Search This Blog

Cpx24.com CPM Program
Showing posts with label oleh-oleh. Show all posts
Showing posts with label oleh-oleh. Show all posts

Lost In Bali -2-

Tuesday, April 6, 2010

Kuhabiskan seminggu lagi di bali, berjalan-jalan menghitamkan kulitku *dan sekarang sudah seperti ular, ganti kulit*
Aku ke pantai, ke Ubud, ke hutan Mangrove dan menikmati Bali yang tetap ramai walau hari kerja sekalipun.

Kebebasan yang ditawarkan Bali ternyata masih jadi daya tarik utama untuk orang-orang, baik dalam negeri maupun luar negeri.
SARA adalah topik yang tidak populer di Bali.
Selain kebebasan, hal yang paling aku senangi di Bali adalah pemeliharaan tradisi, terlepas itu jadi bagian dari agama.
Mereka *orang-orang Bali* begitu menjaga warisan pendahulu mereka di tengah arus modernisasi yang didatangkan oleh turis.

Sebetulnya aku masih ingin berlama-lama di Bali, tapi beberapa hari terakhir cuaca di Bali mulai tidak asyik *hujan terus maksudnya*, ditambah lagi PDIP mau mengadakan kongres disana *gak ada hubungannya*, dan kantong yang semakin kempes *ini baru benar*, hari Sabtu kemarin aku memutuskan meninggalkan Bali.

Berniat langsung ke Yogya, tapi akhirnya aku memutuskan untuk singgah di Malang, menemui kakakku yang habis dilamar anak orang. Bertanya ini-itu tentang keluarga di kampung, bercerita banyak hal dan terhenti di satu pertanyaan..

"kemana kau setelah ini..?" tanya kakakku
Aku berpikir sejenak, menimbang lalu memutuskan
"Pare Kediri, mau mondok belajar bahasa Inggris"


***

PS : - Anak pantai yang bertebaran di Kuta kebanyakan adalah orang Batak, tidak sengaja melihat mereka bermain bola dan semuanya berbahasa batak. :))
- Malang selalu hujan, siang sampai malam.. ah gak asyik.
- Besok rabu ke Pare, rencana sebulan. Ada yang berminat..? :D

Read more...

Menikmati Panggung Kebersamaan

Sunday, March 21, 2010

Aku datang lagi ke acara itu setelah 5 bulan absen.
Suasana yang masih sama, semangat berbagi dan pluralisme yang tetap dinomorsatukan.
Udara yang cukup dingin karena sepanjang sore diguyur hujan tidak membuat surut yang datang.
Aku datang lebih awal, sekitar jam 8 malam. Masih sempat mengisi perut dengan angkringan di depan panggung dan segelas teh hangat sambil melihat-lihat suasana sebelum acara itu dimulai.

Malam itu termasuk spesial, karena Kiai Kanjeng sedang melakukan rekaman langsung di atas panggung untuk lagu-lagu sholawatnya. Pengunjung yang datang akhirnya kecipratan untuk mengisi suara jamaah dan diulang beberapa kali hingga terdengar mantab. *Ternyata untuk mengambil suara saja butuh take berulang-ulang :)*

Cak Nun menyapa pengunjung dengan ramah, sambil menjelaskan rangkaian acara malam itu, tentu tidak lupa dengan sentilan-sentilan khasnya yang membuat suasana langsung meriah.

Pengambilan suara membutuhkan waktu hampir satu jam. Setelah cukup puas, acara maiyah diawali Cak Nun dengan resume-resume yang tejadi belakangan ini, seperti dipanggilnya dia ke MK untuk memberikan pandangannya sebagai ahli tentang UU penodaan agama. Dia bersedia hadir karena permintaan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, sama seperti kedatangannya di Rembang untuk peresmian mesjid, itu karena permintaan Gus Mus.

Saya sekarang mulai memilah-milah permintaan apa saja yang datang pada saya. Bukan saya tidak percaya pada orang atau kelompok yang mengundang saya, tapi saya kehilangan alasan untuk datang. Jika di acara itu ada saudara-saudara saya atau sahabat-sahabat yang saya percayai, maka saya akan datang karena mereka.


Setelah resume Cak Nun lalu disambung oleh resume dari pengurus Kenduri Cinta, kemudian disambung oleh Cak Fuad, yang merupakan penggagas pertama acara Maiyahan ini tahun 1998.
Cak Fuad bercerita tentang konsep perbedaan, sangat menarik.
Bahwa perbedaan itu sesuatu yang harus ada, itulah yang menandakan manusia itu berakal.

Berbeda itu boleh, yang tidak boleh adalah perselisihan karena perbedaan


Yang paling penting kata Cak Fuad adalah bagaimana mencari solusi ketika terjadi perbedaan. Ada yang sepakat untuk satu kata, ada yang sepakat untuk tidak sepakat, itu sah-sah saja asal tidak menjadi permusuhan satu sama lain.

Setelah Cak Fuad menguraikan tentang perbedaan dengan cukup serius *tapi santai*, Cak Nun menanggapi dengan memberi contoh-contoh

"Yang melakukan pengeboman adalah teroris, Muslim bagi orang Barat adalah teroris, Israel bagi muslim adalah teroris, yang ditembak kemarin adalah teroris, lha semuanya teroris."

Cak Nun lalu mengurai

"Teroris diambil dari kata teror, berarti yang melakukan teror disebut teroris.
Tuhan juga memberi kerusakan berupa gempa di Padang dan Cile, apa tuhan juga teroris?, bagaimana kita bisa menyebut seseorang teroris?, adakah hukum atau UU yang mengklasifikasikan bahwa seseorang itu disebut teroris?"

"Itu semua bahasa budaya, bahasa psikologi, bahasa antropologi dan kelemahan yang paling mendasar tentang perbedaan di negara kita adalah bahasa Indonesia. Lihat semua pasal di UU, tidak ada satupun menggunakan bahasa hukum, semuanya bahasa budaya,psikologi dan antropologi. Bagus secara sosial kemasyarakatan tapi lemah untuk menegakkan hukum, hingga bisa dipelintir penguasa"

"saya melaporkan sia anu karena perbuatan tidak menyenangkan, tidak menyenangkan menurut siapa?, adakah ukuran menyenangkan-tidak menyenangkan dalam hukum?, berarti presiden pidato bisa saya laporkan, karena pidatonya tidak menyenangkan menurut saya"

Suasana terasa cair, Cak Nun pintar memainkan ritme. Kapan waktunya serius, kapan waktunya membuat hadirin terbahak-bahak *kebanyakan sih ketawa terus*

Hampir jam 1 malam, Cak Nun dan Kiai Kanjeng pamit mundur karena besok paginya harus sudah ada di Semarang. Acara tetap berlangsung, di panggung sudah ada Kiai Budi dan Sabrang yang lebih dikenal sebagai Noe 'Letto', tercatat juga sebagai anaknya Cak Nun.

Sabrang mengurai tentang fatwa rokok, bahwa ada monopoli kenapa sampai fatwa itu didukung oleh perusahaan rokok terbesar dunia Philip Morris. Standar ganda untuk menjadi penguasa tunggal, begitu pendapat Sabrang tentang fatwa rokok ini.

Setelah Sabrang, acara puncaknya diserahkan kepada Kiai Budi yang sudah jadi langganan tetap Mocopat Syafaat. Kiai pengagum Rumi ini menjelaskan tentang Cinta, konsep pohon yang berbuah, bahwa kita tidak dinilai dari identitas kita tapi kelakuan kita.

Perumpamaan-perumpaan yang dia paparkan cukup membuat suasana malam yang sudah beranjak subuh tetap bergairah, bahasanya yang tinggi, vulgar tapi kocak membuat penonton *khususnya aku* merenung sekaligus tertawa.

Dia juga menjelaskan tentang pandangan fisik, akal, nafsu lalu hati. Sangat menarik.

Ketika kau memandang wanita dengan fisikmu, yang kau lihat hanya onggokan daging berisi tulang, nanah dan darah. Ketika kau melihat wanita dengan pikiranmu, kau akan melihat suka atau tidak suka. Ketika kau melihat wanita dengan nafsumu yang bernama ego, kau akan melihat menang atau kalah.
Lewatilah ketiga tahap itu dan lihatlah wanita dengan hatimu, kau akan melihatNya dalam ciptaanNya


Di acara itu juga tampil teman-teman dari suku Mandar membawakan lagu dengan alat musik tradisional mandar, juga ada puisi rusak-rusakan yang mengocok perut dari Mustofa W. Hasyim dan tentu saja Kiai Kanjeng yang sangat terkenal *di kalangan jamaah maiyah* :D

Malam yang menyenangkan, aku pulang jam 2.30 pagi, tidak sampai tuntas karena aku tidak ikut dengan doa penutupnya. Disamping perjalanan cukup jauh dan udara dingin, aku juga harus bangun pagi untuk sebuah urusan.


Mocopat Syafaat
17-18 Maret,
Taman Tirto, Kasihan, Bantul, DIY



*Ini draft posting udah dari tanggal 18 Maret, baru sekarang buka internet dan publish*

Read more...

Aku Datang Lagi

Tuesday, March 16, 2010

Bicara tentang mimpi, tentang sebuah pelepasan
Kita sepakat, kau menungguku disana
Dan sekarang aku telah datang
Membawa banyak cerita

Mencium lagi bau tanah basah sehabis hujan
Berteman dengan dinginmu, bermain dengan mitosmu
Ini bukan pertemuan kita yang pertama, tapi ini cukup berkesan
Kau bersembunyi di balik kabutmu dan aku telah berdiri di puncakmu

Terimakasih telah menjamuku dengan hujanmu
Terimakasih untuk hadiahmu yang cukup membekas
Biarkan aku meneruskan pelarianku
Semoga kita bertemu lagi, dengan cerita yang lain



Gunung Lawu, 3265 Mdpl
14-15 Maret 2010

Read more...

Kiai Kanjeng, Sebuah Nilai

Saturday, October 31, 2009

Aku masih ingin bercerita tentang acara itu.
Selain budayawan mbeling dan suasana kebersamaan itu, ada satu hal lagi yang selalu membuatku tidak rela melepaskan acara itu.
Sekelompok orang yang selalu bersama budayawan mbeling itu kemanapun dia diundang atau melakukan suatu kegiatan.

Sekumpulan orang yang bisa dibilang tidak muda, walaupun sekarang sudah ada regenerasi, tapi mereka adalah bapak2 kebanyakan yang bersama budayawan mbeling itu menunjukkan indahnya musik tanpa embel2 'genre', Kiai Kanjeng.

Tidak banyak yang tahu Kiai Kanjeng. Kemunculan mereka tidak terlalu menarik untuk dibahas industri 'mainstream'.
Mereka kalah segalanya kalau dalam hitung2an industri musik.
Lagu mereka tidak mengikuti arus, lirikpun tidak populer. Apalagi sudah menyangkut fisik, tampang mereka tidak menjual.

Tapi tidak banyak yang tahu juga, sebelum lagu2 religius bertebaran di pasaran dan menjadi sebuah komoditi dagang industri musik, Kiai Kanjeng sudah melintasi pulau, negara, komunitas, suku bahkan agama untuk mengajak semua orang bergembira, menumbuhkan rasa persatuan dan persaudaraan, melalui musik.

Berawal dari Teater Dinasti di tahun 70an, timbul tenggelam sampai di awal 90an, budayawan mbeling itu bersama Teater Salahuddin membuat sebuah pertunjukan bernama Pak Kanjeng untuk mengkritik penguasa pada masa itu.
Hingga akhirnya lahir Kiai Kanjeng, yang kalau diteruskan akan melahirkan Letto.

Kiai Kanjeng bergerak dengan hatinya, sebuah konsep tentang memanusiakan manusia.
Berjalan di jalan sunyi bersama budayawan mbeling itu tanpa perlu publikasi dan 'ketenaran'.
Kiai Kanjeng merangkul semuanya, tanpa pilih2.

Kiai Kanjeng tidak perlu sebuah panggung megah untuk tampil, atau lampu2 blitz dan tiket seharga setengah juta.
Mereka ada di kelurahan, di acara2 kesenian sampai di altar2 gedung pencakar langit.

Ukuran sukses mereka ada di kegembiraan orang2 kecil menikmati hidup, berbagi bersama korban lumpur Sidoarjo, di museum seni klasik Napoli, di tengah2 perjanjian damai 3 agama di Belanda.

Musik mereka pada dasarnya tradisional, gamelan, rebana, demung tapi mereka juga sangat bagus memainkan gitar, biola, piano, dan perkusi.
Musik mereka memakai bahasa apa saja, Indonesia, Arab, Inggris, China bahkan Ibrani.
Kiai Kanjeng selalu membanggakan Indonesia ketika mereka sedang melawat ke luar negeri tanpa pernah meminta pamrih pada Indonesia atas 'pelayanan' mereka.

Kiai Kanjeng terlalu besar untuk masuk dalam buku musik Indonesia, karena mereka tidak mau diperbudak musik.
Kiai Kanjeng tidak mau musik menjadi awal sebuah jurang antara manusia dengan manusia lain.

Level musik Kiai Kanjeng tidak pop,rock,blues,karawitan,jazz,qasidah atau apapun sebutan untuk musik itu sendiri.
Kiai Kanjeng membuat semua batasan itu menjadi tidak ada. Musik adalah bahasa, media untuk mengakrabkan semua.
Karena memang begitulah seharusnya..

Kami kumpulan manusia-manusia yang lemah, yang takut kehilangan intimitas kemanusiaan, dan rasa takut itu kami bayar dengan keberanian untuk kehilangan yang lain yakni sukses dan kemasyhuran, jabatan dan kekuasaan, karier dan kehebatan. Atau dari sudut lain, kami adalah sekumpulan manusia-manusia yang tak mampu mencapai sukses dan kemasyhuran, jabatan dan kekuasaan, karier dan kehebatan maka kami berusaha jangan sampai kehilangan “yang paling sederhana dari kehidupan” yakni persaudaraan, keluarga dan intimitas kemanusiaan dalam hidup yang amat singkat ini. -Kiai Kanjeng-


"Heh, adikku juga ternyata sering ke acara itu". Seorang teman berbicara padaku melalui telepon, mengatakan kalau adiknya juga rela bolak balik Semarang-Yogyakarta demi acara itu.
"Masak, kok gak pernah ketemu ya.."
"Meneketehe, waktu kutanya, katanya dia pengen liat Kiai Kanjeng. Musiknya magis.."
"Hah, magis..?"
"Iya, katanya... 'mbak, Kiai Kanjeng itu punya magis deh. Dream Theater mah... lewat...'. Dodol bener tu anak, mang bener ya..?"
"Hahahaha, iya kali..."

Read more...

Kebersamaan Tanpa Batas

Tuesday, October 27, 2009

Gerimis membasahi Bantul malam itu. Di halaman sebuah TK sekaligus rumah seorang 'budayawan' yang katanya 'mbeling' digelar sebuah acara maiyah.
Dengan panggung sederhana, nyaris tanpa ada ruang kosong dengan pengunjung dan terpal untuk duduk lesehan, benar2 'membumi'.

Aku yang datang malam itu bersama dengan seorang teman, naik motor. Menyempatkan diri untuk mengisi perut yang memang jatahnya. Jam 9 malam kami sampai ke lokasi.
Tempat yang sama, suasana yang sama, hangat. Bertemu orang2 dari berbagai daerah, kelas sosial, tua muda dan latar belakang yang berbeda.

Sampai di tempat, aku dan temanku mencari tempat duduk lesehan.
Setelah dibuka oleh MC dan kelompok ibu2 pengajian bershalawat, budayawan mbeling itupun naik panggung bersama kelompok musik yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi.

Dia menyapa dengan hangat, diiringi sentilan dan candaannya tentang negeri ini dan doanya kepada sang pencipta.
Setelah itu dia berpuisi, dengan sangat menjiwai, yang judulnya saja aku tidak tahu. Malam itu dia sukses mengawali acara itu dengan tundukan kepala pengunjung *sial, bahkan mataku berair.*

"Saat ini kita berada di puncak ketidaktahuan kita sebagai manusia. Kita tidak mengerti siapa yang kita perjuangkan, kita tidak tahu siapa pemimpin kita. Kita bahkan tidak tahu apa itu artinya sebuah bangsa."

Begitulah kalimat yang kutangkap dari semua gojekan dan sentilannya pada malam itu.
Sudah beberapa bulan ini hal itu sering dia ungkapkan.

Untuk apa kita sekolah, kalau ternyata kita hidup bukan atas keinginan kita. Seperti bidak catur yang bisa dipindah-pindah, kita dikecewakan keadaan. Semuanya jelas, ini negara yang main2, ini demokrasi yang main2 dan saya bersyukur atas keputusan yang main2 ini karena setelah ini akan terbuka semua yang ditutup2i.

Sebuah rasa 'greget' melihat negeri ini, hingga akhirnya dia mengatakan "malam ini kita tidak usah membahas negeri ini, kita bershalawat saja untuk mendekatkan diri pada yang maha adil karena kita hidup bukan untuk main2."

Malam itu terasa sekali aura mendung, tiga tamu yang datangpun semuanya berpuisi.
Hujan sempat turun beberapa saat di tengah malam itu, tapi tidak ada yang beranjak dari tempat itu, kebanyakan hanya melindungi diri dengan tas atau merapatkan jaket.

Acara selesai hampir pukul 3 pagi, diakhiri doa dan pengetahuan yang bertambah.
Mungkin benar, ini memang sebuah acara yang multidimensi.
Bayangkan hampir tujuh jam duduk, tanpa pamrih, tidak membawa kepentingan apapun bahkan tahan tidak ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil.
Aku tidak menemukannya di acara seminar atau forum lain.

Ini bukan acara resmi, aku tidak merasa terikat untuk wajib datang ke acara ini. Bahkan acara ini tidak wajib untuk diadakan, tapi semua orang yang pernah datang ke acara ini akan selalu datang.

Di acara ini aku bisa melihat Gus Dur berbalas ejekan dengan bahasa kebun binatang, atau tawa keras Amin Rais yang begitu kalem. Pengamen nyanyi, monolog seorang Jemek Supardi, Alm.Rendra bercerita masa mudanya sampai bule2 yang begitu asyik bergoyang dangdut. Semua orang bebas menjadi dirinya sendiri.

Ada satu quote yang benar2 selalu dia ulang setiap acara itu

aku tidak mau jadi panutan kalian sebab itu akan membuat kalian fanatik kepadaku. Aku tidak mau berada diantara kalian dan Allah, terlalu berat buatku.


Ah, harusnya ini ditanamkan juga oleh pemimpin kita, tokoh2 masyarakat kita maupun ulama2 kita.

Tidak banyak orang sepertimu, yang dengan ikhlas menyapa ke semua lapisan, sebuah pekerjaan yang jika dihitung secara duniawi, jelas rugi.
Kau orang yang unik, punya kharisma tapi kau begitu dekat, dan kau tidak pelit untuk membagi ilmumu.
Dua tahun, dan aku tidak pernah bosan datang ke acara itu.

Mocopat Syafaat
Kasihan, Bantul, DIY
22 Oktober 2009

Read more...

Keren Bin Kanker

Wednesday, October 7, 2009

Keren nih, mbak ada yang nomor 42 gak..?
Sebentar mas...

****
Wow pas, harganya murah lagi... bungkus...

***
1399000 mas
Hah...ntar dulu deh mbak..*berlalu meninggalkan kasir sambil mikir kenapa 0 nya bisa nambah satu*

**
-kejadian di sebuah mall, dengan pelaku dua curut yang lagi tidak waras-

*
gambar diambil disini

Read more...

Tag Judul Buku

Tuesday, September 15, 2009

Lagi asyik2 blogwalking, mampirlah ke tempat itu *sebetulnya sih sengaja memampirkan diri kesitu*.
Ternyata ada postingan tentang tag buku.
Kebetulan lagi gak ada kerjaan, ya udah aku memberanikan diri *cih.. bahasanya..* :)) untuk ikut mengerjakan PR.

Inilah versiku..

1. Describe yourself : sang pemimpi/andrea hirata (suka mengkhayal)

2. How do you feel : out/Natsuo Kirino (pengen keluar dari sesuatu yang aku sendiri gak tau itu apa..)

3. Describe where you currently live : Negeri bahagia/Dominique Lapierre (yup, bahagia dengan dinamika hidup)

4. If you could go anywhere, where would you go : belok kanan, barcelona/Adhitya Mulya, Ninit Yunita, alaya setya, iman hidajat (bagus aja judulnya, tapi Barcelona kayaknya menggoda juga.. hehehe)

5. Your favorite form of transportation : gone with the wind/Margaret Mitchell (asyik kali, berlalu bersama angin)

6. Your best friend are : bidadari-bidadari surga/tere liye (ada gak ya..? ngayal) :D

7. You and your friends are : The Space Between Us/Thrity Umrigar (haha, yup lagi jaga jarak, pengen sendiri)

8. What's the weather like : snow/orphan phamuk (beku, lebih ke perasaan kayaknya) :)

9. You fear : The Voices of Demon/Lori Schiller & Amanda Bennett (gak bisa bayangin)

10. What is the best advice you have to give : merdeka atau mati/isman suryaman (artiin aja secara luas)

11. Thought for the day : thank you for smoking/christopher buckley (hahaha, no comment)

12. How would I like to die : Di Atas Sajadah Cinta/ Habibburrahman El Shirazy (cuma kepikiran ini..)

13. My soul's present condition : into the wild/ Jon Krakauer (pengen ke gunung, nyari inspirasi)


Udah habis tho...?
Yo weslah, segitu aja...

Sedikit banget ni postingan, dasar gak niat.. :))
Mari sahur... :D

Read more...

Ewot, Puisi Dan Kereta Terakhir

Thursday, August 13, 2009

Dapat ewot lagi nih..
Dari blog yang baru kutahu ternyata orang jogja.
*Ya ampun mbok kalo masih satu kota gitu kan diantar sendiri ra po2 tho mbak.. hehehe

Makasih buat mbak Tisti Rabbani buat ewotnya. *iki daun opo lope2 tho mbak.. :)

Sekali lagi, dan berkali-kali lagi.
Ewotnya pasti mentok disini, jadi kalau mau silakan pas mampir disini sekalian bawa pulang.

Baiklah, karena aku tidak begitu bagus bernyanyi dan aku tidak tahu mau ngasih apa buat mbak Tisti, maka lebih memungkinkan kalau aku meracau tidak jelas.. hehehe
Sebuah puisi, dari hasil merenung di genteng... *kamar mandi selalu penuh.. :)


Untukmu yang berbahasa kalbu
Aku hanya ingin bicara tentang hati
Sebuah cerita tentang diriku
Seperti biasanya

Untukmu sang pemilik cinta
Kata-kata adalah doa
Pelajaran pertama tentang hidup adalah mati
Seperti melihat matahari

Untukmu teman sehati
Datang dan pergi adalah hidup
Berjalan dengan alur yang berirama
Seperti roda kehidupan

Untukmu penulis garis tangan
Masa lalu adalah kenangan
Masa depan adalah bayangan
Seperti aku yang berdiri d masa sekarang


Tidak terlalu buruk bukan.. :D
*Kalo ada yang bilang jelek, selamat anda mengerti puisi, aku aja yang nulis ndak ngerti.. hahaha

Sukses buat KBO3..
Dan selamat berpuasa buat saudara2ku yang muslim.
Mau ngejar kereta masa depan dulu, sudah mepet..
Pas gubuk reot ini ditinggal, tolong dilihatin ya, siapa tau ada yang mau nyolong atau nyampah.. hehehe

Akhir kata 'jangan tanya kemana aku pergi, tanya kapan aku kembali..'
hahaha.. narsis dotcom.

Read more...

Karena Dia Ada

Monday, August 10, 2009

leave nothing but footprints
take nothing but picture
kill nothing but time

Sekitar pertengahan 2005, ketika nongkrong dengan teman2 SMA yang sama2 mengadu nasib di kota pelajar.
Seorang teman bercerita tentang merapi, dan reaksi alami anak muda waktu itu adalah mencoba.

Berlima, tanpa pengalaman sama sekali, hanya bermodal nekad dan cerita dari seorang teman yang baru mendapat cerita dari temannya tentang merapi.
Berangkatlah lima orang sok jagoan untuk mendaki merapi, tanpa persiapan yang matang dan logistik yang memadai.
Yang paling banyak dibawa adalah rokok dan air api.
Dan terbukti, lima orang sok jagoan sudah kehabisan bekal di tengah2 perjalanan, hanya tekad yang masih ada.
Berkat bantuan tuhan, ternyata lima orang sok jagoan itu berhasil ke puncak.
Tertawa puas di puncak garuda..
Merapi, agustus 2005 *ketika itu puncak garuda masih utuh, belum hancur kena gempa.

it's not the mountain we conquer, but ourselves - Sir Edmund Hillary

Ketika sedang ngumpul di kampus, teman2 merencanakan untuk mendaki merapi, merayakan kemerdekaan di atas sana.
Teman2 mengajak, aku bergeming.
Dua tahun sudah lewat, cerita tentang merapi bahkan sudah terlupakan.
Sedikitpun sudah tidak ada niat naik gunung lagi, cukup sekali.
Seorang teman berkata 'lihatlah gunung itu kawan, setiap hari kita lihat dari bawah sini. Apa kau tidak ingin melihat apa yang dilihat oleh gunung itu.'

Degghhh....










Dan inilah aku, yang kembali lagi ke merapi dengan persiapan yang lebih baik.
Kembali tertawa puas di puncak garuda.
Merapi 17 agustus 2007 *puncak garuda sudah berubah, terkena gempa tahun 2006.

Setahun lewat, merapi membuatku jadi sangat betah untuk kembali lagi mendaki gunung. Ada sesuatu yang menarikku untuk kembali naik.
Dari Merbabu sampai Sindoro, Dari lawu sampai Gede-Pangrango, kunaiki hanya untuk sebuah kenikmatan.
Melihat edelweis tumbuh, bunga abadi yang sayangnya banyak dipaksa pindah tempat oleh orang2 yang merasa bunga itu lebih pantas di rumah pacarnya.
Gunung menjadi candu, selalu membawa cerita hidup.

Teman2 mengajak naik gunung lagi, tapi bukan merapi.
Gunung yang berbeda, lebih tinggi dan lebih jauh lokasinya.
Tanpa berpikir, langsung ikut.
perjalanan hampir 10 jam naik motor melewati banyak kota dan berbagai kejadian selama perjalanan.


Kembali lagi aku ke puncak, gunung tertinggi di jawa tengah dan kedua di jawa.
Menyenangkan ketika kau berdiri di puncak dan awan ada di bawahmu, memandang keajaiban tuhan.
Merayakan kemerdekaan di atas sana.

*ada cerita seru ketika perjalan pulang, dari 7 motor yang ikut pulang, semuanya kena musibah. Enam motor bocor ban dan satu motor jatuh terselip di lubang, untung tidak apa2. Motor terakhir yg kena musibah kebetulan aku yang bawa. Sedang menunggu tambal ban, seorang teman nyeletuk.. 'mungkin kita lupa berdoa kali pas kita pulang, ayo kita berdoa dulu.' Dan percaya atau tidak, setelah itu semua mulus sampai tujuan pulang.
Slamet, 17 agustus 2008

Baru saja aku kembali dari gunung gede awal juni lalu.
Seorang teman bilang.. '17 belasan di semeru gimana..? mau..?'
Seperti sebuah iklan provider kartu hp.

Menggoda.. jelas sangat menggoda.
Bagaimanapun, semeru sebuah mistis buatku.
Setiap orang yang pernah naik dan bercerita tentang semeru selalu membuatku cemburu.
Aku ingin melihat memorial Soe Hok Gie dan Idhan Lubis, menulis di atas danau Ranu Kumbolo, melewati Tanjakan Cinta dan berfoto dengan latar letusan Mahameru.

Tapi sayang, kali ini aku harus berkata tidak.
Aku harus berlomba dengan kenyataan.
Masa depanku sudah lama kuabaikan, dan ini harus diprioritaskan.

Semeru, mungkin tidak sekarang aku datang.
Tapi pasti aku akan datang, tertawa puas di puncak mahameru.
agustus 2009.


Mendaki melintas bukit
Berjalan letih menahan menahan berat beban
Bertahan didalam dingin
Berselimut kabut Ranu Kumbolo

Menatap jalan setapak
Bertanya-tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda

Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Masihkah terbersit asa
Anak cucuku mencumbui pasirnya
Disana nyalimu teruji
Oleh ganas cengkraman hutan rimba

Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sampaikan sejuk embun hati
Mahameru basahi jiwaku yang kering
Mahameru sadarkan angkuhnya manusia
Puncak abadi para dewa

Mahameru-Dewa 19

Read more...

Aku Ingin Berpuisi

Tuesday, August 4, 2009

Aku ingin bernyanyi, tapi tidak usahlah.
Nanti kedengaran tetangga sebelah, malu. Sebetulnya sadar diri, cukuplah pita suara ini kugunakan untuk mengeluarkan ocehan2 yang tidak penting, kalau sampai ditambah bernyanyi, dimana lagi harga diriku.
Cukup.. cukuplah dinding kamar mandi yang menjadi saksi bisu seperti apa parahnya suaraku bernyanyi.

Dari blog yang isi postingannya kebanyakan tentang rumah tangga atau percintaan, cinta vertikal dan cinta horizontal.
Ada yang memberiku ewot,si teteh Latifah Hizboel a.k.a ateh75.
Ewot titipan yang kembali dititipkan.
Mungkin untuk menyuruhku cuap2 kali, seperti penyiar radio gitu. :)

Lalu ada lagi, yang ini porsi dobel.
Si mbak ini yang paling sering update soal nulis blog, sang cerpenis yang punya rasa kalau soal menulis.

Jangan liat dari luarnya. Memang banyak bintik2 hitam di sekujur tubuhnya, tapi cobalah bersabar dan mulai menggigitnya, asem pastinya tapi habis itu..
kau akan mencoba untuk menggigitnya lagi, seperti aku yang sedang mencoba menggigit sisa2 roti dan permennya.











Oya, ada satu lagi yang memberiku ewot.
Ewot titipan hasil barteran..
Mengingatkan kita untuk memelihara buku dan menyuruhku rajin membaca kali.. :)
Tanpa berdosa tu ewot aku comot dari rumahnya si mbak itu, dan nangkring di blogku tanpa ada postingan atau paling gak woro2 kata orang jawa.
Mungkin karena jendelanya terbuka terus ya.. :D

Buat si teteh, mbak fanny dan mbak sinta.
terimakasih..

Dan aku tidak tahu ini mau diapakan, selalu begitu.
Ada yang mau...? ambillah, toh ada atau tanpa ewot pada dasarnya kita tetap saudara.
Tulisan yang menyambungkan kita..

Kalau begitu biarlah aku berpuisi, sebagai ucapan terima kasih.
Sebentar..

Untukmu yang berbahasa kalbu.
Aku hanya ingin bi....

'woooiiii, lama banget di kamar mandi. gantian su...'

Arrghh, maafkan aku, nanti puisinya disambung.
kamar mandinya mau dipakai anak kos.. :)

Read more...

Pemuda Dan Penjaga Hujan

Saturday, August 1, 2009

Terlihat lelah, tapi segaris senyum masih sempat tersungging di bibir keriput, seorang manusia lanjut yang masih gagah menantang hidup.
Senja sore ini kelihatan indah sekali, seindah hati laki-laki tua yang merasa dirinya masih berguna untuk orang lain.

Menyeruput es degan, ah segar sekali.

Memandang pepohonan yang anginnya mulai usil mempermainkan dahan si pohon. Sore ini anginnya sedang sentimen, gumamnya dalam hati.

Indahnya hidup di negeri ini, selalu ada cerita di sudut-sudut.
Laki-laki tua teringat masa mudanya, sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuknya keramaian.
Bermain di kali, mengejar burung atau menikmati suara azan yang terdengar dari surau kampung.

Ketika sedang asyik mengenang, tanpa sadar si lelaki tua merasa ditemani.
Seorang anak muda, dengan pakaian necis habis dari loundry, duduk disampingnya, memesan es degan.

Menunggu..
Sepertinya lama, si penjual masih sibuk dengan urusan lain.

Adek dari mana..? si lelaki tua tersenyum menyapa.

Habis lihat pernikahan sodara. Si pemuda tersenyum, sambil mengeluarkan hp, mencoba menghubungi seseorang.

Telepon tersambung, si lelaki tua meneruskan acara minum es nya.
Si pemuda mengumpat, kesal dengan orang yang diteleponnya.

Apaan mereka minta nambah, gak ada itu, kan tadi udah deal segitu, malas saya kalo udah urusan kayak gini. Si pemuda menutup teleponnya.
Rupanya si pemuda kesal dengan pembayaran katering di pernikahan saudaranya.
Menunggu es degan, haus..

Orang-orang negeri ini pada pintar-pintar ngibulin orang ya pak, kesal saya. Pemuda itu mengomel.

Lelaki tua tersenyum.

Kebanyakan korupsi di negeri ini pak, saya baru pulang setelah 6 tahun di London, itu juga karena saudara saya nikah. Kalo gak, beuh.. boro-boro saya mau pulang kesini. Si pemuda nyerocos, mulai habis kesabaran. Sepertinya si pemuda butuh pelampiasan.
Si penjual masih menyiapkan pisau untuk memotong kelapa.

Kreatif itu dek, usaha. Lelaki tua tertawa.

Negeri ini negeri orang pintar dek, apa aja bisa dilakonin.
lihat itu tukang es degan, ndak ada adek temuin di luar negeri orang motong kelapa sambil sms-an. Itu kalau bukan orang pintar gak bisa dek. Lelaki tua terkekeh..

Ah bapak bisa aja. Pemuda itu tersenyum, lalu memperhatikan si penjual memotong kelapa.

Orang-orang disini itu kerja apa saja bisa dek.. tuyul aja bisa disuruh kerja, mau ngepet juga ada dek, ndak usah heran. Lelaki tua tertawa lebih lebar.

Saya gak percaya yang gituan pak, gak masuk akal. Di luar, orang berpikir pake logika pak, makanya negeri ini gak maju-maju. Kata si pemuda sambil melirik sang penjual, haus.

Makanya ndak usah pusing mikirin orang di negeri ini, tuhan aja bisa diajak kompromi, susah kalo pake logika. Lelaki tua tersenyum, teringat doa-doanya sewaktu masih bandel.
'ya Allah, aku memang tidak pantas ke surgamu, tapi jelas aku tidak sanggup kalo masuk nerakamu'.

Pemuda tertawa, bukan membenarkan. Hanya mengukur, ternyata tidak sesuai.

Terdiam, waktu terus berjalan
Ada jeda setelah datangnya es degan dari si penjual yang kata si lelaki tua itu kreatif.
Matahari tertutup awan, mendung.

Ngomong-ngomong bapak kerjanya apa..? si pemuda tiba-tiba bertanya

Terkejut, lalu tersenyum. lelaki tua menoleh sambil menyalakan rokoknya..
saya kerja serabutan dek, ya apa aja yang bisa dikerjakan ya dikerjakan.

Ndak bisa dibandingin sama di luar negeri dek. lelaki tua menebak pikiran si pemuda.
Dan bukan saya aja dek yang kerja serabutan, hampir semua orang di negeri ini ya kerjanya serabutan.Lelaki tua tertawa.

Lho ada gitu ya pak.. si pemuda tersenyum. Senyum heran.

Kadang saya jualan, kadang saya jadi penulis, kalo ada kerja membangun ya saya ikut jadi kuli. Kalau ada yang berantem ya saya jadi hakim, Kalau ada apa-apa ya saya jadi apa-apa dek.
Si lelaki tua tertawa lebar, menghisap rokoknya lalu tertawa lagi.

Si pemuda tertawa, mulai nyambung logikanya.

Bapak habis dari mana tadi..? si pemuda bertanya, mungkin melihat raut lelah di wajah lelaki tua.

Oh.. saya tadi habis kerja di gedung pemuda, bantuin orang nikah.. kata si lelaki tua.

Loh.. di gedung pemuda ya.. saya juga dari sana pak, sodara saya nikah disitu. Si pemuda kaget, tidak menyangka kebetulan ini.

bantuin apa pak..? si pemuda bertanya lagi.
Es degan sudah habis. penjual es sedang menelepon dari hpnya. jadi makelar dia sekarang.

Bantuin buat melancarkan pernikahannya. si lelaki tua membuang rokoknya.

Emang lancar kok pak, trus bapak di bagian mana tadi..? kok saya gak liat.
Dari katering sampai bagian dokumentasi saya yang urus. pikir si pemuda

Lelaki tua tersenyum, langit semakin gelap. Lihatlah, angin mulai berontak..

Saya yang jagain hujan.


Hah..
Si pemuda sukses terdiam, bengong lebih tepatnya.
Logikanya belum sampai kesitu..

Lelaki tua tersenyum, Begitulah negeri ini.
Saya duluan dek, sebentar lagi mau hujan.

Ditulis untuk Creative Theme Day#3: 100% Indonesia Kreatif!
Creative Theme Day

Read more...

Tebak Gambar Berhadiah Awot

Wednesday, July 8, 2009

Sudahkah anda menebak gambar yang berhadiah itu...?
Saya sudah, dan syukurlah saya tidak golput..
Terlepas saya beruntung atau tidak, biarlah, itu tidak menjadi urusan saya.. :D
Daripada saya pusing2 memikirkan gambar, mending saya posting gambar yang lebih menyejukkan dihati.. :)



Liat gambar diatas..? Itu sebuah penghargaan dari seorang teman yang menyatakan ini sebagai kado perkenalan.. terima kasih mbak fanda


















Terima kasih buat mas mahendra karena saya juga dikasih award..

Saya tidak tahu ini award mau diapain..
Terlepas dari semua tetek bengek tentang award ini, saya menangkap esensi dari ini semua.

'siapapun kita dan dimanapun kita berada, kita tetap saudara'


Buat yang berminat, silakan bawa pulang.
Hitung2 sebagai hadiah setelah mencontreng.. hahaha

Read more...
Sonic Run: Internet Search Engine
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP