberi pesan yang sangat besar tentang sang pencipta tanpa harus menggemborkan kata-kata atau dalil, aroma spritualnya sangat terasa, kata-kata yang penuh filosofi, penokohan yang sangat baik, alur cerita yang dramatis dan ending yang benar-benar diluar dugaan.

Ini buku yang pertama kubaca setelah memasuki tahun yang baru, dan akan kuulang lagi membacanya, mungkin 2 sampai 3 kali lagi atau mungkin sampai akhir tahun, sampai aku menemukan bacaan lain.
Memang buku ini terbit sudah lama, di awal 2009 tapi buatku tidak ada buku lama atau buku baru, yang ada buku bagus dan tidak.
Seperti minum kopi, menyeruputnya pelan-pelan hingga habis dan tidak bosan untuk mengulanginya lagi di hari yang lain.

Judul : Galaksi Kinanthi
Penulis : Tasaro GK
Cetakan I, Januari 2009
Penerbit : Salamadani, Bandung

Read more...

Kiai Kanjeng, Sebuah Nilai

Saturday, October 31, 2009

Aku masih ingin bercerita tentang acara itu.
Selain budayawan mbeling dan suasana kebersamaan itu, ada satu hal lagi yang selalu membuatku tidak rela melepaskan acara itu.
Sekelompok orang yang selalu bersama budayawan mbeling itu kemanapun dia diundang atau melakukan suatu kegiatan.

Sekumpulan orang yang bisa dibilang tidak muda, walaupun sekarang sudah ada regenerasi, tapi mereka adalah bapak2 kebanyakan yang bersama budayawan mbeling itu menunjukkan indahnya musik tanpa embel2 'genre', Kiai Kanjeng.

Tidak banyak yang tahu Kiai Kanjeng. Kemunculan mereka tidak terlalu menarik untuk dibahas industri 'mainstream'.
Mereka kalah segalanya kalau dalam hitung2an industri musik.
Lagu mereka tidak mengikuti arus, lirikpun tidak populer. Apalagi sudah menyangkut fisik, tampang mereka tidak menjual.

Tapi tidak banyak yang tahu juga, sebelum lagu2 religius bertebaran di pasaran dan menjadi sebuah komoditi dagang industri musik, Kiai Kanjeng sudah melintasi pulau, negara, komunitas, suku bahkan agama untuk mengajak semua orang bergembira, menumbuhkan rasa persatuan dan persaudaraan, melalui musik.

Berawal dari Teater Dinasti di tahun 70an, timbul tenggelam sampai di awal 90an, budayawan mbeling itu bersama Teater Salahuddin membuat sebuah pertunjukan bernama Pak Kanjeng untuk mengkritik penguasa pada masa itu.
Hingga akhirnya lahir Kiai Kanjeng, yang kalau diteruskan akan melahirkan Letto.

Kiai Kanjeng bergerak dengan hatinya, sebuah konsep tentang memanusiakan manusia.
Berjalan di jalan sunyi bersama budayawan mbeling itu tanpa perlu publikasi dan 'ketenaran'.
Kiai Kanjeng merangkul semuanya, tanpa pilih2.

Kiai Kanjeng tidak perlu sebuah panggung megah untuk tampil, atau lampu2 blitz dan tiket seharga setengah juta.
Mereka ada di kelurahan, di acara2 kesenian sampai di altar2 gedung pencakar langit.

Ukuran sukses mereka ada di kegembiraan orang2 kecil menikmati hidup, berbagi bersama korban lumpur Sidoarjo, di museum seni klasik Napoli, di tengah2 perjanjian damai 3 agama di Belanda.

Musik mereka pada dasarnya tradisional, gamelan, rebana, demung tapi mereka juga sangat bagus memainkan gitar, biola, piano, dan perkusi.
Musik mereka memakai bahasa apa saja, Indonesia, Arab, Inggris, China bahkan Ibrani.
Kiai Kanjeng selalu membanggakan Indonesia ketika mereka sedang melawat ke luar negeri tanpa pernah meminta pamrih pada Indonesia atas 'pelayanan' mereka.

Kiai Kanjeng terlalu besar untuk masuk dalam buku musik Indonesia, karena mereka tidak mau diperbudak musik.
Kiai Kanjeng tidak mau musik menjadi awal sebuah jurang antara manusia dengan manusia lain.

Level musik Kiai Kanjeng tidak pop,rock,blues,karawitan,jazz,qasidah atau apapun sebutan untuk musik itu sendiri.
Kiai Kanjeng membuat semua batasan itu menjadi tidak ada. Musik adalah bahasa, media untuk mengakrabkan semua.
Karena memang begitulah seharusnya..

Kami kumpulan manusia-manusia yang lemah, yang takut kehilangan intimitas kemanusiaan, dan rasa takut itu kami bayar dengan keberanian untuk kehilangan yang lain yakni sukses dan kemasyhuran, jabatan dan kekuasaan, karier dan kehebatan. Atau dari sudut lain, kami adalah sekumpulan manusia-manusia yang tak mampu mencapai sukses dan kemasyhuran, jabatan dan kekuasaan, karier dan kehebatan maka kami berusaha jangan sampai kehilangan “yang paling sederhana dari kehidupan” yakni persaudaraan, keluarga dan intimitas kemanusiaan dalam hidup yang amat singkat ini. -Kiai Kanjeng-


"Heh, adikku juga ternyata sering ke acara itu". Seorang teman berbicara padaku melalui telepon, mengatakan kalau adiknya juga rela bolak balik Semarang-Yogyakarta demi acara itu.
"Masak, kok gak pernah ketemu ya.."
"Meneketehe, waktu kutanya, katanya dia pengen liat Kiai Kanjeng. Musiknya magis.."
"Hah, magis..?"
"Iya, katanya... 'mbak, Kiai Kanjeng itu punya magis deh. Dream Theater mah... lewat...'. Dodol bener tu anak, mang bener ya..?"
"Hahahaha, iya kali..."

Read more...

Kebersamaan Tanpa Batas

Tuesday, October 27, 2009

Gerimis membasahi Bantul malam itu. Di halaman sebuah TK sekaligus rumah seorang 'budayawan' yang katanya 'mbeling' digelar sebuah acara maiyah.
Dengan panggung sederhana, nyaris tanpa ada ruang kosong dengan pengunjung dan terpal untuk duduk lesehan, benar2 'membumi'.

Aku yang datang malam itu bersama dengan seorang teman, naik motor. Menyempatkan diri untuk mengisi perut yang memang jatahnya. Jam 9 malam kami sampai ke lokasi.
Tempat yang sama, suasana yang sama, hangat. Bertemu orang2 dari berbagai daerah, kelas sosial, tua muda dan latar belakang yang berbeda.

Sampai di tempat, aku dan temanku mencari tempat duduk lesehan.
Setelah dibuka oleh MC dan kelompok ibu2 pengajian bershalawat, budayawan mbeling itupun naik panggung bersama kelompok musik yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi.

Dia menyapa dengan hangat, diiringi sentilan dan candaannya tentang negeri ini dan doanya kepada sang pencipta.
Setelah itu dia berpuisi, dengan sangat menjiwai, yang judulnya saja aku tidak tahu. Malam itu dia sukses mengawali acara itu dengan tundukan kepala pengunjung *sial, bahkan mataku berair.*

"Saat ini kita berada di puncak ketidaktahuan kita sebagai manusia. Kita tidak mengerti siapa yang kita perjuangkan, kita tidak tahu siapa pemimpin kita. Kita bahkan tidak tahu apa itu artinya sebuah bangsa."

Begitulah kalimat yang kutangkap dari semua gojekan dan sentilannya pada malam itu.
Sudah beberapa bulan ini hal itu sering dia ungkapkan.

Untuk apa kita sekolah, kalau ternyata kita hidup bukan atas keinginan kita. Seperti bidak catur yang bisa dipindah-pindah, kita dikecewakan keadaan. Semuanya jelas, ini negara yang main2, ini demokrasi yang main2 dan saya bersyukur atas keputusan yang main2 ini karena setelah ini akan terbuka semua yang ditutup2i.

Sebuah rasa 'greget' melihat negeri ini, hingga akhirnya dia mengatakan "malam ini kita tidak usah membahas negeri ini, kita bershalawat saja untuk mendekatkan diri pada yang maha adil karena kita hidup bukan untuk main2."

Malam itu terasa sekali aura mendung, tiga tamu yang datangpun semuanya berpuisi.
Hujan sempat turun beberapa saat di tengah malam itu, tapi tidak ada yang beranjak dari tempat itu, kebanyakan hanya melindungi diri dengan tas atau merapatkan jaket.

Acara selesai hampir pukul 3 pagi, diakhiri doa dan pengetahuan yang bertambah.
Mungkin benar, ini memang sebuah acara yang multidimensi.
Bayangkan hampir tujuh jam duduk, tanpa pamrih, tidak membawa kepentingan apapun bahkan tahan tidak ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil.
Aku tidak menemukannya di acara seminar atau forum lain.

Ini bukan acara resmi, aku tidak merasa terikat untuk wajib datang ke acara ini. Bahkan acara ini tidak wajib untuk diadakan, tapi semua orang yang pernah datang ke acara ini akan selalu datang.

Di acara ini aku bisa melihat Gus Dur berbalas ejekan dengan bahasa kebun binatang, atau tawa keras Amin Rais yang begitu kalem. Pengamen nyanyi, monolog seorang Jemek Supardi, Alm.Rendra bercerita masa mudanya sampai bule2 yang begitu asyik bergoyang dangdut. Semua orang bebas menjadi dirinya sendiri.

Ada satu quote yang benar2 selalu dia ulang setiap acara itu

aku tidak mau jadi panutan kalian sebab itu akan membuat kalian fanatik kepadaku. Aku tidak mau berada diantara kalian dan Allah, terlalu berat buatku.


Ah, harusnya ini ditanamkan juga oleh pemimpin kita, tokoh2 masyarakat kita maupun ulama2 kita.

Tidak banyak orang sepertimu, yang dengan ikhlas menyapa ke semua lapisan, sebuah pekerjaan yang jika dihitung secara duniawi, jelas rugi.
Kau orang yang unik, punya kharisma tapi kau begitu dekat, dan kau tidak pelit untuk membagi ilmumu.
Dua tahun, dan aku tidak pernah bosan datang ke acara itu.

Mocopat Syafaat
Kasihan, Bantul, DIY
22 Oktober 2009

Read more...

Keren Bin Kanker

Wednesday, October 7, 2009

Keren nih, mbak ada yang nomor 42 gak..?
Sebentar mas...

****
Wow pas, harganya murah lagi... bungkus...

***
1399000 mas
Hah...ntar dulu deh mbak..*berlalu meninggalkan kasir sambil mikir kenapa 0 nya bisa nambah satu*

**
-kejadian di sebuah mall, dengan pelaku dua curut yang lagi tidak waras-

*
gambar diambil disini

Read more...

Gempa, Kelas Baru Dan Batik

Saturday, October 3, 2009

Ingin aku bertanya pada tuhan, apakah kita terlalu disayang hingga selalu diberi perhatian olehNya.
Atau memang kita seperti lagu Ebiet yang membuat alam bosan bersahabat dan memilih marah dengan caranya.

Pelajaran tentang bumi dan alam semesta telah terkubur di gudang buku2 SD.
Mungkin dulu kita *khususnya aku* malas memahami tentang arti 60LU-110LS dan 95-141 BT, diapit dua benua dan dua samudera.
Jantung khatulistiwa, dilewati garis equator dan berada di atas lempeng bumi.

Dari dulu mungkin kita *lagi-lagi khususnya aku* tidak detil mencermati cerita2 rakyat yang sudah terlupakan sekarang.
Beberapa kejadian, seperti Sangkuriang yang menjadi Tangkuban Perahu, Malin Kundang, Roro Jonggrang dan banyak lagi selalu diakhiri dengan peristiwa alam.
Bukankah kita begitu dekat dan bahkan sudah 'berteman' dengan kejadian2 itu, dari jaman nenek moyang kita yang katanya pelaut itu.

Kejadian gempa di Sumbar membangunkan kita lagi, bahwa alam kesal karena selalu dicurangi.
Mari kita memberi bantuan, apapun itu bentuknya sambil memikirkan lagi ke depan untuk mencoba 'berteman' lagi dengan alam.
Yang belum tahu, mulailah mengenal.
Yang paham ilmu, mulailah berbagi
Yang punya akses, mulailah menyebarkan.
Benar, bencana alam memang tidak bisa dicegah, tapi percayalah kita bisa meminimalisir dampaknya.

Ada satu hal yang membuatku sedikit miris akan kejadian gempa ini, banyaknya siaran di tv yang selalu memutar adegan yang sama, tentang tangisan yang videonya hampir 24 jam diulang terus.
Aku bukannya tidak berempati, gempa itu sudah menghancurkan semua yang mereka punya, jangan lagi menghancurkan hati keluarga2 mereka yang berada jauh dari mereka dengan selalu menampilkan gambar yang sama setiap waktu.

Jengah aku mendengar si reporter bertanya 'seperti apa rasanya waktu itu' atau 'bagaimana perasaan bapak setelah tahu keluarga bapak tertimbun di bawah reruntuhan'.
Mereka butuh bantuanmu, bukan pertanyaan yang akan membuat mereka menangis lagi.
Mereka mau bantuan, bukan simpati atau teman menangis. Bantuan yang akan membuat kepala mereka tegak, percaya mereka bisa bangkit dengan harapan dan hidup yang baru.

Lalu aku Ingin bertanya pada 'kelas baru' itu, butakah mereka dengan kenyataan di depan mereka.
Melihat mereka memamerkan jas baru keluaran loundry terkenal itu, dengan tampang sumringah bersalaman dan berbisik-bisik tentang gaji pertama mereka.

Pelantikan itu, peresmian kelas baru yang menghabiskan dana yang begitu besar, apalagi yang mau diharapkan dari mereka.
Masalah artis bokep yang mau datang kesini saja mereka ributnya setengah mati, membuat UU dan interupsi, mereka jagonya.

Duh... pekalah sedikit, coba kalian bergeser sedikit dari kursi nyaman itu dan lihat sekeliling.
Banyak orang miskin, negeri kita baru tertimpa musibah dan kalian tetap 'show must go on'...?
Terus terang buat para wakil rakyat di kelas baru itu, pesimis aku membayangkan negeri ini di tangan kalian.

Terakhir, ingin aku bertanya pada euforia ini, perlukah membuat sebuah hari khusus untuk batik.
Kemarin hampir semua memakai batik, mengikuti himbauan karena telah disahkannya batik sebagai milik negeri ini.
Pantaskah kita bereuforia dengan 'mewajibkan' satu hari khusus berbatik ria, dan memandang aneh orang yang tidak berbatik di hari itu.

Tidak punya nasionalisme, begitulah anggapan untuk yang tidak memakai batik.
Tiap orang di negeri ini pasti setuju, yang punya batik adalah kita.
Lalu nasionalisme itu akhirnya diukur dari selembar kain bernama batik...? mengherankan.
Batik adalah budaya, punya nilai sejarah yang panjang, banyak nilai hidup yang ada di kain batik.
Tidak perlu menunggu UNESCO baru memakai batik, janganlah memakai batik hanya untuk memperingati 'hari batik'.

Memang ada untungnya pengakuan itu, kita jadi lebih memperhatikan batik, yang artinya akan berdampak pada kesejahteraan pembuat batik, tapi untuk 'hari khusus itu', aku benar2 heran.

Kalau memang begitu pentingnya pengakuan dari luar sampai dibuat sebuah hari yang khusus memakai batik, maka atas nama nasionalisme bersiaplah..
Mungkin dalam waktu dekat UNESCO juga akan mensahkan koteka sebagai warisan budaya negeri ini.
Buatlah hari khusus, jika memang tidak mau dibilang pilih kasih.

Read more...

Enzo

Tuesday, September 29, 2009

'Kalah balapan itu tidak memalukan, yang memalukan adalah tidak ikut balapan karena takut kalah'

Enzo merasa hidupnya sudah tidak lama lagi
Dengan tubuhnya yang sudah mulai menua dan cedera panggul yang dideritanya, Enzo sudah bersiap menjemput kematiannya.
Pada malam sakratul mautnya, Enzo menghimpun kembali kenangannya, mengingat kembali semua yang telah dia alami bersama Keluarga Denny.

Denny yang membuatnya menemukan dunia baru, kehidupan baru dan keluarga baru.
Melalui denny, Enzo mengerti tentang hidup. Seperti halnya balapan yang tidak hanya soal menang kalah.
Enzo mengenal Denny sama seperti Denny mengerti tentang Enzo.
Denny menemukan Enzo di sebuah peternakan dan membawanya pulang untuk tinggal bersamanya.
Enzolah yang ada di samping Denny ketika dia berkenalan dengan Eve sampai akhirnya menikah dan punya anak yang bernama Zoe.

Enzolah yang selalu jadi tempat curhat Denny tentang mimpi-mimpinya, tentang kehidupannya, tentang obsesinya di arena balap.

Ada kalanya Enzo merasa cemburu terhadap Eve, yang lebih sering diperhatikan denny tapi itu tidak mengurangi kedekatannya dengan denny.
Enzo mengerti, dia tidak perlu dibandingkan dengan Eve karena wanita itu mencintai denny. yang dia lakukan adalah mencoba untuk dicintai wanita itu dan dia berhasil.

Enzolah yang ada disamping wanita itu ketika dia sedang melahirkan Zoe. Sewaktu denny sedang mencoba merintis karirnya dan tidak berada di rumah.

Enzolah tempat curhat wanita itu ketika penyakit kanker mulai menyerangnya dan tetap tersenyum untuk mendukung denny saat balapan.

Enzolah yang diminta wanita itu untuk menemaninya di rumah orangtuanya ketika dia merasa ajalnya sudah dekat dan dia tidak mau Denny melihatnya dalam keadaan sekarat.

Enzolah yang menemani Denny melewati ujian-ujian setelah kematian istrinya.
Termasuk memperebutkan hak asuh zoe dari mertua denny dan membebaskan denny dari tuduhan pemerkosaan.

Enzo yang hanya bisa diam melihat semua ketidakadilan yang terjadi pada denny, yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika zoe begitu merindukan ayahnya.

Enzo hanya bisa menyalak, mengibas-ngibaskan ekornya dan menatap tajam keadaan sekitarnya tanpa bisa berkata-kata. Karena dia ras tersier, berkaki empat dan menggonggong.
Enzo adalah seekor anjing..

Enzo mempelajari apa saja untuk menjadi manusia mulia dan sukses, gemar menonton televisi dan berpikiran seperti manusia, karena dia percaya di kehidupan selanjutnya, dirinya akan bereinkarnasi menjadi seorang manusia.

Sebuah novel yang dibingkai dari sudut pandang yang tidak biasa, Tentang cinta, keluarga, kesetiaan dan harapan.
perjuangan pihak ketiga untuk melihat betapa rumitnya kehidupan manusia.
Ceritanya dikemas sangat baik, Penulis membuat seolah-olah pembaca adalah Enzo itu sendiri.
Gareth Stein si penulis sukses membuat novel ini menjadi sebuah cerita yang sangat menyentuh, menginspirasi pembaca untuk tidak menyerah dalam menghadapi masalah hidup.

'Jangan pernah berhenti sebelum bendera kotak-kotak dikibarkan'

Sosok Denny digambarkan begitu tegar, seorang pria yang percaya akan sebuah arti kesetiaan.
Apa yang ada di depanmu, itulah yang harus kau hadapi. Jangan menghindar atau lari.
Denny adalah seorang juara, tidak saja di arena balap tapi juga dalam kehidupannya.

Benang merah novel ini ada pada sosok Enzo.
Kata-kata yang banyak mengandung filosofi dan pengetahuan tentang balap membuat novel ini layak untuk dikoleksi
Novel setebal 408 halaman ini mengalir sangat pas hingga terasa begitu renyah untuk dibaca.
Setelah halaman 70, tidak ada kata lain selain harus menyelesaikan novel ini.

Judul : The Art of Racing in the Rain Enzo
Penulis : Gareth Stein
Penerbit : Serambi
Cetakan April 2009

Read more...

Tag Judul Buku

Tuesday, September 15, 2009

Lagi asyik2 blogwalking, mampirlah ke tempat itu *sebetulnya sih sengaja memampirkan diri kesitu*.
Ternyata ada postingan tentang tag buku.
Kebetulan lagi gak ada kerjaan, ya udah aku memberanikan diri *cih.. bahasanya..* :)) untuk ikut mengerjakan PR.

Inilah versiku..

1. Describe yourself : sang pemimpi/andrea hirata (suka mengkhayal)

2. How do you feel : out/Natsuo Kirino (pengen keluar dari sesuatu yang aku sendiri gak tau itu apa..)

3. Describe where you currently live : Negeri bahagia/Dominique Lapierre (yup, bahagia dengan dinamika hidup)

4. If you could go anywhere, where would you go : belok kanan, barcelona/Adhitya Mulya, Ninit Yunita, alaya setya, iman hidajat (bagus aja judulnya, tapi Barcelona kayaknya menggoda juga.. hehehe)

5. Your favorite form of transportation : gone with the wind/Margaret Mitchell (asyik kali, berlalu bersama angin)

6. Your best friend are : bidadari-bidadari surga/tere liye (ada gak ya..? ngayal) :D

7. You and your friends are : The Space Between Us/Thrity Umrigar (haha, yup lagi jaga jarak, pengen sendiri)

8. What's the weather like : snow/orphan phamuk (beku, lebih ke perasaan kayaknya) :)

9. You fear : The Voices of Demon/Lori Schiller & Amanda Bennett (gak bisa bayangin)

10. What is the best advice you have to give : merdeka atau mati/isman suryaman (artiin aja secara luas)

11. Thought for the day : thank you for smoking/christopher buckley (hahaha, no comment)

12. How would I like to die : Di Atas Sajadah Cinta/ Habibburrahman El Shirazy (cuma kepikiran ini..)

13. My soul's present condition : into the wild/ Jon Krakauer (pengen ke gunung, nyari inspirasi)


Udah habis tho...?
Yo weslah, segitu aja...

Sedikit banget ni postingan, dasar gak niat.. :))
Mari sahur... :D

Read more...

Thank You For Smoking

Friday, August 7, 2009

Jangan langsung menjudge judul diatas.
Aku nonton ini sudah hampir dua minggu yang lalu, dan sepanjang film kata2 yang paling sering keluar dari mulutku adalah 'wow', 'hah' dengan ekspresi muka mesem2 diselingi senyum2 gak jelas dan akhirnya yang mendominasi adalah ketawa.

Yup, ini film komedi.
tapi jika kalian mengharap adegan2 slaptik, sorry 'ini bukan film yang kalian cari'.

Film ini bercerita tentang seorang lobbyist atau jubir dari sebuah industri rokok yang bernama Nick Naylor.
Jadi si Nick ini adalah seorang argumentator yang sangat hebat dan dijuluki 'the devil' karena tempatnya bekerja adalah industri yang paling banyak membunuh manusia.
Bahkan ketika dia bilang kadal itu adalah bayi komodo, maka hampir dipastikan 99% yang mendengarkan argumennya akan percaya.

Adegan pertama film langsung menyuguhkan bagaimana argumen nick pada sebuah acara talk show dengan bocah penderita kanker gara2 rokok.
Begitu pintarnya si nick berargumen, hingga si anak malah bersimpati pada rokok.
Nick, ketika di acara talk show mengatakan kalau perusahaannya akan mendonasikan 50 juta US sebagai bentuk dukungan agar anak2 di bawah umur tidak merokok dan itu membuat bosnya yang bernama BR kelabakan dan berpikir itu ide yang gila.
Tapi Nick menyakinkan bosnya dan mengusulkan untuk menggunakan bintang film dalam mempromosikan rokok.
Dimulailah petualangan Nick ke hollywood untuk melobi manajemen artis dan semua dana ditanggulangi oleh seorang milyader yang bernama captain.

Di film ini juga diceritakan sisi lain seorang Nick Naylor, bagaimana dia mendidik anaknya dan mengajak anaknya ikut ke holiwood dalam proses kerjanya..
Di samping itu Nick juga punya dua orang 'teman' yang rutin bertemu untuk sekedar makan malam dan mengobrol. Trio ini bernama 'Merchant of Death' squad atau disingkat MOD squad. Yang satu adalah jubir perusahaan minuman anggur dan satunya adalah jubir dari perusahaan senjata api. Benar2 partner in crime.. :D

Begitu hebatnya Nick dalam berargumen hingga membuat banyak orang yang merasa kepentingannya terganggu. Dalam sebuah acara talk show, Nick menerima telepon ancaman dari seseorang yang tidak suka atas kelakuan Nick.
Dan terbukti ketika Nick diculik dalam van dan diberi begitu banyak nikotin hingga Nick koma, tapi justru hal itu malah membuat Nick menjadi semakin terkenal.

Nick akhirnya kalah oleh seorang reporter wanita.
Bukan kalah oleh argumen, tapi karena begitu terpesonanya Nick pada si reporter hingga akhirnya Nick membuka begitu banyak rahasia hidupnya, motivasinya menjadi jubir di tobacco industry hingga relasinya dengan MOD squad.
Tentu saja semuanya off the rocord dan tempatnya dimana saja.. :))

Yang tidak disadari Nick adalah dia baru saja menggali kuburannya.
Ketika suatu pagi dia membaca koran, begitu terkejutnya dia mengetahui fotonya ada di halaman utama dan semua pembicaraannya ditulis di koran.
Semua argumennya ditulis oleh si reporter.
Dia kehilangan pekerjaannya, MOD squad terendus oleh media, gagalnya kerjasama dengan artis hollywood. Nick depresi..

Tapi berkat anaknya akhirnya Nick bangkit lagi dan mengembalikan reputasinya sebagai argumentator.

Ya, ini memang film tentang bagaimana seseorang begitu ngotot berargumen untuk menentang cara pandang orang tentang rokok.
Inti dari film ini adalah kekuatan argumennya, kalau aku bilang sih ini drama-komedi satir. *halah apa lagi ini istilah.. hehehe
Setelah film ini aku baru tahu tentang perbedaan argumen dan negosiasi, jadi Nick bukan seorang negosiator, Nick seorang argumentator.
Istilah anak gaulnya adalah 'tukang ngeles'. hahaha
Tapi Nick ngelesnya dengan sangat elegan, hingga lawan bicaranya biasanya kehabisan kata2.

Banyak pelajaran yang kuambil dari film ini, satu qoute yang paling kusukai di film ini adalah

'aku tidak perlu membuktikan argumenku. Aku hanya perlu membuktikan kalau argumenmu salah, dan jika kau salah otomatis aku di pihak yang benar. apakah argumenku benar atau salah itu sudah tidak penting lagi'.
*diterjemahkan dari bahasa inggris dengan semena-mena.. maklum teksnya inggris. haha

Atau ketika Nick sedang berhadapan dengan senat untuk mengemukakan argumennya tentang perlunya gambar tengkorak dipasang di bungkus rokok.

'Aku tidak mengerti maksud dari gambar itu pak, jika kau mengatakan itu sebagai gambar tanda bahaya, maka harusnya itu lebih bagus ditempel di kenderaan karena jelas sekali kenderaan lebih banyak menyumbang kematian di negeri ini.
Senator menyela dan mengatakan kalau itu adalah kecelakaan, dan mencoba mengalihkan dengan statistik. Nick dengan luwes menjawab..
Kalau mau berbicara statistik, kolestrol adalah pembunuh nomor satu dan itu dari makanan yang berbahan keju, kenapa keju tidak ditempeli...?'
huahaha keren ngelesnya.. *masih dengan terjemahan yang semena-mena.

Atau ketika ada seorang anak kecil mengatakan pada Nick kalau merokok bisa membunuh..
'siapa yang mengatakannya padamu..'
'ibuku..'
'apakah ibumu dokter..?'
'bukan..'
'ahli kesehatan..?'
'bukan..'
'sepertinya ibumu bukan ahli rokok..'
'enghhh'
'kau percaya ibumu..?'
'tentu saja..'
'bagaimana kalau ibumu melarang kau makan coklat, apa kau mau..?'
'tentu tidak, aku suka coklat..'
'berarti kau tidak percaya ibumu..'
'enghhh..'
'Kalau kau begitu mempertahankan coklat, kenapa rokok tidak..?'
huahahaha, asli aku ketawa kadang senyum2 sediri.. *masih diterjemahkan dari bahasa inggris dengan bahasa yang semena-mena..

Atau ketika si senator yang sudah kehabisan argumen, menyerang nick dan berkata
'Kau selalu mengatakan pada kami bagaimana membesarkan anak, maka kau kutanya apakah kau memperbolehkan anakmu merokok..?'
'tentu tidak, dia belum 18 tahun dan UU melarang anak di bawah umur untuk merokok..'
'Ketika dia ulang tahun ke-18, apakah kau akan memberikannya rokok..?'
Nick berpikir sejenak.. lalu bilang..
'Jika dia memintanya, aku akan memberikan satu pack sebagai hadiah..'
*still semena-mena terjemahannya.. :)

Film ini bukan menyuruh orang untuk merokok.
Film ini justru menyentil orang2 yang skeptis tentang rokok.
Ngomong berkoar2 tentang bahaya rokok tapi ketika dilihat kenyataan justru pendapatan negara banyak datang dari rokok.
Acara2 besar malah disponsori perusahaan rokok.
Film ini tentang sebuah pilihan.

Oh ada satu lagi perkataan nick yang maknyus banget, ketika dia ditanya dampak rokok terhadap anak2.

'Tugas kitalah sebagai orang tua untuk mengajarkan dan memberi tahu tentang semua hal2 di sekitar anak2 kita, termasuk rokok. Hingga nanti ketika mereka sudah bisa memilih, mereka tahu apa yang terbaik buat mereka'. *kalo yang ini aku buka kamus.. :D

Thank You For Smoking Dirilis pada tahun 2006.
Diambil dari buku kotroversial dengan judul yang sama karangan Christopher Buckley.
Bukunya sendiri pertama terbit pada tahun 1994 dan di cetak ulang tahun 2008.

'pa berhentilah merokok, gak baik buat kesehatan..'
'berapa lama kita menikah bu..?'
'10 tahun..'
'apakah aku suami yang baik..?'
'kau adalah suami terbaik buatku..'
'apakah kau bahagia..?'
'tentu saja pa..'
'cuma kau dan rokok yang menjadi kebahagiaanku. apakah kau akan tega merebut kebahagiaanku..?'
'arrggh...'


nb: yang diatas gak usah dipraktekkan, atau kalo gak silakan diterjemahkan ke bahasa inggris.. huahahaha

Read more...

Akal dan Kitab Suci -2-

Sunday, July 26, 2009

Akal tanpa cinta hanya akan membuat manusia sampai pada tingkat ilmu mempertanyakan kitab suci dan menyetarakan tuhan.
Jika akal menjadi busur, kitab suci menjadi panah, ilmu yang menjadi arah maka cinta adalah kekuatan untuk mengarahkan.
kitab suci yang begitu padat tidak akan dipelintir oleh akal jika ada cinta yang mendampinginya.
Output perilaku yang diciptakan akal melalui kitab suci tidak akan membawa kebaikan jika tidak diikuti cinta.

Tak kenal maka tak sayang..
Cinta mengenalkan manusia pada tuhannya
Cinta mengenalkan manusia pada kehidupannya.
Relatif dan padat akan jelas batasnya ketika dimasuki cinta.

Di kitab suci manapun, ada dosa untuk kejahatan, ada pahala untuk kebaikan.
Tapi manusia menembus sendiri batas 'manusianya' untuk merasa punya hak atas kehidupan.

Pertanyaan dasarnya adalah, apa kau percaya tuhan..?
Kalau ada yang bilang tidak, lalu kenapa kau begitu takut pada kematian..?
jika kau tidak percaya, kenapa kau bisa bangun pagi ini..?
Proses tidur bahkan tidak sampai ilmu manusia untuk mengolahnya, lalu dimana akalmu ketika kau merasa mempertanyakan si pemilik tidurmu.

Kalau kau percaya tuhan, maka poin dasar untuk percaya adalah cinta.

Kau cinta pada orangtuamu, maka kau akan percaya pada mereka.
Jika kau cinta pada istrimu, kau akan percaya padanya, maka cemburu, iri, curiga, akan hilang dengan sendirinya.

Jika kau mencintai istrimu, maka kau akan mencintai hidupnya, kau akan mencintai pekerjaannya, kau akan mencintai keluarganya, kau akan mencintai semua yang ada dalam bagian hidupnya.
Kau akan mencintai rambutnya, hidungnya, kukunya, matanya dan semua komponen hidupnya. Disitulah akalmu kau arahkan..

Hidup punya aturan..
Sekarang apa kau percaya pada si pengatur hidup..?
Jika kau percaya, maka kau akan percaya pada peraturannya..
Jika kau percaya tuhan, kau harus percaya pada pada ciptaannya..

maka kembali lagi ke posisi awal, jika kau percaya tuhan, dasarnya adalah cintamu padanya..
Lalu apa yang kau harapkan dari tuhan..? tentu cintanya padamu..

Kau mencintai tuhan, kau harus mencintai langit, kau harus mencintai pohon, kau harus mencintai daun, kau harus mencintai burung, kau harus mencintai apa saja yang dicintai tuhan.
Kau mengharapkan cintanya, makanya kau percaya padanya.

Kau mencintai tuhan, kau mencintai ciptaannya, kau percaya tanah itu ciptaan tuhan maka kau mencintai tanah, maka kau mencintai padi karena padi ditanam di tanah, kau akan mencintai makananmu, karena ada padi disana, maka kau mencintai kesehatanmu dengan memilih makanan yang baik untuk kesehatanmu.
Lalu padat dan relatif itu akan dicerna sendiri oleh akal, tidak perlu ada resep dokter untuk kesehatan dan larangan ini itu tentang kesehatan jika manusia menggunakan akalnya seperti di atas.

Banyak lagi contohnya, bahkan hal terkecil dalam hidup manusia tidak ada yang tidak berhubungan dengan tuhan.

Manusia modern sering memotong akalnya dalam siklus seperti di atas.
Manusia mencintai tuhan, tapi tidak mencintai hutan malah sangat cinta pada uang. Bukankah hutan termasuk dalam proses uang..?
Ada kertas disana, ada kayu, ada pohon, pastinya ada hutan. Mesin pencetak uang juga diurai menjadi satu persatu maka pasti ada hutan disana.
Jika manusia percaya ada tuhan dalam uang, akankah manusia menyalahkan uang atas nasib hidupnya..?

Manusia modern membuat semuanya terbalik..
Membenturkan yang padat seolah-olah bisa dicairkan dan mengeraskan yang relatif itu..
Harusnya mengeraskan yang padat dan membenturkan yang relatif sehingga tercipta kreativitas dan keindahan.

Benturan dalam wilayah padat membuat manusia menguasai, benar salah terletak di tangan manusia. Dia yang benar dan manusia yang lain salah, karena ego manusia tidak mau di pihak yang salah.
Coba benturkan ke wilayah relatif, Teknologi contohnya. internet bukankah kreativitas di wilayah relatif..? kita bisa chatting, ngeblog, tukar informasi dan banyak hal lain. Coba diurakan, bukankah itu hanya terdiri dari kabel, gelombang, komputer yang isinya kalo diurai jadi hal-hal yang biasa kita lihat di sekitar.
Benturan di wilayah relatif akan menghidupkan yang mati dalam diri manusia.. akal bekerja menjadi ilmu.

Seperti sebuah lagu, jika surga dan neraka tak pernah ada, apa yang dicari manusia..?
Manusia mencari surga atau mencari cintanya tuhan..?
Kalaupun ada surga dan neraka, apakah manusia akan tetap mengejar surga jika ternyata Tuhan lebih sering di neraka..? *saya tidak menyuruh orang masuk neraka..
Bukankah neraka juga punya tuhan..? manusia ingin surga tapi tidak mau ke neraka.

Cinta, akal,kitab suci dan ilmu akan berkombinasi menempatkan manusia pada satu titik, bersyukur.
Bersyukur karena percaya pada tuhan.

Kalau dikembalikan ke peradaban sebelum kitab suci, apakah orang percaya pada apa yang dia percayai..? Iya
Tidak ada peraturan hidup, tapi percaya. Terlepas yang dia percayai itu benar atau salah, tapi konsep cinta yang akhirnya membuat akalnya percaya pada apa yang dia percayai itu yang harus dilihat.
Ketika sudah ada kitab suci, percaya itu yang tidak dibangun oleh manusia modern dalam arti kehidupan.
Kenapa kita berdebat di wilayah yang jelas sekali padat.

'Jadi tidak boleh membedah kitab suci..?' justru karena manusia punya akal maka kitab suci itu dijadikan ilmu hidup.
kembali lagi ke kalimat awal, percaya.
'Lalu kenapa ada kitab suci kalau kita sudah percaya...?' justru melalui kitab suci akhirnya manusia modern percaya, kalau tidak ada bagaimana kita percaya tuhan, kita bukan nabi.

Satu tidak pernah benar-benar satu artinya, karena manusia modern tidak percaya satu itu satu.
Presiden tidak pernah benar-benar presiden dalam arti presiden sebenarnya, karena presiden tidak percaya, presiden itu presiden dalam hukum hidup. *bingung kan..
Presiden sewaktu-waktu jadi pedagang, jadi pengusaha, jadi tukang kredit, jadi sopir.

Sekali lagi, kita sebagai manusia modern sangat-sangat rewel untuk urusan percaya.

Cinta mengarahkan akal kita untuk percaya pada yang membuat peraturan hidup, menyakini aturan hidupnya dan menggunakan akal kita menjadi ilmu untuk mencari cinta sang pemberi akal.


*huah.. mumet saya nulisnya.
Kadang apa yang dipikir itu ketika jadi sebuah tulisan malah membingungkan.
Semoga bermanfaat, ini hanya artikel, ambil saja yg baik karena ini murni muncul dari pemikiran yang tanpa referensi.
Hanya melihat, mendengar dan memperhatikan dari sekitar..
Besok-besok saya nulis yang ringan2 aja.. mumet saya.. :D


Link Terkait
Akal dan Kitab Suci

Read more...

Gosip Setelah Tebak Gambar

Saturday, July 18, 2009


saatnya melihat ke atas, tidak ada sesuatu yang kebetulan..

'Wah.. Negeri Emprit main petasan..'
'Iya, aku baru turun dari bawah'
'Gimana laporannya..?
'Sejauh ini aku membawa beberapa orang dan lagi menunggu beberapa lagi..'
'Bagaimana isu yang berkembang di bawah..?'
'Kacau, rancu.. simpang siur..teori kemungkinan semua'
'Siapa sih yang buat..? kamu bawa gak orangnya...? aku pengen lihat wajahnya.'
'Jelaslah aku bawa, belum ku interogasi, nunggu laporan si bos.'
'Aku juga nunggu perintah si bos nih, apa aku jadi turun ke bawah..'

Secepat kilat sebelum sempat mengedipkan mata

'Hah, udah turun..?'
'Udah, syukurlah aku jadi banyak kerjaan..'
'Kenapa..?'
'Iya, setelah kejadian banyak orang yang bersatu, tapi sempat lihat konfrensi pers juga sebelum naik'
'Oya, emang menarik konfrensi persnya..?'
'Tidak sih buatku, tapi mungkin menarik buat negeri emprit..'
'Hahahaha, aku tau, telenovela kah...?'
'Buatku iya, tapi jadi membuka banyak kemungkinan teori disana..'
'Pencitraan lagi ya, padahal baru milih gambar, dasar negeri emprit dah di SP ma si bos'
'Salah pilih tebak gambar, percobaan pertama sudah langsung gagal'

'Ngapain dia melebarkan masalah, cukup protokoler ucapan belasungkawa sepertinya dah cukup. Yang pentingkan aksi setelahnya..'
'Mungkin dia pikir dia Ronald Reagan..'
'Ah beneran telenovela deh, apa dia pikir ucapannya tidak memberi efek bola besar buat negeri emprit..'
'Itulah, terlalu penuh gelasnya. Lupa inti kejadian dan imbas setelahnya.'
'lalu gimana reaksi negeri emprit..?'
'Hey, negeri emprit itu tahu cara tersenyum, itu yang aku suka dari negeri emprit.'
'Bagaimana ya, aku juga bingung. Kenapa si bos membiarkan aja ya.. aku sedih juga , aku sebetulnya benci dengan pekerjaan ini..'
'Aku kok jadi optimis setelah ini ya..?'
'Iya, aku juga. Mungkin si bos akan memberi SP sampai beberapa kali lagi, tapi kok aku merasa ini hanya akan menguatkan negeri emprit ya..'
'Bisa aja sih si bos langsung mutus kontrak tu negeri emprit, tapi si bos masih mikir-mikir..'
'Kenapa memang..?'
'Masih banyak cahaya harapan di mata anak-anak kecil di negeri emprit, masih terlalu banyak sandungan buat si bos untuk memutus kontrak negeri emprit..'
'Iya, aku juga lihat kenyataan terbaru, walaupun bungkus negeri emprit sudah karatan dan bau busuk. Dalamnya ternyata masih ada orang-orang yang tau menghargai kontraknya.'
'Lalu gimana nih soal bungkus-bungkus yang sudah bau busuk ini..?'
'Halah, si bos cepat atau lambat pasti beresin. Percaya atau tidak, peristiwa ini menjadi momentum buat negeri emprit untuk memilih..'
'Maksudnya.., menukar bungkus-bungkus itu?'
'Hahahaha, tidak begitu caranya.. ada muncul sebuah komitmen, keintiman dan rasa yang baru di hati orang-orang negeri emprit.'
'Maksudnya momentum pasca petasan itu..?'
'Iya, kalau mereka jeli dan mengerti bagimana peringatan si bos menjadi kekuatan yang baru buat mereka, kekuatan yang sebetulnya dari dulu ada di hati mereka.'
'Apakah kita menunggu..?'
'Tidak, kita sedang melihat proses..'

'KALIAN, MENGGOSIP LAGI..'

'Bos, kenapa skenarionya kayak gitu..?'
'Iya bos, SP-nya kok secepat kilat gitu. Baru aja bernafas sedikit tu negeri emprit..'

'ITU BENTUK CINTAKU PADA MEREKA..'

'Lalu setelah ini, apa akan ada lagi bos..?'

'ADA, TAPI KITA LIHAT NANTI BENTUK CINTANYA SEPERTI APA..'

gambar diambil disini

-untuk hari kemarin dan setelah ini, jangan pernah malu menjadi bangsa ini. Ini bukan kita, memalukan jika ada yang malu menjadi bangsa ini.-

Read more...

[Masihkah] Garuda Di Dadamu

Thursday, June 25, 2009


kita adalah bangsa yang besar.. -Ir.Sukarno-

Tidak main-main memang kesaktian burung yang satu ini.
Bahkan negara kita menjadikannya sebuah simbol, lambang pemersatu bangsa.
Garuda adalah raja dari semua burung, salah satu dewa mitologi hindu.
Ukurannya yang besar dapat menghalangi matahari.

Garuda, yang hakekatnya adalah seekor burung penguasa langit.
Kini terkurung dalam sangkar,sangkar emas atau berduri entahlah.
Garuda, yang dulu begitu gagahnya mengepakkan sayap dan terbang menembus cakrawala kini hanya terpekur di dalam sangkar sambil menunggu makanan dari tuannya.
Garuda, yang akhirnya beranak pinak di dalam sangkar melahirkan anak-anak garuda yang tidak dapat terbang karena sudah hidup nyaman di dalam sangkar.
Lalu generasi-generasi berikutnya lupa bagaimana caranya terbang, karena dia tidak pernah melihat pendahulunya terbang.
Akhirnya sampailah pada generasi sekarang, entahlah generasi yang keberapa dari garuda, yang tidak tahu langit itu seperti apa dan yang lebih parah, tidak tahu kalau dia adalah garuda...!!!

Garuda itu sekarang sudah berubah jadi emprit
Garuda itu sekarang sudah berubah jadi beo
Garuda itu sekarang sudah berubah jadi gagak
Garuda itu sekarang sudah berubah jadi hering

Kita tidak pernah bercermin, karena takut melihat jeleknya rupa kita.
Kita tidak pernah berteriak, karena tidak tahu seperti apa suara kita.
KIta tidak pernah bercita-cita, karena masih nyaman hidup di sangkar.
Kita tidak pernah belajar, karena tidak ingin digurui.

Ketika Sultan Pontianak merancang garuda dan Sukarno menyempurnakan garuda menjadi sebuah lambang negara, yang ada di benaknya adalah semangat garuda dan ideologi pancasila.
Betapa bangganya dulu pahlawan-pahlawan kita menyandang nama garuda.
Kekuatan dan keberanian garuda seakan-akan tercermin dari sikap para pendahulu-pendahulu kita.
Sebagai sebuah bangsa, kita adalah bangsa garuda.

Tapi sayang, semangat itu seakan-akan pudar.
Garuda itu seperti menghilang.
Kita ditinggalkan.
Atau kita yang melupakan.

Garuda pancasila
Akulah pendukungmu
Patriot proklamasi
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju maju
Ayo maju maju
Ayo maju maju


-Garuda Pancasila-

judul postingan terinspirasi dari film yang lagi diputar di bioskop

Read more...

Selamat Datang di Pasar NKRI

Monday, June 22, 2009

orang tahu kalau mencuri itu adalah dosa, tapi mengingatkan dosa untuk seorang pencuri adalah hal yang sangat sulit.

Pasar...
Dalam bahasa sehari-hari artinya adalah tempat ramai, tempat melakukan transaksi jual-beli, baik itu sembako, buah2an, daging, saham dll. Tapi belakangan ini yang marak dibicarakan adalah pasar bebas, bebas sebebas-bebasnya, mau jual-beli apa saja boleh. Jual kambing ya boleh, beli sepatu ya boleh, jual-beli emas ya boleh, jual-beli nama ya boleh, jual beli kehormatan juga boleh, semuanya boleh.
mau cara jual-belinya gmn2 juga sah, cara ustad ya sah, cara preman ya sah, cara penjilat ya sah, cara bunuh2an ya sah, sah dan sah.
mau hukum jual-belinya ikut yang mana juga silakan, ikut hukum barat silakan, timur ya silakan, selatan, utara silakan, hukum rimba juga silakan, bahkan hukum antah- berantah tetap dipersilakan.

Inilah keadaan pasar di negeri kita..
dari yang kecil sampai yang besar ikut meramaikan pasar..
Apalagi sekarang lagi marak2nya kampanye pilpres, semua teriak di pasar..
Sambil transakasi apa saja, yang penting ikut..

Pasar pilpres memang lagi heboh..
Ada sebuah pernyataan di televisi yang membuat penonton sedikit mencibir, khususnya aku. Begini katanya...

'kita sedang berada di saat-saat yang paling menentukan bangsa ini, seperti sebuah pertandingan sepakbola, ibaratnya kita sedang menyaksikan pertandingan final.'

Cie... final katanya, aku mencibir..
Kalo ibarat sepakbola, harusnya ada penyisihannya donk, perdelapanfinal, perempatfinal, semifinal, baru final..
Lha ini, tau-tau udah final aja dan lucunya kontestannya lebih dari dua... ada-ada saja orang-orang di negeri kita kalau soal membuat orang tersenyum.
ok, cukup, kita tidak sedang membahas pilpres, kita sedang ngomongin pasar.. hehehe

Pelaku pasar juga sangat-sangat pintar..
Untuk melariskan dagangannya, isu2 pun dimunculkan, ada yang ngomong neo-liberalismelah, ekonomi kerakyatanlah, kemandirianlah, yang penting gimana dagangan laku.
Yang beli akhirnya bingung, tidak mengerti apa-apa, seperti kerbau yang dicocok hidungnya, ikut saja apa kata pelaku pasar.
Untunglah pembeli di negeri ini adalah orang-orang konsumtif, jadi apa saja yang kemasannya bagus, beli. Mau isinya racun kalau orang yang jual cantik, beli.Asal produknya bisa buat pembeli jadi terkenal,walaupun jual anak istri, tetap beli.

Yang mengelola pasar adalah sebuah PT yang bernama NKRI, dengan hukum dan aturan2 yang sangat rancu dan kabur, yang penting bebas.
Ketika Belanda mengenalkan pasar yang bernama liberalisme melalui tanam paksa di negeri ini, banyak pelaku pasar yang protes, karena Belanda mindahin pasarnya ke luar negeri, tapi pabriknya di negeri ini.
Lalu muncullah Van Deventer dengan pasar etis. Pelaku pasar bersuka cita, apalagi pembeli karena pasar ini sangat merakyat, selalu memberi diskon, bahkan obral sampai 80%.
Akhir-akhir ini muncul lagi pasar yang namanya liberalisme itu, dengan tambahan neo di depannya menjadi neo-liberalisme.
Pelaku pasar meradang, saling tuding kalau si anu adalah penganut paham pasar itu, si anu itu neoliberalisme. fitnah bertebaran di seantero pasar, tidak ada yang terima kalau disebut sebagai penganut pasar tersebut.
Tapi lucu sekali pelaku pasar kita, semua membenci yang namanya pasar neo-liberalisme itu, tapi jelas-jelas semua menganut paham pasar tersebut.

Hingga sekarang pergunjingan itu masih berlangsung, siapa yang benar kita tidak tahu.Dan sadar atau tidak, kita juga termasuk pelaku pasar, pembeli ya kita juga..
Hanya satu yang pasti, semua pasar ini tidak pernah menunjukkan kwitansi pembayaran, tidak pernah ada transparansi dana, pasar seolah-olah tutup mata kalau di pinggir2 pasar itu banyak pengemis yang butuh sedikit kebaikan dari pasar.Di emperan2 banyak anak2 terlantar yang tidak mengerti kalau bapak dan ibunya masuk ke pasar untuk menjual kehormatan keluarganya. Di sudut2 pasar, banyak orang2 yang tidak mampu akhirnya dengan pasrah menjual hasil kerja kerasnya demi sebuah harapan yang bernama pasar, karena hidupnya tergantung pasar..
tidak pernah mensejahterakan kehidupan negeri ini, tidak pakai akhlak, sudah mematerikan manusia dan memperjual-belikan tuhan.

Selama kita tidak mengerti bagaimana caranya berdagang, maka kita tetaplah bangsa yang konsumtif.
Kalau hukum berdagang kita tetap seperti ini, maka mau diganti jadi pasar abrakadabra juga, kondisinya tetap seperti ini.
Tapi anehnya kita menikmatinya...
Pasar NKRI yang tidak pernah sepi..


Read more...

Inilah Politik Nak...

Tuesday, May 19, 2009

Seorang gadis kecil berumur 8 tahun bertanya pada ayahnya...
"Ayah, politik itu apa sih...?"
"Memang kenapa nak..?
"Soalnya, akhir-akhir ini beritanya tentang politik melulu. Aku kan bingung yah.., mang itu apa sih..?"


Si ayah bingung untuk menjawab, tapi yang sebetulnya juga tidak paham arti politik (seperti kebanyakan ayah-ayah yang lain.. hehehe) memutuskan untuk tetap menjaga wibawanya di depan anaknya..
"Begini saja nak, kita ibaratkan politik itu seperti keluarga kita.."
"Ayah itu kepala keluarga, yang nyari duit, berarti yang punya duit.
Kita sebut kapitalisme"
"Ibumu itu yang ngurusin duit dan yang ngurusin kalian.
Kita sebut pemerintah"
"Kamu itu yang kita urusin. Kita sebut kamu rakyat"
"Tu adekmu yang masih bayi. Kita sebut dia masa depan"
"Di rumah kita juga ada bik Ijah sebagai pembantu.
Kita sebut dia kaum pekerja"
"Sampai disini apakah kamu paham nak..?" si ayah bertanya.
"Kalo sampai sini aku ngerti yah, tapi bisakah kita lanjutkan besok, soalnya aku udah ngantuk.."
"Baiklah besok pagi kita lanjutkan, tidurlah ke kamarmu.." si ayah berkata sambil berharap anaknya lupa keesokan harinya.. hehehehe

Tengah malam, si gadis kecil terbangun ketika mendengar suara tangisan adiknya. Dia bingung apa yang harus dia lakukan. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kamar orangtuanya untuk membangunkan ibunya.
"Ibu, bangun... adik nangis tu.."
Yang terdengar hanyalah suara dengkur ibunya. Sampai usaha yang kesekian, ibunya tetap tidak bangun dan akhirnya si gadis kecil pergi meninggalkan kamar orangtuanya.
"lho, ayah kemana...?" dia bingung karena ayahnya tidak ada di kamar.
Akhirnya dia pergi ke kamar bik ijah, tetapi sampai disana pintu kamar bik ijah terkunci..
Si gadis kecil mengintip dari jendela..
"Lho, kenapa ayah ada di kamar bik ijah...?"

Akhirnya si gadis kecil memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya..

Kebenaran bukanlah kenyataan -Dewa 19-

Keesokan paginya, di ruang makan..
"Ayah, aku sudah tau apa itu politik.."
"Apa itu nak...?"
"Ketika rakyat membutuhkan bantuan pemerintah untuk memperbaiki masa depan, pemerintah tidur. Sedangkan kapitalisme sibuk mengerjai kaum pekerja.."
"Hah..."

(dikutip dari Noe Letto ketika seseorang bertanya padanya tentang arti politik di acara maiyah Cak Nun)

17 Mei 2009
Mocopat Syafaat, Kasihan, Bantul.

Asli, pas ini, aku ngakak beneran, kenceng banget..
komedi satir negeri ini.. joke yang sangat cerdas.. :)

Read more...
Sonic Run: Internet Search Engine
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP