Search This Blog

Cpx24.com CPM Program
Showing posts with label Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Indonesia. Show all posts

Hope

Thursday, November 11, 2010

Kenapa Indonesia gak maju2, kenapa Indonesia gak berubah2, kenapa Indonesia begini.. begitu.. | Karena lo banyakan nanya, dan gak ngelakuin sesuatu.

Scene 1 'Majority'.
Secara garis besar dalam scene ini adalah testimonial 2 orang dari 2 partai berbeda, Golkar dan PKS
Si bapak 'Golkar', menyatakan bahwa hidup sebelum reformasi lebih enak, memang utang kita banyak tapi hasilnya terlihat dari pembangunan kita.
Si Anak muda 'PKS', menyatakan sudah waktunya ada reformasi, 32 tahun dan hasilnya kita tetap bodoh.
Satu yang mereka sepakat, mereka membela partainya sampai mati.

Scene 2 'Minority'
Scene ini adalah refleksi minoritas yang ternyata memberi nama yang harum buat bangsa ini.
Bagaimana perjuangan barongsai pimpinan Kong Ha Hong untuk membawa barongsai jadi sebuah hiburan,olahraga,kesenian yang diterima masyarakat Indonesia.
Berat pastinya, seberat anggapan masyarakat ketika melihat masyarakat minoritas di negara ini. Tapi tidak butuh waktu lama, setelah diterima di negara ini, barongsai pimpinannya menjadi juara dunia. membawa nama Indonesia.

Scene 3 'To Die For'
Klimaks film ini ada disini, Panji dan Otonk 'Koil' silih berganti memberi testimoni tentang 'hope'
Panji yang 'jujur' bercerita tentang lagu 'kami tidak takut', pesannya ketika berada di Tangkuban perahu, menikmati keindahan negeri ini di beberapa tempat di Indonesia.
Sedangkan Otonk 'satir' bercerita tentang ketidakpeduliannya terhadap negeri ini, harapannya ke depan buat bangsa ini walaupun dalam bahasa yang bias.
Diselingi beberapa adegan seperti kerusuhan 98, priok, di gedung DPR, serta testimoni dari beberapa orang.

Pesan film ini simpel
Jangan tanya apa yang udah negara ini lakuin buat lo, tanya apa yang udah lo lakuin buat negara ini

******************************

Saya menikmati sekali film ini, walaupun di awal-awal terasa membingungkan buat saya, ini film apa?
Tapi karena ekspektasi saya hanya ingin menonton, dan juga sudah dikatakan kalau ini adalah film dokumenter, maka saya benar-benar jadi penonton. Membuat diri saya santai, terserah alur film ini membawa saya kemana tanpa interupsi dari pikiran saya.

Ada 2 jenis anak muda di dunia
yang menuntut perubahan & yang menciptakan perubahan.


Sudah sering kita dengar, kita lihat, betapa putus asanya kita terhadap negara ini.
Setiap pemilu kita selalu salah pilih, betapa kecewanya kita sebagai anak bangsa dengan pemimpin-pemimpin kita.
Selalu, jalan yang kita pilih adalah mengeluh, menyoraki, mencemooh, mencaci-maki menuntut perubahan.
Padahal banyak jalan untuk lebih baik. Tidak sedikit orang pintar di negeri ini, begitu banyak orang terampil bertebaran di sudut-sudut yang tak terjamah eksistensi.
Yang kurang adalah pemimpin, pemimpin di setiap apapun dan juga mental dijajah serta mental premanisme.
Ditambah media yang mecekoki dengan slogan 'bad news is a good news', membunuh karakter kita secara perlahan.

Menyedihkan jika melihat demo, massanya hanya 10-15 orang meneriakkan sesuatu, mengibarkan bendera-bendera organisasi yang lebih besar dari pesan yang dibawa. Siapa yang mau dengar.
Benar kita memang bangsa yang terlanjur, yang sekarang cerminan negara kita adalah 'taklid'. Mengikuti sesuatu tanpa tahu apa yang kita ikuti.
Benar kita memang bangsa yang lupa, karena tuanya umur kita hingga apa-apa di negeri ini bisa dimaafkan.
Benar kita memang bangsa yang besar, saking besarnya kita bahkan tidak sadar kalau pulau di negeri tidak cuma satu.
Tapi kita bukan bangsa yang kebablasan, 'Hope' menyentil sisi nasionalisme kita bahwa 'Sumpah pemuda aja bisa ngumpulin pemuda seluruh Indonesia tanpa internet, lalu kenapa kita gak satu visi melakukan sesuatu agar negeri ini jadi lebih baik'.

Melalui film ini kita diajak bergerak, tidak perlu muluk-muluk untuk revolusi, tapi paling tidak lakukan apa yang bisa kamu lakukan. Bicara saja tidak akan menyelesaikan apapun.
Kamu taat pajak, buang sampah pada tempatnya, hemat listrik & air, banyak hal yang bisa dilakukan, jadi berhenti menyalahkan negeri ini

'Yang gw tau hanya nulis dan nyanyi, makanya gw nyebarin lewat lagu atau tulisan' -Panji-

Ini titipan, titipan masa lalu untuk kita dan paling tidak kita punya tanggung jawab moral untuk menitipkannya ke generasi setelah kita.
Para pahlawan saja membuat kita satu dengan darah dan airmata agar kita hidup enak sekarang, tanpa pernah mencicipi nikmatnya yang namanya kemerdekaan. Masa kita cuma jadi sang pencerca ?
Mengutip kata Sabrang, 'Indonesia sekarang bukan lagi merdeka atau mati, tapi berubah atau punah'

Read more...

Menikmati Panggung Kebersamaan

Sunday, March 21, 2010

Aku datang lagi ke acara itu setelah 5 bulan absen.
Suasana yang masih sama, semangat berbagi dan pluralisme yang tetap dinomorsatukan.
Udara yang cukup dingin karena sepanjang sore diguyur hujan tidak membuat surut yang datang.
Aku datang lebih awal, sekitar jam 8 malam. Masih sempat mengisi perut dengan angkringan di depan panggung dan segelas teh hangat sambil melihat-lihat suasana sebelum acara itu dimulai.

Malam itu termasuk spesial, karena Kiai Kanjeng sedang melakukan rekaman langsung di atas panggung untuk lagu-lagu sholawatnya. Pengunjung yang datang akhirnya kecipratan untuk mengisi suara jamaah dan diulang beberapa kali hingga terdengar mantab. *Ternyata untuk mengambil suara saja butuh take berulang-ulang :)*

Cak Nun menyapa pengunjung dengan ramah, sambil menjelaskan rangkaian acara malam itu, tentu tidak lupa dengan sentilan-sentilan khasnya yang membuat suasana langsung meriah.

Pengambilan suara membutuhkan waktu hampir satu jam. Setelah cukup puas, acara maiyah diawali Cak Nun dengan resume-resume yang tejadi belakangan ini, seperti dipanggilnya dia ke MK untuk memberikan pandangannya sebagai ahli tentang UU penodaan agama. Dia bersedia hadir karena permintaan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, sama seperti kedatangannya di Rembang untuk peresmian mesjid, itu karena permintaan Gus Mus.

Saya sekarang mulai memilah-milah permintaan apa saja yang datang pada saya. Bukan saya tidak percaya pada orang atau kelompok yang mengundang saya, tapi saya kehilangan alasan untuk datang. Jika di acara itu ada saudara-saudara saya atau sahabat-sahabat yang saya percayai, maka saya akan datang karena mereka.


Setelah resume Cak Nun lalu disambung oleh resume dari pengurus Kenduri Cinta, kemudian disambung oleh Cak Fuad, yang merupakan penggagas pertama acara Maiyahan ini tahun 1998.
Cak Fuad bercerita tentang konsep perbedaan, sangat menarik.
Bahwa perbedaan itu sesuatu yang harus ada, itulah yang menandakan manusia itu berakal.

Berbeda itu boleh, yang tidak boleh adalah perselisihan karena perbedaan


Yang paling penting kata Cak Fuad adalah bagaimana mencari solusi ketika terjadi perbedaan. Ada yang sepakat untuk satu kata, ada yang sepakat untuk tidak sepakat, itu sah-sah saja asal tidak menjadi permusuhan satu sama lain.

Setelah Cak Fuad menguraikan tentang perbedaan dengan cukup serius *tapi santai*, Cak Nun menanggapi dengan memberi contoh-contoh

"Yang melakukan pengeboman adalah teroris, Muslim bagi orang Barat adalah teroris, Israel bagi muslim adalah teroris, yang ditembak kemarin adalah teroris, lha semuanya teroris."

Cak Nun lalu mengurai

"Teroris diambil dari kata teror, berarti yang melakukan teror disebut teroris.
Tuhan juga memberi kerusakan berupa gempa di Padang dan Cile, apa tuhan juga teroris?, bagaimana kita bisa menyebut seseorang teroris?, adakah hukum atau UU yang mengklasifikasikan bahwa seseorang itu disebut teroris?"

"Itu semua bahasa budaya, bahasa psikologi, bahasa antropologi dan kelemahan yang paling mendasar tentang perbedaan di negara kita adalah bahasa Indonesia. Lihat semua pasal di UU, tidak ada satupun menggunakan bahasa hukum, semuanya bahasa budaya,psikologi dan antropologi. Bagus secara sosial kemasyarakatan tapi lemah untuk menegakkan hukum, hingga bisa dipelintir penguasa"

"saya melaporkan sia anu karena perbuatan tidak menyenangkan, tidak menyenangkan menurut siapa?, adakah ukuran menyenangkan-tidak menyenangkan dalam hukum?, berarti presiden pidato bisa saya laporkan, karena pidatonya tidak menyenangkan menurut saya"

Suasana terasa cair, Cak Nun pintar memainkan ritme. Kapan waktunya serius, kapan waktunya membuat hadirin terbahak-bahak *kebanyakan sih ketawa terus*

Hampir jam 1 malam, Cak Nun dan Kiai Kanjeng pamit mundur karena besok paginya harus sudah ada di Semarang. Acara tetap berlangsung, di panggung sudah ada Kiai Budi dan Sabrang yang lebih dikenal sebagai Noe 'Letto', tercatat juga sebagai anaknya Cak Nun.

Sabrang mengurai tentang fatwa rokok, bahwa ada monopoli kenapa sampai fatwa itu didukung oleh perusahaan rokok terbesar dunia Philip Morris. Standar ganda untuk menjadi penguasa tunggal, begitu pendapat Sabrang tentang fatwa rokok ini.

Setelah Sabrang, acara puncaknya diserahkan kepada Kiai Budi yang sudah jadi langganan tetap Mocopat Syafaat. Kiai pengagum Rumi ini menjelaskan tentang Cinta, konsep pohon yang berbuah, bahwa kita tidak dinilai dari identitas kita tapi kelakuan kita.

Perumpamaan-perumpaan yang dia paparkan cukup membuat suasana malam yang sudah beranjak subuh tetap bergairah, bahasanya yang tinggi, vulgar tapi kocak membuat penonton *khususnya aku* merenung sekaligus tertawa.

Dia juga menjelaskan tentang pandangan fisik, akal, nafsu lalu hati. Sangat menarik.

Ketika kau memandang wanita dengan fisikmu, yang kau lihat hanya onggokan daging berisi tulang, nanah dan darah. Ketika kau melihat wanita dengan pikiranmu, kau akan melihat suka atau tidak suka. Ketika kau melihat wanita dengan nafsumu yang bernama ego, kau akan melihat menang atau kalah.
Lewatilah ketiga tahap itu dan lihatlah wanita dengan hatimu, kau akan melihatNya dalam ciptaanNya


Di acara itu juga tampil teman-teman dari suku Mandar membawakan lagu dengan alat musik tradisional mandar, juga ada puisi rusak-rusakan yang mengocok perut dari Mustofa W. Hasyim dan tentu saja Kiai Kanjeng yang sangat terkenal *di kalangan jamaah maiyah* :D

Malam yang menyenangkan, aku pulang jam 2.30 pagi, tidak sampai tuntas karena aku tidak ikut dengan doa penutupnya. Disamping perjalanan cukup jauh dan udara dingin, aku juga harus bangun pagi untuk sebuah urusan.


Mocopat Syafaat
17-18 Maret,
Taman Tirto, Kasihan, Bantul, DIY



*Ini draft posting udah dari tanggal 18 Maret, baru sekarang buka internet dan publish*

Read more...

Kiai Kanjeng, Sebuah Nilai

Saturday, October 31, 2009

Aku masih ingin bercerita tentang acara itu.
Selain budayawan mbeling dan suasana kebersamaan itu, ada satu hal lagi yang selalu membuatku tidak rela melepaskan acara itu.
Sekelompok orang yang selalu bersama budayawan mbeling itu kemanapun dia diundang atau melakukan suatu kegiatan.

Sekumpulan orang yang bisa dibilang tidak muda, walaupun sekarang sudah ada regenerasi, tapi mereka adalah bapak2 kebanyakan yang bersama budayawan mbeling itu menunjukkan indahnya musik tanpa embel2 'genre', Kiai Kanjeng.

Tidak banyak yang tahu Kiai Kanjeng. Kemunculan mereka tidak terlalu menarik untuk dibahas industri 'mainstream'.
Mereka kalah segalanya kalau dalam hitung2an industri musik.
Lagu mereka tidak mengikuti arus, lirikpun tidak populer. Apalagi sudah menyangkut fisik, tampang mereka tidak menjual.

Tapi tidak banyak yang tahu juga, sebelum lagu2 religius bertebaran di pasaran dan menjadi sebuah komoditi dagang industri musik, Kiai Kanjeng sudah melintasi pulau, negara, komunitas, suku bahkan agama untuk mengajak semua orang bergembira, menumbuhkan rasa persatuan dan persaudaraan, melalui musik.

Berawal dari Teater Dinasti di tahun 70an, timbul tenggelam sampai di awal 90an, budayawan mbeling itu bersama Teater Salahuddin membuat sebuah pertunjukan bernama Pak Kanjeng untuk mengkritik penguasa pada masa itu.
Hingga akhirnya lahir Kiai Kanjeng, yang kalau diteruskan akan melahirkan Letto.

Kiai Kanjeng bergerak dengan hatinya, sebuah konsep tentang memanusiakan manusia.
Berjalan di jalan sunyi bersama budayawan mbeling itu tanpa perlu publikasi dan 'ketenaran'.
Kiai Kanjeng merangkul semuanya, tanpa pilih2.

Kiai Kanjeng tidak perlu sebuah panggung megah untuk tampil, atau lampu2 blitz dan tiket seharga setengah juta.
Mereka ada di kelurahan, di acara2 kesenian sampai di altar2 gedung pencakar langit.

Ukuran sukses mereka ada di kegembiraan orang2 kecil menikmati hidup, berbagi bersama korban lumpur Sidoarjo, di museum seni klasik Napoli, di tengah2 perjanjian damai 3 agama di Belanda.

Musik mereka pada dasarnya tradisional, gamelan, rebana, demung tapi mereka juga sangat bagus memainkan gitar, biola, piano, dan perkusi.
Musik mereka memakai bahasa apa saja, Indonesia, Arab, Inggris, China bahkan Ibrani.
Kiai Kanjeng selalu membanggakan Indonesia ketika mereka sedang melawat ke luar negeri tanpa pernah meminta pamrih pada Indonesia atas 'pelayanan' mereka.

Kiai Kanjeng terlalu besar untuk masuk dalam buku musik Indonesia, karena mereka tidak mau diperbudak musik.
Kiai Kanjeng tidak mau musik menjadi awal sebuah jurang antara manusia dengan manusia lain.

Level musik Kiai Kanjeng tidak pop,rock,blues,karawitan,jazz,qasidah atau apapun sebutan untuk musik itu sendiri.
Kiai Kanjeng membuat semua batasan itu menjadi tidak ada. Musik adalah bahasa, media untuk mengakrabkan semua.
Karena memang begitulah seharusnya..

Kami kumpulan manusia-manusia yang lemah, yang takut kehilangan intimitas kemanusiaan, dan rasa takut itu kami bayar dengan keberanian untuk kehilangan yang lain yakni sukses dan kemasyhuran, jabatan dan kekuasaan, karier dan kehebatan. Atau dari sudut lain, kami adalah sekumpulan manusia-manusia yang tak mampu mencapai sukses dan kemasyhuran, jabatan dan kekuasaan, karier dan kehebatan maka kami berusaha jangan sampai kehilangan “yang paling sederhana dari kehidupan” yakni persaudaraan, keluarga dan intimitas kemanusiaan dalam hidup yang amat singkat ini. -Kiai Kanjeng-


"Heh, adikku juga ternyata sering ke acara itu". Seorang teman berbicara padaku melalui telepon, mengatakan kalau adiknya juga rela bolak balik Semarang-Yogyakarta demi acara itu.
"Masak, kok gak pernah ketemu ya.."
"Meneketehe, waktu kutanya, katanya dia pengen liat Kiai Kanjeng. Musiknya magis.."
"Hah, magis..?"
"Iya, katanya... 'mbak, Kiai Kanjeng itu punya magis deh. Dream Theater mah... lewat...'. Dodol bener tu anak, mang bener ya..?"
"Hahahaha, iya kali..."

Read more...

Kebersamaan Tanpa Batas

Tuesday, October 27, 2009

Gerimis membasahi Bantul malam itu. Di halaman sebuah TK sekaligus rumah seorang 'budayawan' yang katanya 'mbeling' digelar sebuah acara maiyah.
Dengan panggung sederhana, nyaris tanpa ada ruang kosong dengan pengunjung dan terpal untuk duduk lesehan, benar2 'membumi'.

Aku yang datang malam itu bersama dengan seorang teman, naik motor. Menyempatkan diri untuk mengisi perut yang memang jatahnya. Jam 9 malam kami sampai ke lokasi.
Tempat yang sama, suasana yang sama, hangat. Bertemu orang2 dari berbagai daerah, kelas sosial, tua muda dan latar belakang yang berbeda.

Sampai di tempat, aku dan temanku mencari tempat duduk lesehan.
Setelah dibuka oleh MC dan kelompok ibu2 pengajian bershalawat, budayawan mbeling itupun naik panggung bersama kelompok musik yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi.

Dia menyapa dengan hangat, diiringi sentilan dan candaannya tentang negeri ini dan doanya kepada sang pencipta.
Setelah itu dia berpuisi, dengan sangat menjiwai, yang judulnya saja aku tidak tahu. Malam itu dia sukses mengawali acara itu dengan tundukan kepala pengunjung *sial, bahkan mataku berair.*

"Saat ini kita berada di puncak ketidaktahuan kita sebagai manusia. Kita tidak mengerti siapa yang kita perjuangkan, kita tidak tahu siapa pemimpin kita. Kita bahkan tidak tahu apa itu artinya sebuah bangsa."

Begitulah kalimat yang kutangkap dari semua gojekan dan sentilannya pada malam itu.
Sudah beberapa bulan ini hal itu sering dia ungkapkan.

Untuk apa kita sekolah, kalau ternyata kita hidup bukan atas keinginan kita. Seperti bidak catur yang bisa dipindah-pindah, kita dikecewakan keadaan. Semuanya jelas, ini negara yang main2, ini demokrasi yang main2 dan saya bersyukur atas keputusan yang main2 ini karena setelah ini akan terbuka semua yang ditutup2i.

Sebuah rasa 'greget' melihat negeri ini, hingga akhirnya dia mengatakan "malam ini kita tidak usah membahas negeri ini, kita bershalawat saja untuk mendekatkan diri pada yang maha adil karena kita hidup bukan untuk main2."

Malam itu terasa sekali aura mendung, tiga tamu yang datangpun semuanya berpuisi.
Hujan sempat turun beberapa saat di tengah malam itu, tapi tidak ada yang beranjak dari tempat itu, kebanyakan hanya melindungi diri dengan tas atau merapatkan jaket.

Acara selesai hampir pukul 3 pagi, diakhiri doa dan pengetahuan yang bertambah.
Mungkin benar, ini memang sebuah acara yang multidimensi.
Bayangkan hampir tujuh jam duduk, tanpa pamrih, tidak membawa kepentingan apapun bahkan tahan tidak ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil.
Aku tidak menemukannya di acara seminar atau forum lain.

Ini bukan acara resmi, aku tidak merasa terikat untuk wajib datang ke acara ini. Bahkan acara ini tidak wajib untuk diadakan, tapi semua orang yang pernah datang ke acara ini akan selalu datang.

Di acara ini aku bisa melihat Gus Dur berbalas ejekan dengan bahasa kebun binatang, atau tawa keras Amin Rais yang begitu kalem. Pengamen nyanyi, monolog seorang Jemek Supardi, Alm.Rendra bercerita masa mudanya sampai bule2 yang begitu asyik bergoyang dangdut. Semua orang bebas menjadi dirinya sendiri.

Ada satu quote yang benar2 selalu dia ulang setiap acara itu

aku tidak mau jadi panutan kalian sebab itu akan membuat kalian fanatik kepadaku. Aku tidak mau berada diantara kalian dan Allah, terlalu berat buatku.


Ah, harusnya ini ditanamkan juga oleh pemimpin kita, tokoh2 masyarakat kita maupun ulama2 kita.

Tidak banyak orang sepertimu, yang dengan ikhlas menyapa ke semua lapisan, sebuah pekerjaan yang jika dihitung secara duniawi, jelas rugi.
Kau orang yang unik, punya kharisma tapi kau begitu dekat, dan kau tidak pelit untuk membagi ilmumu.
Dua tahun, dan aku tidak pernah bosan datang ke acara itu.

Mocopat Syafaat
Kasihan, Bantul, DIY
22 Oktober 2009

Read more...

Atas Nama Infotainment

Tuesday, October 20, 2009

Inilah kita, jutaan rakyat yang sedang memperhatikan dengan seksama kotak segiempat ajaib tanpa kedipan mata.
Sudah beberapa hari ini kita disuguhi tontonan kejar tayang.

Dari audisi sampai perhelatan akbar, kita 'dipaksa' untuk tidak melewatkan sedetikpun.
Acara menunggu telepon buatku sangat menarik, apalagi yang sampai acara habis berendam memakai kimono sambil membawa blackberry, hingga acara salam-salaman yang barusan selesai.

Baru kali ini ada audisi untuk pasukan warna-warni.
Bagaimana ya perasaan mereka memasuki ruang audisi untuk sesi wawancara, harusnya ini juga diliput, biar tambah gayeng.. :D
Belum lagi senyum2 menggoda dan petunjuk2 misterius dari si audiens, menambah penasaran orang yang menonton.
Mirip berita seleb yang kalau diwawancarai tersipu malu sambil bilang 'no comment'

Panitia acara benar2 bekerja secara profesional, terutama untuk segi hiburannya.
Aku tidak tahu ini ide siapa, tapi buatku ini sangat menghibur.
Terinspirasi dari banyaknya reality show di negeri ini, sampai acara kenegaraan inipun dikemas dengan semenarik mungkin.
Selamat.. selamat...
Acaranya sudah selesai, tinggal menunggu pasukan warna-warni yang akan menyemarakkan negeri ini lima tahun ke depan.

Oya jangan lupa, siapa tahu dalam waktu dekat akan diadakan pesta besar2an untuk acara ini, diisi oleh musisi2 ternama negeri ini dan hadiah doorprize untuk penelepon yang bisa menjawab 'siapakah anggota pasukan warna-warni yang akan angkat koper dalam 100 hari ke depan'
Dan nanti akan ada joke2 seru dari hostnya 'acaranya sangat menggetarkan, mengalahkan getaran di Sumbar' :D

Apakah anda terhibur dengan rangkaian acaranya..? :)

Read more...

Gempa, Kelas Baru Dan Batik

Saturday, October 3, 2009

Ingin aku bertanya pada tuhan, apakah kita terlalu disayang hingga selalu diberi perhatian olehNya.
Atau memang kita seperti lagu Ebiet yang membuat alam bosan bersahabat dan memilih marah dengan caranya.

Pelajaran tentang bumi dan alam semesta telah terkubur di gudang buku2 SD.
Mungkin dulu kita *khususnya aku* malas memahami tentang arti 60LU-110LS dan 95-141 BT, diapit dua benua dan dua samudera.
Jantung khatulistiwa, dilewati garis equator dan berada di atas lempeng bumi.

Dari dulu mungkin kita *lagi-lagi khususnya aku* tidak detil mencermati cerita2 rakyat yang sudah terlupakan sekarang.
Beberapa kejadian, seperti Sangkuriang yang menjadi Tangkuban Perahu, Malin Kundang, Roro Jonggrang dan banyak lagi selalu diakhiri dengan peristiwa alam.
Bukankah kita begitu dekat dan bahkan sudah 'berteman' dengan kejadian2 itu, dari jaman nenek moyang kita yang katanya pelaut itu.

Kejadian gempa di Sumbar membangunkan kita lagi, bahwa alam kesal karena selalu dicurangi.
Mari kita memberi bantuan, apapun itu bentuknya sambil memikirkan lagi ke depan untuk mencoba 'berteman' lagi dengan alam.
Yang belum tahu, mulailah mengenal.
Yang paham ilmu, mulailah berbagi
Yang punya akses, mulailah menyebarkan.
Benar, bencana alam memang tidak bisa dicegah, tapi percayalah kita bisa meminimalisir dampaknya.

Ada satu hal yang membuatku sedikit miris akan kejadian gempa ini, banyaknya siaran di tv yang selalu memutar adegan yang sama, tentang tangisan yang videonya hampir 24 jam diulang terus.
Aku bukannya tidak berempati, gempa itu sudah menghancurkan semua yang mereka punya, jangan lagi menghancurkan hati keluarga2 mereka yang berada jauh dari mereka dengan selalu menampilkan gambar yang sama setiap waktu.

Jengah aku mendengar si reporter bertanya 'seperti apa rasanya waktu itu' atau 'bagaimana perasaan bapak setelah tahu keluarga bapak tertimbun di bawah reruntuhan'.
Mereka butuh bantuanmu, bukan pertanyaan yang akan membuat mereka menangis lagi.
Mereka mau bantuan, bukan simpati atau teman menangis. Bantuan yang akan membuat kepala mereka tegak, percaya mereka bisa bangkit dengan harapan dan hidup yang baru.

Lalu aku Ingin bertanya pada 'kelas baru' itu, butakah mereka dengan kenyataan di depan mereka.
Melihat mereka memamerkan jas baru keluaran loundry terkenal itu, dengan tampang sumringah bersalaman dan berbisik-bisik tentang gaji pertama mereka.

Pelantikan itu, peresmian kelas baru yang menghabiskan dana yang begitu besar, apalagi yang mau diharapkan dari mereka.
Masalah artis bokep yang mau datang kesini saja mereka ributnya setengah mati, membuat UU dan interupsi, mereka jagonya.

Duh... pekalah sedikit, coba kalian bergeser sedikit dari kursi nyaman itu dan lihat sekeliling.
Banyak orang miskin, negeri kita baru tertimpa musibah dan kalian tetap 'show must go on'...?
Terus terang buat para wakil rakyat di kelas baru itu, pesimis aku membayangkan negeri ini di tangan kalian.

Terakhir, ingin aku bertanya pada euforia ini, perlukah membuat sebuah hari khusus untuk batik.
Kemarin hampir semua memakai batik, mengikuti himbauan karena telah disahkannya batik sebagai milik negeri ini.
Pantaskah kita bereuforia dengan 'mewajibkan' satu hari khusus berbatik ria, dan memandang aneh orang yang tidak berbatik di hari itu.

Tidak punya nasionalisme, begitulah anggapan untuk yang tidak memakai batik.
Tiap orang di negeri ini pasti setuju, yang punya batik adalah kita.
Lalu nasionalisme itu akhirnya diukur dari selembar kain bernama batik...? mengherankan.
Batik adalah budaya, punya nilai sejarah yang panjang, banyak nilai hidup yang ada di kain batik.
Tidak perlu menunggu UNESCO baru memakai batik, janganlah memakai batik hanya untuk memperingati 'hari batik'.

Memang ada untungnya pengakuan itu, kita jadi lebih memperhatikan batik, yang artinya akan berdampak pada kesejahteraan pembuat batik, tapi untuk 'hari khusus itu', aku benar2 heran.

Kalau memang begitu pentingnya pengakuan dari luar sampai dibuat sebuah hari yang khusus memakai batik, maka atas nama nasionalisme bersiaplah..
Mungkin dalam waktu dekat UNESCO juga akan mensahkan koteka sebagai warisan budaya negeri ini.
Buatlah hari khusus, jika memang tidak mau dibilang pilih kasih.

Read more...

Akal dan Kitab Suci -2-

Sunday, July 26, 2009

Akal tanpa cinta hanya akan membuat manusia sampai pada tingkat ilmu mempertanyakan kitab suci dan menyetarakan tuhan.
Jika akal menjadi busur, kitab suci menjadi panah, ilmu yang menjadi arah maka cinta adalah kekuatan untuk mengarahkan.
kitab suci yang begitu padat tidak akan dipelintir oleh akal jika ada cinta yang mendampinginya.
Output perilaku yang diciptakan akal melalui kitab suci tidak akan membawa kebaikan jika tidak diikuti cinta.

Tak kenal maka tak sayang..
Cinta mengenalkan manusia pada tuhannya
Cinta mengenalkan manusia pada kehidupannya.
Relatif dan padat akan jelas batasnya ketika dimasuki cinta.

Di kitab suci manapun, ada dosa untuk kejahatan, ada pahala untuk kebaikan.
Tapi manusia menembus sendiri batas 'manusianya' untuk merasa punya hak atas kehidupan.

Pertanyaan dasarnya adalah, apa kau percaya tuhan..?
Kalau ada yang bilang tidak, lalu kenapa kau begitu takut pada kematian..?
jika kau tidak percaya, kenapa kau bisa bangun pagi ini..?
Proses tidur bahkan tidak sampai ilmu manusia untuk mengolahnya, lalu dimana akalmu ketika kau merasa mempertanyakan si pemilik tidurmu.

Kalau kau percaya tuhan, maka poin dasar untuk percaya adalah cinta.

Kau cinta pada orangtuamu, maka kau akan percaya pada mereka.
Jika kau cinta pada istrimu, kau akan percaya padanya, maka cemburu, iri, curiga, akan hilang dengan sendirinya.

Jika kau mencintai istrimu, maka kau akan mencintai hidupnya, kau akan mencintai pekerjaannya, kau akan mencintai keluarganya, kau akan mencintai semua yang ada dalam bagian hidupnya.
Kau akan mencintai rambutnya, hidungnya, kukunya, matanya dan semua komponen hidupnya. Disitulah akalmu kau arahkan..

Hidup punya aturan..
Sekarang apa kau percaya pada si pengatur hidup..?
Jika kau percaya, maka kau akan percaya pada peraturannya..
Jika kau percaya tuhan, kau harus percaya pada pada ciptaannya..

maka kembali lagi ke posisi awal, jika kau percaya tuhan, dasarnya adalah cintamu padanya..
Lalu apa yang kau harapkan dari tuhan..? tentu cintanya padamu..

Kau mencintai tuhan, kau harus mencintai langit, kau harus mencintai pohon, kau harus mencintai daun, kau harus mencintai burung, kau harus mencintai apa saja yang dicintai tuhan.
Kau mengharapkan cintanya, makanya kau percaya padanya.

Kau mencintai tuhan, kau mencintai ciptaannya, kau percaya tanah itu ciptaan tuhan maka kau mencintai tanah, maka kau mencintai padi karena padi ditanam di tanah, kau akan mencintai makananmu, karena ada padi disana, maka kau mencintai kesehatanmu dengan memilih makanan yang baik untuk kesehatanmu.
Lalu padat dan relatif itu akan dicerna sendiri oleh akal, tidak perlu ada resep dokter untuk kesehatan dan larangan ini itu tentang kesehatan jika manusia menggunakan akalnya seperti di atas.

Banyak lagi contohnya, bahkan hal terkecil dalam hidup manusia tidak ada yang tidak berhubungan dengan tuhan.

Manusia modern sering memotong akalnya dalam siklus seperti di atas.
Manusia mencintai tuhan, tapi tidak mencintai hutan malah sangat cinta pada uang. Bukankah hutan termasuk dalam proses uang..?
Ada kertas disana, ada kayu, ada pohon, pastinya ada hutan. Mesin pencetak uang juga diurai menjadi satu persatu maka pasti ada hutan disana.
Jika manusia percaya ada tuhan dalam uang, akankah manusia menyalahkan uang atas nasib hidupnya..?

Manusia modern membuat semuanya terbalik..
Membenturkan yang padat seolah-olah bisa dicairkan dan mengeraskan yang relatif itu..
Harusnya mengeraskan yang padat dan membenturkan yang relatif sehingga tercipta kreativitas dan keindahan.

Benturan dalam wilayah padat membuat manusia menguasai, benar salah terletak di tangan manusia. Dia yang benar dan manusia yang lain salah, karena ego manusia tidak mau di pihak yang salah.
Coba benturkan ke wilayah relatif, Teknologi contohnya. internet bukankah kreativitas di wilayah relatif..? kita bisa chatting, ngeblog, tukar informasi dan banyak hal lain. Coba diurakan, bukankah itu hanya terdiri dari kabel, gelombang, komputer yang isinya kalo diurai jadi hal-hal yang biasa kita lihat di sekitar.
Benturan di wilayah relatif akan menghidupkan yang mati dalam diri manusia.. akal bekerja menjadi ilmu.

Seperti sebuah lagu, jika surga dan neraka tak pernah ada, apa yang dicari manusia..?
Manusia mencari surga atau mencari cintanya tuhan..?
Kalaupun ada surga dan neraka, apakah manusia akan tetap mengejar surga jika ternyata Tuhan lebih sering di neraka..? *saya tidak menyuruh orang masuk neraka..
Bukankah neraka juga punya tuhan..? manusia ingin surga tapi tidak mau ke neraka.

Cinta, akal,kitab suci dan ilmu akan berkombinasi menempatkan manusia pada satu titik, bersyukur.
Bersyukur karena percaya pada tuhan.

Kalau dikembalikan ke peradaban sebelum kitab suci, apakah orang percaya pada apa yang dia percayai..? Iya
Tidak ada peraturan hidup, tapi percaya. Terlepas yang dia percayai itu benar atau salah, tapi konsep cinta yang akhirnya membuat akalnya percaya pada apa yang dia percayai itu yang harus dilihat.
Ketika sudah ada kitab suci, percaya itu yang tidak dibangun oleh manusia modern dalam arti kehidupan.
Kenapa kita berdebat di wilayah yang jelas sekali padat.

'Jadi tidak boleh membedah kitab suci..?' justru karena manusia punya akal maka kitab suci itu dijadikan ilmu hidup.
kembali lagi ke kalimat awal, percaya.
'Lalu kenapa ada kitab suci kalau kita sudah percaya...?' justru melalui kitab suci akhirnya manusia modern percaya, kalau tidak ada bagaimana kita percaya tuhan, kita bukan nabi.

Satu tidak pernah benar-benar satu artinya, karena manusia modern tidak percaya satu itu satu.
Presiden tidak pernah benar-benar presiden dalam arti presiden sebenarnya, karena presiden tidak percaya, presiden itu presiden dalam hukum hidup. *bingung kan..
Presiden sewaktu-waktu jadi pedagang, jadi pengusaha, jadi tukang kredit, jadi sopir.

Sekali lagi, kita sebagai manusia modern sangat-sangat rewel untuk urusan percaya.

Cinta mengarahkan akal kita untuk percaya pada yang membuat peraturan hidup, menyakini aturan hidupnya dan menggunakan akal kita menjadi ilmu untuk mencari cinta sang pemberi akal.


*huah.. mumet saya nulisnya.
Kadang apa yang dipikir itu ketika jadi sebuah tulisan malah membingungkan.
Semoga bermanfaat, ini hanya artikel, ambil saja yg baik karena ini murni muncul dari pemikiran yang tanpa referensi.
Hanya melihat, mendengar dan memperhatikan dari sekitar..
Besok-besok saya nulis yang ringan2 aja.. mumet saya.. :D


Link Terkait
Akal dan Kitab Suci

Read more...

Akal dan Kitab Suci

Wednesday, July 22, 2009

Kapan pertama kali kitab suci ada..?
Kalo direka-reka menurut ilmu manusia, mungkin sekitar 130 abad yang lalu atau 13 milenium yang lalu.
Ketika nabi Daud pertama kali menerima wahyu dari Tuhan dan terciptalah Zabur, lalu menyusul Taurat, Injil dan kemudian disempurnakan oleh Al-Qur'an. *saya mengambil sudut pandang islam.
Bukankah kita mengenal nabi-nabi sebelum nabi Daud..?
Bukankah kita tahu ada peradaban sebelum itu..?
Lalu kenapa orang-orang di masa itu begitu lama masa hidupnya, sampai ratusan tahun bahkan ada yang mencapai ribuan tahun.
Begitu lama sampai mungkin mereka masih bisa melihat tujuh generasi di bawahnya.

Masa sekarang, umur manusia rata-rata hanya sampai 70-80 tahun.
Itu bahkan sudah sepuh banget, walaupun ada yang sampai 90-100 tahun, tapi sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi, sudah bergantung pada orang lain.

Lalu apa hubungan kitab suci dan manusia..?
Kalau diambil perbandingan di atas, maka umur manusia sebelum mengenal kitab suci lebih lama daripada orang yang sudah mengenal kitab suci.

Kenapa..? Why..?
Kenapa Allah baru menurunkan kitab suci setelah begitu lama tercipta peradaban di muka bumi.

Karena orang-orang di peradaban yang lalu tidak perlu kitab suci untuk mengatur hidupnya, sedangkan orang-orang di masa sekarang butuh kitab suci untuk mengatur hidupnya.
Karena peradaban yang lalu punya hukum dan aturan hidup dalam dirinya masing-masing, sehingga tidak perlu adanya kitab suci, sedangkan di masa sekarang kitab suci adalah hukum dan pengaturan hidup bagi manusia.
Karena peradaban yang lalu, disitulah para nabi-nabi ada sehingga orang-orang di masa itu punya panutan. sedangkan sekarang, orang-orang tidak punya panutan makanya diberi kitab suci.

orang-orang di peradaban yang lalu lebih simpel cara berpikiranya, sangat patuh pada pemimpinnya. Itu bisa kita lihat dalam kisah-kisah para nabi.
Orang-orang di masa sekarang (orang modern) sangat rumit cara berpikirnya, rewel lebih tepatnya. Semua hal dipertanyakan, makanya ada kitab suci untuk memberi batas dan menjaga manusia agar tetap berada di jalur 'manusia'.

Mari kita kembali ke belakang, bukankah manusia adalah masterpiecenya Allah..?
hingga diberi keistimawaan yang berupa akal pikiran.
itulah dasar kita menjadi khalifah di muka bumi.
Dan diberi tuntunan hidup dalam bentuk kitab suci karena kita berakal.

Makhluk ciptaan tuhan yang lain tidak ada yang diberi akal, jadi kambing tidak perlu kitab suci.
Akal membutuhkan kitab suci seperti busur dan panah, akal sebagai busur dan kitab suci sebagai panah.
Dan untuk mengolahnya, kita membutuhkan ilmu.
Panah tanpa busur, itu tidak akan sampai kemana-mana. hanya akan melukai sekitarnya.

Kitab suci menjadi hukum kita dalam hidup, menjadi acuan kita.
Lalu ada hukum eksternal, itulah yang banyak kita temui sekarang. UU, peraturan, adat, kepres, piagam PBB dan sebagainya.
Hukum itu mengikat, padat dan memaksa. Tidak boleh diganti jadi apapun, itu hukum. Ganti satu huruf aja gak boleh, itu hukum.
Bedanya adalah, kitab suci adalah hukum internal dalam dirimu yang nanti outputnya adalah perilaku.
sedangkan yang lain seperti UU, peraturan adalah hukum di luar dirimu yang mengatur dirimu dalam bermasyarakat.

Kita memerlukan akal kita dan mengolahnya dengan ilmu kita supaya aplikasi di kehidupan kita benar-benar berguna.

Jika ada yang padat yaitu hukum, berarti ada yang cair donk, berarti ada yang relatif.

Subuh itu 2 rokaat, itu hukum.
Bacaannya jelas, tata cara sholat, dari mulai takbir hingga salam itu padat. gak bisa diubah-ubah.
Tapi khusyuknya sholat, itu relatif. Langgam pengucapan bahasa ketika sholat itu juga relatif, menyamakan dengan logat arab itu bagus, tapi kalau tidak bisa ya tidak apa-apa.

Kalau dengan skala yang lebih besar, kebudayaan itu jelas relatif, pendidikan itu relatif, politik itu relatif, kesehatan itu relatif. yang menjadi ranah hukum adalah administrasinya, aturannya.
Musik itu relatif, jelas. Kamu tidak bisa memasukkannya ke ranah hukum, tidak bisa membandingkan musik si A dengan si B, karena relatif dan akan banyak unsur menyertainya.
Ranah hukumnya adalah tidak boleh membajak, karena ada hukumnya tentang pembajakan.

Di daerah-daerah yang relatif inilah timbul yang namanya kreativitas, disinilah akal dan ilmu dipakai.

Manusia modern menggunakan akalnya tanpa berpegang pada hukum hidupnya, yaitu kitab suci.
Seperti kitab suci yang dipakai dalam hidup tanpa menggunakan akal.
kedua-duanya tidak akan jadi apa-apa.

Banyak yang mencampur-adukkan wilayah hukum dan kreativitas.
Agama bercampur dengan politik..
Akhirnya, agama menjadi relatif dan politik jadi wilayah yang padat.
Ulama berdakwah di ajang politik dan agama digiring untuk menjadi pengikut politik tertentu, itulah pemikiran manusia modern sekarang.

Musik Dangdut katanya musik kampungan, itu kan relatif. Kau harus mendengar musik yang lain untuk membandingkannya dan itu belum cukup. Karena kau hanya punya dua daun telinga.
Karena itu dengarkanlah melalui telinga yang lain, kalau tidak bisa berarti jangan memvonis. Disitulah akal dan ilmu.

Kalau negara mengeluarkan peraturan, harga minyak goreng adalah Rp.5000 *umpama
Itu hukum, aturan, semuanya yang termasuk ke wilayah hukum harus menggunakan peraturan itu.
Tapi manusia modern mencampurkannya jadi wilayah relatif, ada yang Rp.6000, Rp.7500 sbg. Akhirnya rancu kan.

Gaji DPR dalam UU adalah 20 juta *umpama lagi. Itu peraturan, padat.
harusnya kan cuma itu, tapi ternyata bisa jadi relatif, bisa jadi 50 juta.

Yang mencuri harus dihukum. Itu peraturan
Jadi relatif ketika mencuri tapi pakai dasi tidak perlu dihukum, lha itu apa..
peraturan ya peraturan, hukum ya hukum. A ya A, hijau ya hijau, jangan abangan.

Tapi ketika masuk ke wilayah kreativitas, wilayah relatif malah hukum yang dipakai.
Dilarang pesbukan, lha itu jelas-jelas hukum je, padahal tidak ada dalam kitab suci manapun tentang pesbukan.
Yang ada adalah, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. dan itu masih wilayah relatif, berlebihan itu masih bisa dijabarkan dengan lebih luas.
Menulis saja sekarang sudah masuk wilayah hukum, ada UU ITE.

Yang mau masuk kedokteran UGM membayar minimal 70 juta *umpama lagi dan lagi
berarti yang tidak bisa membayar minimal sejumlah itu tidak bisa masuk kedokteran UGM, itu kan jadi wilayah padat, menjadi hukum yang jelas-jelas tidak ada di UU tentang pendidikan.
Jika ada minimal, berarti jika membayar diatasnya peluang masuk bisa lebih besar.
Padahal pendidikan adalah wilayah relatif. Otak dan kreativitas manusia jadi nomor sekian karena adanya peraturan itu.

Tapi manusia modern *kita maksudnya sangat rewel, hingga teori di atas dimentahkan dengan argumen-argumen masing-masing.
Kitab suci bisa diperdebatkan, apalagi undang-undang, peraturan dan sebagainya.
Karena akal bisa di kendalikan manusia, dan ilmu serta kitab suci bisa dikaji ulang oleh manusia modern maka Allah menitipkan satu unsur lagi untuk menyertai akal tersebut, yaitu cinta.

*Walah, jadi panjang gini postingannya dan melebar kemana-mana.. hehehe
mungkin bagusnya disambung aja di artikel berikutnya supaya nyambung sama kalimat pertama.Saya harap tidak mumet membacanya, saya yg nulis aja agak-agak mumet, tapi ini hanya artikel, semoga berguna dan bisa diambil intinya..

Link Terkait
Akal dan Kitab Suci -2-

Read more...

Gosip Setelah Tebak Gambar

Saturday, July 18, 2009


saatnya melihat ke atas, tidak ada sesuatu yang kebetulan..

'Wah.. Negeri Emprit main petasan..'
'Iya, aku baru turun dari bawah'
'Gimana laporannya..?
'Sejauh ini aku membawa beberapa orang dan lagi menunggu beberapa lagi..'
'Bagaimana isu yang berkembang di bawah..?'
'Kacau, rancu.. simpang siur..teori kemungkinan semua'
'Siapa sih yang buat..? kamu bawa gak orangnya...? aku pengen lihat wajahnya.'
'Jelaslah aku bawa, belum ku interogasi, nunggu laporan si bos.'
'Aku juga nunggu perintah si bos nih, apa aku jadi turun ke bawah..'

Secepat kilat sebelum sempat mengedipkan mata

'Hah, udah turun..?'
'Udah, syukurlah aku jadi banyak kerjaan..'
'Kenapa..?'
'Iya, setelah kejadian banyak orang yang bersatu, tapi sempat lihat konfrensi pers juga sebelum naik'
'Oya, emang menarik konfrensi persnya..?'
'Tidak sih buatku, tapi mungkin menarik buat negeri emprit..'
'Hahahaha, aku tau, telenovela kah...?'
'Buatku iya, tapi jadi membuka banyak kemungkinan teori disana..'
'Pencitraan lagi ya, padahal baru milih gambar, dasar negeri emprit dah di SP ma si bos'
'Salah pilih tebak gambar, percobaan pertama sudah langsung gagal'

'Ngapain dia melebarkan masalah, cukup protokoler ucapan belasungkawa sepertinya dah cukup. Yang pentingkan aksi setelahnya..'
'Mungkin dia pikir dia Ronald Reagan..'
'Ah beneran telenovela deh, apa dia pikir ucapannya tidak memberi efek bola besar buat negeri emprit..'
'Itulah, terlalu penuh gelasnya. Lupa inti kejadian dan imbas setelahnya.'
'lalu gimana reaksi negeri emprit..?'
'Hey, negeri emprit itu tahu cara tersenyum, itu yang aku suka dari negeri emprit.'
'Bagaimana ya, aku juga bingung. Kenapa si bos membiarkan aja ya.. aku sedih juga , aku sebetulnya benci dengan pekerjaan ini..'
'Aku kok jadi optimis setelah ini ya..?'
'Iya, aku juga. Mungkin si bos akan memberi SP sampai beberapa kali lagi, tapi kok aku merasa ini hanya akan menguatkan negeri emprit ya..'
'Bisa aja sih si bos langsung mutus kontrak tu negeri emprit, tapi si bos masih mikir-mikir..'
'Kenapa memang..?'
'Masih banyak cahaya harapan di mata anak-anak kecil di negeri emprit, masih terlalu banyak sandungan buat si bos untuk memutus kontrak negeri emprit..'
'Iya, aku juga lihat kenyataan terbaru, walaupun bungkus negeri emprit sudah karatan dan bau busuk. Dalamnya ternyata masih ada orang-orang yang tau menghargai kontraknya.'
'Lalu gimana nih soal bungkus-bungkus yang sudah bau busuk ini..?'
'Halah, si bos cepat atau lambat pasti beresin. Percaya atau tidak, peristiwa ini menjadi momentum buat negeri emprit untuk memilih..'
'Maksudnya.., menukar bungkus-bungkus itu?'
'Hahahaha, tidak begitu caranya.. ada muncul sebuah komitmen, keintiman dan rasa yang baru di hati orang-orang negeri emprit.'
'Maksudnya momentum pasca petasan itu..?'
'Iya, kalau mereka jeli dan mengerti bagimana peringatan si bos menjadi kekuatan yang baru buat mereka, kekuatan yang sebetulnya dari dulu ada di hati mereka.'
'Apakah kita menunggu..?'
'Tidak, kita sedang melihat proses..'

'KALIAN, MENGGOSIP LAGI..'

'Bos, kenapa skenarionya kayak gitu..?'
'Iya bos, SP-nya kok secepat kilat gitu. Baru aja bernafas sedikit tu negeri emprit..'

'ITU BENTUK CINTAKU PADA MEREKA..'

'Lalu setelah ini, apa akan ada lagi bos..?'

'ADA, TAPI KITA LIHAT NANTI BENTUK CINTANYA SEPERTI APA..'

gambar diambil disini

-untuk hari kemarin dan setelah ini, jangan pernah malu menjadi bangsa ini. Ini bukan kita, memalukan jika ada yang malu menjadi bangsa ini.-

Read more...

[Masihkah] Garuda Di Dadamu

Thursday, June 25, 2009


kita adalah bangsa yang besar.. -Ir.Sukarno-

Tidak main-main memang kesaktian burung yang satu ini.
Bahkan negara kita menjadikannya sebuah simbol, lambang pemersatu bangsa.
Garuda adalah raja dari semua burung, salah satu dewa mitologi hindu.
Ukurannya yang besar dapat menghalangi matahari.

Garuda, yang hakekatnya adalah seekor burung penguasa langit.
Kini terkurung dalam sangkar,sangkar emas atau berduri entahlah.
Garuda, yang dulu begitu gagahnya mengepakkan sayap dan terbang menembus cakrawala kini hanya terpekur di dalam sangkar sambil menunggu makanan dari tuannya.
Garuda, yang akhirnya beranak pinak di dalam sangkar melahirkan anak-anak garuda yang tidak dapat terbang karena sudah hidup nyaman di dalam sangkar.
Lalu generasi-generasi berikutnya lupa bagaimana caranya terbang, karena dia tidak pernah melihat pendahulunya terbang.
Akhirnya sampailah pada generasi sekarang, entahlah generasi yang keberapa dari garuda, yang tidak tahu langit itu seperti apa dan yang lebih parah, tidak tahu kalau dia adalah garuda...!!!

Garuda itu sekarang sudah berubah jadi emprit
Garuda itu sekarang sudah berubah jadi beo
Garuda itu sekarang sudah berubah jadi gagak
Garuda itu sekarang sudah berubah jadi hering

Kita tidak pernah bercermin, karena takut melihat jeleknya rupa kita.
Kita tidak pernah berteriak, karena tidak tahu seperti apa suara kita.
KIta tidak pernah bercita-cita, karena masih nyaman hidup di sangkar.
Kita tidak pernah belajar, karena tidak ingin digurui.

Ketika Sultan Pontianak merancang garuda dan Sukarno menyempurnakan garuda menjadi sebuah lambang negara, yang ada di benaknya adalah semangat garuda dan ideologi pancasila.
Betapa bangganya dulu pahlawan-pahlawan kita menyandang nama garuda.
Kekuatan dan keberanian garuda seakan-akan tercermin dari sikap para pendahulu-pendahulu kita.
Sebagai sebuah bangsa, kita adalah bangsa garuda.

Tapi sayang, semangat itu seakan-akan pudar.
Garuda itu seperti menghilang.
Kita ditinggalkan.
Atau kita yang melupakan.

Garuda pancasila
Akulah pendukungmu
Patriot proklamasi
Sedia berkorban untukmu
Pancasila dasar negara
Rakyat adil makmur sentosa
Pribadi bangsaku
Ayo maju maju
Ayo maju maju
Ayo maju maju


-Garuda Pancasila-

judul postingan terinspirasi dari film yang lagi diputar di bioskop

Read more...

Selamat Datang di Pasar NKRI

Monday, June 22, 2009

orang tahu kalau mencuri itu adalah dosa, tapi mengingatkan dosa untuk seorang pencuri adalah hal yang sangat sulit.

Pasar...
Dalam bahasa sehari-hari artinya adalah tempat ramai, tempat melakukan transaksi jual-beli, baik itu sembako, buah2an, daging, saham dll. Tapi belakangan ini yang marak dibicarakan adalah pasar bebas, bebas sebebas-bebasnya, mau jual-beli apa saja boleh. Jual kambing ya boleh, beli sepatu ya boleh, jual-beli emas ya boleh, jual-beli nama ya boleh, jual beli kehormatan juga boleh, semuanya boleh.
mau cara jual-belinya gmn2 juga sah, cara ustad ya sah, cara preman ya sah, cara penjilat ya sah, cara bunuh2an ya sah, sah dan sah.
mau hukum jual-belinya ikut yang mana juga silakan, ikut hukum barat silakan, timur ya silakan, selatan, utara silakan, hukum rimba juga silakan, bahkan hukum antah- berantah tetap dipersilakan.

Inilah keadaan pasar di negeri kita..
dari yang kecil sampai yang besar ikut meramaikan pasar..
Apalagi sekarang lagi marak2nya kampanye pilpres, semua teriak di pasar..
Sambil transakasi apa saja, yang penting ikut..

Pasar pilpres memang lagi heboh..
Ada sebuah pernyataan di televisi yang membuat penonton sedikit mencibir, khususnya aku. Begini katanya...

'kita sedang berada di saat-saat yang paling menentukan bangsa ini, seperti sebuah pertandingan sepakbola, ibaratnya kita sedang menyaksikan pertandingan final.'

Cie... final katanya, aku mencibir..
Kalo ibarat sepakbola, harusnya ada penyisihannya donk, perdelapanfinal, perempatfinal, semifinal, baru final..
Lha ini, tau-tau udah final aja dan lucunya kontestannya lebih dari dua... ada-ada saja orang-orang di negeri kita kalau soal membuat orang tersenyum.
ok, cukup, kita tidak sedang membahas pilpres, kita sedang ngomongin pasar.. hehehe

Pelaku pasar juga sangat-sangat pintar..
Untuk melariskan dagangannya, isu2 pun dimunculkan, ada yang ngomong neo-liberalismelah, ekonomi kerakyatanlah, kemandirianlah, yang penting gimana dagangan laku.
Yang beli akhirnya bingung, tidak mengerti apa-apa, seperti kerbau yang dicocok hidungnya, ikut saja apa kata pelaku pasar.
Untunglah pembeli di negeri ini adalah orang-orang konsumtif, jadi apa saja yang kemasannya bagus, beli. Mau isinya racun kalau orang yang jual cantik, beli.Asal produknya bisa buat pembeli jadi terkenal,walaupun jual anak istri, tetap beli.

Yang mengelola pasar adalah sebuah PT yang bernama NKRI, dengan hukum dan aturan2 yang sangat rancu dan kabur, yang penting bebas.
Ketika Belanda mengenalkan pasar yang bernama liberalisme melalui tanam paksa di negeri ini, banyak pelaku pasar yang protes, karena Belanda mindahin pasarnya ke luar negeri, tapi pabriknya di negeri ini.
Lalu muncullah Van Deventer dengan pasar etis. Pelaku pasar bersuka cita, apalagi pembeli karena pasar ini sangat merakyat, selalu memberi diskon, bahkan obral sampai 80%.
Akhir-akhir ini muncul lagi pasar yang namanya liberalisme itu, dengan tambahan neo di depannya menjadi neo-liberalisme.
Pelaku pasar meradang, saling tuding kalau si anu adalah penganut paham pasar itu, si anu itu neoliberalisme. fitnah bertebaran di seantero pasar, tidak ada yang terima kalau disebut sebagai penganut pasar tersebut.
Tapi lucu sekali pelaku pasar kita, semua membenci yang namanya pasar neo-liberalisme itu, tapi jelas-jelas semua menganut paham pasar tersebut.

Hingga sekarang pergunjingan itu masih berlangsung, siapa yang benar kita tidak tahu.Dan sadar atau tidak, kita juga termasuk pelaku pasar, pembeli ya kita juga..
Hanya satu yang pasti, semua pasar ini tidak pernah menunjukkan kwitansi pembayaran, tidak pernah ada transparansi dana, pasar seolah-olah tutup mata kalau di pinggir2 pasar itu banyak pengemis yang butuh sedikit kebaikan dari pasar.Di emperan2 banyak anak2 terlantar yang tidak mengerti kalau bapak dan ibunya masuk ke pasar untuk menjual kehormatan keluarganya. Di sudut2 pasar, banyak orang2 yang tidak mampu akhirnya dengan pasrah menjual hasil kerja kerasnya demi sebuah harapan yang bernama pasar, karena hidupnya tergantung pasar..
tidak pernah mensejahterakan kehidupan negeri ini, tidak pakai akhlak, sudah mematerikan manusia dan memperjual-belikan tuhan.

Selama kita tidak mengerti bagaimana caranya berdagang, maka kita tetaplah bangsa yang konsumtif.
Kalau hukum berdagang kita tetap seperti ini, maka mau diganti jadi pasar abrakadabra juga, kondisinya tetap seperti ini.
Tapi anehnya kita menikmatinya...
Pasar NKRI yang tidak pernah sepi..


Read more...

Inilah Politik Nak...

Tuesday, May 19, 2009

Seorang gadis kecil berumur 8 tahun bertanya pada ayahnya...
"Ayah, politik itu apa sih...?"
"Memang kenapa nak..?
"Soalnya, akhir-akhir ini beritanya tentang politik melulu. Aku kan bingung yah.., mang itu apa sih..?"


Si ayah bingung untuk menjawab, tapi yang sebetulnya juga tidak paham arti politik (seperti kebanyakan ayah-ayah yang lain.. hehehe) memutuskan untuk tetap menjaga wibawanya di depan anaknya..
"Begini saja nak, kita ibaratkan politik itu seperti keluarga kita.."
"Ayah itu kepala keluarga, yang nyari duit, berarti yang punya duit.
Kita sebut kapitalisme"
"Ibumu itu yang ngurusin duit dan yang ngurusin kalian.
Kita sebut pemerintah"
"Kamu itu yang kita urusin. Kita sebut kamu rakyat"
"Tu adekmu yang masih bayi. Kita sebut dia masa depan"
"Di rumah kita juga ada bik Ijah sebagai pembantu.
Kita sebut dia kaum pekerja"
"Sampai disini apakah kamu paham nak..?" si ayah bertanya.
"Kalo sampai sini aku ngerti yah, tapi bisakah kita lanjutkan besok, soalnya aku udah ngantuk.."
"Baiklah besok pagi kita lanjutkan, tidurlah ke kamarmu.." si ayah berkata sambil berharap anaknya lupa keesokan harinya.. hehehehe

Tengah malam, si gadis kecil terbangun ketika mendengar suara tangisan adiknya. Dia bingung apa yang harus dia lakukan. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke kamar orangtuanya untuk membangunkan ibunya.
"Ibu, bangun... adik nangis tu.."
Yang terdengar hanyalah suara dengkur ibunya. Sampai usaha yang kesekian, ibunya tetap tidak bangun dan akhirnya si gadis kecil pergi meninggalkan kamar orangtuanya.
"lho, ayah kemana...?" dia bingung karena ayahnya tidak ada di kamar.
Akhirnya dia pergi ke kamar bik ijah, tetapi sampai disana pintu kamar bik ijah terkunci..
Si gadis kecil mengintip dari jendela..
"Lho, kenapa ayah ada di kamar bik ijah...?"

Akhirnya si gadis kecil memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan melanjutkan tidurnya..

Kebenaran bukanlah kenyataan -Dewa 19-

Keesokan paginya, di ruang makan..
"Ayah, aku sudah tau apa itu politik.."
"Apa itu nak...?"
"Ketika rakyat membutuhkan bantuan pemerintah untuk memperbaiki masa depan, pemerintah tidur. Sedangkan kapitalisme sibuk mengerjai kaum pekerja.."
"Hah..."

(dikutip dari Noe Letto ketika seseorang bertanya padanya tentang arti politik di acara maiyah Cak Nun)

17 Mei 2009
Mocopat Syafaat, Kasihan, Bantul.

Asli, pas ini, aku ngakak beneran, kenceng banget..
komedi satir negeri ini.. joke yang sangat cerdas.. :)

Read more...

Sandiwara Ini

Wednesday, May 13, 2009

Pernah merasa ingin membanting TV...?
Itulah yang kurasakan belakangan ini, setiap lihat TV, bawaannya emosi terus.
Pasti ada terus komen yang gak enak didengar, tapi tetap diucapin.
Belakangan ini, lihat TV jadi tambah dosa.. huehehehe
Berita-beritanya sangat... sangat...
Ah gak tahu mau bilang apa..
nggilani....!!!! :D

Dari kasus Artis yang diculik (entahlah), begitu kata ibunya yang lalu dibantah oleh oknum si penculik.
Keponakanku yang umur 7 tahun aja sampe ngerti jalan cerita dari awal sampai akhir.. sampai bisa memberi opini...!!
"Tulang, jahat banget ya tu orang"
What...!!! emang udah pernah wawancara langsung apa tu artis, apa tu penculik juga pernah nongol di TV..?
lha setau aku yang ngomong di media tu ibunya doank ma orang2 yang tidak jelas...
Ibunya terus yang gembar - gembor di media (dulu kok gak liat2 mau dikasih ma siapa tu anaknya, aneh..)
Sampai seorang teman menulis di blog tentang ibu. (gak tau inspirasinya dari sini ato dari mana..)
TV akhirnya jadi sasaran mengumpat..

Pindah channel, tayangan kriminal lagi.. kali ini kasus kakap, melibatkan pangeran berkuda putih yang tersandung gara2 kasus cinta segitiga dengan seorang caddy sampai menewaskan seseorang.
Muncullah isu-isu di berita, dari persekongkolan, jebakan, adanya kepentingan2 para elit, sampai campur tangan pihak asing.
Banyak kejanggalan dan semua orang berpendapat... (entahlah benar ato salah, yang penting komentar)
Media mengangkatnya besar-besaran, lha blm ketahuan juga yang benar yang mana.
Opini sudah kemana-mana, tebak2 buah manggis, langsung memberi penilaian... men-cap seseorang..
Lagi-lagi mengumpat..

Paling membuatku malas membuka TV adalah politik yang terakhir ini berkembang di Indonesia.
Inilah sandiwara terbesar yang membuatku ingin membanting TV.
Apa-apaan sikap para petinggi yang disana, ngomongin nasib rakyat sambil makan kacang. (itulah mengapa aku tidak ingin berpolitik).
Apalagi ketika gonjang-ganjing cawapres belakangan ini, terjadi perpecahan koalisi tapi tidak berapa lama sudah mesra lagi.
Hah... seperti menonton monolog saja, film bisu.
Koalisi untuk cari kursi..
Seperti sebuah tambal sulam yang jelas2 merasa bisa jadi bola besar padahal dimana-mana bolong..
Jadi mengumpat lagi deh.. :P

Sekali lagi, media (terutama TV) mempertontonkan sebuah sinetron panggung... hee..
Dan sekali lagi penonton disuguhkan sajian yang membuat geleng-geleng kepala sambil memikirkan komentar apa yang paling tepat untuk adegan selanjutnya...

"kekuatan media setingkat dibawah Tuhan, bisa membunuh dan menghidupkan."

Seperti lagunya GIGI yang berjudul Ya Ya Ya...

Akulah sempurna
Akulah idaman
Aku yang kau cari
Aku yang penuhi
Kau tahu semua itu
Kau pun tlah merasakannya
Kau pun tlah mengakuinya
Terima saja terima

Menunggu itu bosan
Bosan yang memusingkanku
Coba saja kau merasakan
Terima saja terima

Apa sih yang kau tunggu
Apa sih yang kau mau
Langsung saja
Coba katakan ya
Coba katakan ya
Coba katakan ya setuju

Kau pikir aku santai
Kau pikir aku sabar
Langsung saja
Coba katakan ya
Coba katakan ya
Coba katakan ya setuju

Akhir - akhir ini sering banget denger lagu ini.. mantab...!!!
Kebutuhan akan sebuah pengakuan, tapi disampaikan secara jujur, blak2an, tapi tidak lebay.
Adakah yang mau menjawab Ya Ya Ya di media...?
gak nyambung ya.. :P


Read more...
Sonic Run: Internet Search Engine
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP