Search This Blog

Cpx24.com CPM Program
Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Bergerak atau Diam

Monday, October 18, 2010


Jadi aku punya teman, orangnya cukup sibuk dengan pekerjaannya. Biasa sih, ceritanya juga biasa - biasa saja. Tentang orang yang sibuk.
Ini ibukota, kalau kau tidak sibuk, kamu mati atau jobless.

Pernah dia kepikiran untuk pindah dari kerjaannya yang sekarang dikarenakan waktu untuk dirinya sendiri bahkan tidak ada.
Senin sampai Jum'at, bukan office hour. Paling cepat pulang jam 10 malam, weekend sabtu-minggu harusnya adalah saat untuk bersenang-senang.
Tapi sabtu dia disibukkan dengan tugas ekstensi kantor, dan minggu... membuat laporan untuk diterbitkan senin. Hectic.

Sebetulnya selama kita nyaman dengan apa yang kita kerjakan, semuanya akan terasa lebih mudah.
Hanya 2 hal yang paling sering membuat orang "khususnya yang belum menikah" untuk pindah dari kerjaannya. Lingkungan dan Gaji.
Sayangnya, temanku itu terkena yang ketiga, diperbudak pekerjaan.

Dia mulai mengeluh tentang weekend yang dihabiskannya untuk bekerja, mulai berpikir untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.
Lebih baik dalam artian waktu, soal lingkungan kerja, dia tidak ada masalah, apalagi soal gaji, cukup untuk selalu mentraktir saya kalau ketemu.

Sudah beberapa kali dia bilang, aku pengen pindah, aku mulai stres, makan aja sampai lupa, sampai gak bernafsu.
Banyak lagi....... dan selalu ada kata 'TAPI'.
'Aku pengen pindah tapi masih bingung mau kerja apa'

Terakhir dia menyuruhku untuk memberinya semangat agar keluar dari pekerjaannya.
Karena dia juga meminta saranku, yang keluar hanyalah 'ya udah, segera keluar'.
Tidak membantu katanya, jelas-jelas dia memintaku memberi semangat untuk keluar dari pekerjaannya, ataukah hanya ironi untuk memberinya semangat agar bertahan di pekerjaannya.. ah gak taulah, aku tidak pandai beretorika.

Terlalu banyak tapi, terlalu banyak hitung-hitungan, terlalu banyak argumen.
Jadi orang nekad sekali-sekali tidak apa-apa kan.
Mungkin juga aku tidak memberi solusi, menyarankan seseorang untuk jadi pengangguran.
Sekali lagi, semuanya tentang pilihan.
Mudah memang mengatakannya, lebih mudah memang menyarankan saja. Membantu pun tidak, cuma menambah masalah.

Setiap orang punya pilihan, dan pilihan selalu berbarengan dengan resiko

Seperti kata Caknun :

Ketika anda akan masuk hutan lalu anda berdebat tentang apa saja yang akan anda temui selama dalam hutan, percayalah, anda tidak akan masuk hutan.

Kalau mau masuk hutan, masuk aja. persoalan ketemu macan, mau ketemu ular, tersesat, ya sudah dihadapi. Mati atau selamat, itu sudah urusan tuhan, tinggal pilihan kita, mau mati atau mau selamat.


Kalau mau keluar, ya keluar aja. Tinggal memilih, mau lebih baik atau pasrah.
Dilema.. pasti.
Orang susah nyari kerjaan, ada yang nganggur bertahun-tahun belum dapat kerja.

Mungkin akan banyak yang mencibir, bodohnya kamu, pekerjaan bagus kok ditinggal.

Mungkin aku juga akan mencibir, bodoh, kalau hanya gara-gara kerjaanmu kau membunuh dirimu pelan-pelan.

Read more...

Lebaran Dan Rupa-Rupa

Sunday, September 12, 2010

Benar kata orang, lebaran itu lebih enak di rumah. Mau seperti apa bentuk rumahnya, home sweet home.
Mudik merupakan sebuah seni menjelang lebaran, momen sekali setahun berkumpul dengan keluarga, dengan tujuan yang khusus.
Bagaimanapun keadaannya, mudik adalah hal yang wajib bagi yang jauh dari rumahnya.
Ucapan maaf ketika mencium tangan orang-orang tercinta saat lebaran terasa khidmat, diiringi gema takbir yang membuat semuanya menjadi lebih syahdu.

Dulu waktu aku kecil, lebaran adalah baju baru, kue-kue yang banyak dan salam tempel dari keluarga.
Ditambah makanan seperti rendang, ketupat, dendeng balado, ayam gule sampai lemang. Lebaran yang seperti itu selalu ditunggu.
Berkunjung dari satu rumah ke rumah yang lain, berharap isi kantong semakin banyak. Lebaran yang menyenangkan.
Sampai sekarang, suasana itulah yang selalu ditampilkan lebaran.*tapi sekarang baju baru beli sendiri dan jatah salam tempel adalah milik ponakan-ponakan*
Dua kali aku kehilangan momen itu.
Dua kali aku berganti suasana lebaran, tahun lalu di satu tempat yang istimewa di tengah Jawa dan kali ini di Ibukota negara ini.*Mudah mudahan tidak jadi bang Toyib*
Banyak perbedaannya, tapi yang jelas satu yang sama. Dua-duanya bukan di rumah.
Rasanya..? lain, cobalah tanya pada orang yang pernah melewatkan mudik.

Setelah sholat Ied kemarin, aku ngebut dari Casablanca sampai Sudirman, melewati Kuningan terus ke Gatsu dan balik lagi ke Pancoran-Tebet.
Mungkin di hari biasa, butuh lebih setengah hari melewati rute itu.
Sempat aku pelankan laju motorku di Sudirman, dan berhenti di dekat patungnya.
Yang kupikirkan adalah, biarlah Sudirman yang menjadi orang pertama menerima jabatan tangan permintaan maafku, sayang terlalu tinggi dan aku tidak ingin berakhir seperti Naga Bonar.

Jadi bagaimana lebaranmu kali ini kawan?

Aku pernah ditanya begini, "apa makna lebaran buatmu?"
Berkumpul dan bergembira. Sesimpel itulah jawabanku.
Aku tidak pernah merasa lebaran sebagai sebuah hari kemenangan.
Lebaran adalah saat dimana kita berkumpul dan bergembira dengan orang-orang terdekat kita.

Bergembiralah bagi yang sedang berkumpul dengan orang-orang terdekatnya.
Dan buat orang-orang yang jauh dari rumahnya, karena alasan pekerjaan, kuliah, ekonomi sampai yang tidak kuat fisik, tetaplah bergembira.
Walaupun wajah tidak berhadapan, tangan tidak berjabat, biarlah hati yang bertemu.

Selamat hari raya Idul Fitri 1431 H,
Mohon maaf lahir dan batin.

Read more...

Salamku Untukmu

Monday, August 30, 2010

Apa kabarmu disana?
Masihkah paras ayu dan tatapan sayumu yang kau tawarkan padaku?
Aku tahu kau tidak akan terganti, sekuat apapun aku mencoba, tetap yang kuinginkan hanyalah auramu
Bahkan aku pernah meminta pada tuhan untuk menghadirkanmu di bunga tidurku

Kau ingat ketika kita berpisah di persimpangan dan memilih arah yang berbeda?
Aku tidak benar-benar memilih, aku kembali ke persimpangan itu, menunggumu
Tiba-tiba aku mengkhawatirkan masa depanku, bahwa ada yang lebih mencintaimu daripada diriku
Aku pasrah pada langit, tapi angin selalu menyusupkan namamu di setiap hirupan nafasku

Pergi bukan berarti hilang
Pergi hanyalah satu cara ketika keadaan memaksa kita memilih jalan yang berbeda
Ada yang pergi dan pasti ada yang ditinggalkan
Tapi tidak pernah ada yang benar-benar hilang

Lihatlah, takdir sedang mencandai kita
Kau tahu sepuluh tahun lagi aku akan menua, 20 puluh tahun lagi mungkin penyakit akan rutin menjengukku
Tapi kau tetap akan cantik, walaupun mungkin nanti 30 tahun lagi aku akan melupakanmu
Tidak apa-apa, hidup memang harus dijalani

Sudahlah, aku hanya punya doa yang tidak akan pernah habis untukmu
Mari kita lanjutkan hidup kita, tapi aku tidak akan meminta izin jika sewaktu-waktu aku ingin memutar lagu yang mengingatkanku padamu
Atau tiba-tiba melihat wajahmu di deretan gambar-gambar imajinasi yang menarikku ke lorong kenangan
Kuharap aku bisa tersenyum sambil menikmati kopiku, memandang langit yang sedang memerah menunggu sang malam menjemputnya

***************
Termotivasi ngeblog karena kuis agustus di ceritaeka :D

Read more...

Lost In Bali -2-

Tuesday, April 6, 2010

Kuhabiskan seminggu lagi di bali, berjalan-jalan menghitamkan kulitku *dan sekarang sudah seperti ular, ganti kulit*
Aku ke pantai, ke Ubud, ke hutan Mangrove dan menikmati Bali yang tetap ramai walau hari kerja sekalipun.

Kebebasan yang ditawarkan Bali ternyata masih jadi daya tarik utama untuk orang-orang, baik dalam negeri maupun luar negeri.
SARA adalah topik yang tidak populer di Bali.
Selain kebebasan, hal yang paling aku senangi di Bali adalah pemeliharaan tradisi, terlepas itu jadi bagian dari agama.
Mereka *orang-orang Bali* begitu menjaga warisan pendahulu mereka di tengah arus modernisasi yang didatangkan oleh turis.

Sebetulnya aku masih ingin berlama-lama di Bali, tapi beberapa hari terakhir cuaca di Bali mulai tidak asyik *hujan terus maksudnya*, ditambah lagi PDIP mau mengadakan kongres disana *gak ada hubungannya*, dan kantong yang semakin kempes *ini baru benar*, hari Sabtu kemarin aku memutuskan meninggalkan Bali.

Berniat langsung ke Yogya, tapi akhirnya aku memutuskan untuk singgah di Malang, menemui kakakku yang habis dilamar anak orang. Bertanya ini-itu tentang keluarga di kampung, bercerita banyak hal dan terhenti di satu pertanyaan..

"kemana kau setelah ini..?" tanya kakakku
Aku berpikir sejenak, menimbang lalu memutuskan
"Pare Kediri, mau mondok belajar bahasa Inggris"


***

PS : - Anak pantai yang bertebaran di Kuta kebanyakan adalah orang Batak, tidak sengaja melihat mereka bermain bola dan semuanya berbahasa batak. :))
- Malang selalu hujan, siang sampai malam.. ah gak asyik.
- Besok rabu ke Pare, rencana sebulan. Ada yang berminat..? :D

Read more...

Lost In Bali -1-

Sunday, March 28, 2010

Meminjam istilah duo kartunis Benny dan Mice, aku terdampar di sini, di pulau yang katanya pulau para dewata.
Tidak ada niatku untuk ke pulau ini, awalnya aku hanya browsing di internet lalu ketemu artikel yang mengatakan kalau Yogya-Bali bisa ditempuh dengan menghabiskan dana kurang lebih Rp. 75.000 *murah meriah mencret, bah*.
Berbekal iman yang kurang kuat dan imajinasi liar tentang Bali, perjalanan penuh sensasi inipun dilakukan.

***

Rabu, 24 Maret 2010
Jam 07.30-22.00
Menaiki kereta ekonomi Sri Tanjung menuju Banyuwangi, modal Rp. 35.000 dan panasnya hari membuat perjalanan itu cukup berkesan.
Aku ketemu rombongan anak-anak Magelang yang hendak menaiki Gunung Agung.
Melihat Kerilku, mereka berpikir aku juga akan naik gunung ke Bali *tapi ternyata salah, aku mau lihat bule-bule di pantai* :))

Sepanjang perjalanan kuhabiskan dengan tidur membabi buta.
Tidak peduli cuaca panas dan ramenya penumpang, pokoknya tidur *dan selalu terbangun kalau kereta berhenti, panas banget* :D

Jam 23.00-03.00
Sampai di stasiun Banyuwangi baru, aku dan rombongan pendaki itu naik ke bis yang ada di pelabuhan Ketapang.
Membayar Rp. 30.000, melanjutkan tidur dan terbangun ketika sudah sampai di terminal Ubung, Denpasar. *lihat, betapa murahnya ke Bali, cukup ditinggal tidur saja tahu-tahu sudah sampai* :D

Berita bagus buatku karena aku punya seorang teman SMA yang kebetulan kuliah di Bali *dan baru lulus, jadi masih pengangguran* :))
Aku hubungi dia untuk menjemputku ke Terminal dan dia cukup sigap untuk tidak lama-lama datang *mungkin tahu temannya ini tersesat seperti anak hilang* :)

Kamis, 25 Maret 2010
Jam 13.00-21.00
Aku terbangun ketika matahari sudah di ubun-ubun kepala.
Keasyikan bercerita tentang masa lalu membuat kami baru bisa tidur jam 7 pagi.
Diteriaki cacing-cacing yang sudah kelaparan, aku mandi dan cari warung makan *tentu dengan temanku itu*

Setelah makan kami berangkat ke kampusnya, melihat temannya yang sedang ujian proposal.
Sorenya ke Kuta, menikmati sunset sambil cuci mata *lihat yang iya-iya* :D
Malamnya tetap di Kuta, nongkrong. *tetap lihat yang iya-iya* :))

Jum'at, 26 Maret 2010
Jam 09.00-22.00
Aku memaksa temanku itu untuk menjadi guideku selama di Bali *iyalah, kalau disuruh jalan sendiri aku gak ngerti Bali, ini pertama kalinya aku ke Bali*
Berangkatlah kami menuju pantai yang katanya dulu MLTR pernah membuat v-klip waktu di Bali dan sempat ditutup karena Julia Robert ingin berenang disini. Namanya pantai Padang-padang *aku baru dengar*, kata temanku sih ini pantai cukup terkenal *di kalangan bule-bule*.

Perjalanannya cukup lama, dan memang di pantainya tidak banyak orang-orang lokal, isinya bule-bule entah dari mana-mana, menyuguhkan pemandangan yang cukup merusak iman. *untunglah aku membawa kacamata hitam, jadi cukup aman untuk lihat yang iya-iya* :D

Sampai siang kami disana, menikmati pemandangan yang begitu indah *pantai dan karangnya bagus banget* :P
Diabadikan melalui kamera HP *gak bawa kamera sih, sayang banget * , kita melanjutkan perjalanan menuju Dreamland *saatnya mandi-mandi, itu kata temanku* tapi kita mampir dulu ke tempat temannya untuk numpang ngaso, panas.

Puas mandi-mandi dan tetap dengan mata kemana-mana *hasilnya siku lecet nabrak karang*, kita langsung ke GWK Cultural Park.
Kebetulan temannya temanku ada yang jaga disana, kita gratis masuk dan menikmati pertunjukan disana, lalu foto-foto di bawah patung Garuda dan patung Wisnu *emang bener, gede banget euy..* :D

Sabtu, 27 maret 2010
Jam 10.00-13.30
Hari ini kita rencana tidak ke pantai, bukan karena bosan tapi takut imannya gak kuat lagi. :D
Akhirnya kita memutuskan untuk menengok *halah batak kalipun bahasanya, hehehe* museum perjuangan rakyat Bali.

Bangunannya cukup eksotik, di dalam kita disuguhi diorama-diorama Bali dari jaman pra-sejarah sampai jaman setelah kemerdekaan. *keren tapi sayang kenapa ya museum kurang diminati masyarakat, padahal disitulah semua bermula*

Puas melihat-lihat isi museum, kita memutuskan untuk balik ke kos *lenyeh-lenyeh, Bali sangat panas kalau siang*

16.30-18.30
Setelah dipikir-pikir, memang di Bali kalau tidak ke pantai rasanya kurang afdol, jadilah kami ke pantai Sanur untuk jalan-jalan menghabiskan sore *niat pertama cuma jalan-jalan, terakhirnya malah asyik main kano. Benar-benar abege labil* :))

Minggu, 28 maret 2010
10.00-18.00
Sebenarnya kami ingin memulai hari ini dengan melihat sunrise di Sanur, tapi apa daya, bangunnya saja jam 9 pagi, matahari sudah naik terlalu tinggi.
Rencana hari ini adalah ke Uluwatu, melihat Pura para Ksatria dan foto-foto dengan keluarga kera disana.
Perjalanan jauh nan melelahkan ke Uluwatu terbayar lunas dengan keindahan Uluwatu itu sendiri *recomended deh pokoknya, tidak terlukiskan dengan kata-kata*.

Sampai siang kami disana, serasa ingin menghabiskan hari disana saking bagusnya tapi temanku berkata dekat situ ada pantai Uluwatu yang sangat eksotik.
Demi mendengar kata eksotik, aku langsung paham dan segeralah kami kesana.
ternyata pantai itu adalah tempat orang main surfing, sangat keren pantainya dan sangat banyak pemandangan yang merusak iman *sama seperti padang-padang, tempat ini tidak banyak dikunjungi turis lokal, isinya bule-bule tok* :D

Sampai sore kami disana, sampai mataku terbiasa melihat pemandangan-pemandangan itu *pantainya, ini juga recomended deh, top*, kami memutuskan ke Nusa Dua, makan rujak *makan rujak aja jauh banget hahaha*

Pulang ke kos, badan lelah tapi pikiran dan imajinasi liar tetap membara.
habis mandi langsung nyari makan dan warnet, nulis blog. :D

***

Inti dari tulisan ini sebenarnya hanyalah mengabarkan kepada khayalak ramai kalau aku sedang di Bali *gak penting, dilempar asbak*, menikmati ketersesatan yang cukup menyenangkan ini, mataku cukup termanjakan disini *dilempar keranjang sampah* dan kalau ada yang bilang di Bali menguras kantong, itu sama sekali tidak benar *iyalah, wong dapat gratisan terus, dilempar recehan*

Entah sampai kapan aku disini, mungkin sampai besok, minggu depan atau bulan depan.
Biar kunikmati dulu, hitung-hitung sebagai ganti karena gagal ke Karimun Jawa. :D

Read more...

Menikmati Panggung Kebersamaan

Sunday, March 21, 2010

Aku datang lagi ke acara itu setelah 5 bulan absen.
Suasana yang masih sama, semangat berbagi dan pluralisme yang tetap dinomorsatukan.
Udara yang cukup dingin karena sepanjang sore diguyur hujan tidak membuat surut yang datang.
Aku datang lebih awal, sekitar jam 8 malam. Masih sempat mengisi perut dengan angkringan di depan panggung dan segelas teh hangat sambil melihat-lihat suasana sebelum acara itu dimulai.

Malam itu termasuk spesial, karena Kiai Kanjeng sedang melakukan rekaman langsung di atas panggung untuk lagu-lagu sholawatnya. Pengunjung yang datang akhirnya kecipratan untuk mengisi suara jamaah dan diulang beberapa kali hingga terdengar mantab. *Ternyata untuk mengambil suara saja butuh take berulang-ulang :)*

Cak Nun menyapa pengunjung dengan ramah, sambil menjelaskan rangkaian acara malam itu, tentu tidak lupa dengan sentilan-sentilan khasnya yang membuat suasana langsung meriah.

Pengambilan suara membutuhkan waktu hampir satu jam. Setelah cukup puas, acara maiyah diawali Cak Nun dengan resume-resume yang tejadi belakangan ini, seperti dipanggilnya dia ke MK untuk memberikan pandangannya sebagai ahli tentang UU penodaan agama. Dia bersedia hadir karena permintaan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, sama seperti kedatangannya di Rembang untuk peresmian mesjid, itu karena permintaan Gus Mus.

Saya sekarang mulai memilah-milah permintaan apa saja yang datang pada saya. Bukan saya tidak percaya pada orang atau kelompok yang mengundang saya, tapi saya kehilangan alasan untuk datang. Jika di acara itu ada saudara-saudara saya atau sahabat-sahabat yang saya percayai, maka saya akan datang karena mereka.


Setelah resume Cak Nun lalu disambung oleh resume dari pengurus Kenduri Cinta, kemudian disambung oleh Cak Fuad, yang merupakan penggagas pertama acara Maiyahan ini tahun 1998.
Cak Fuad bercerita tentang konsep perbedaan, sangat menarik.
Bahwa perbedaan itu sesuatu yang harus ada, itulah yang menandakan manusia itu berakal.

Berbeda itu boleh, yang tidak boleh adalah perselisihan karena perbedaan


Yang paling penting kata Cak Fuad adalah bagaimana mencari solusi ketika terjadi perbedaan. Ada yang sepakat untuk satu kata, ada yang sepakat untuk tidak sepakat, itu sah-sah saja asal tidak menjadi permusuhan satu sama lain.

Setelah Cak Fuad menguraikan tentang perbedaan dengan cukup serius *tapi santai*, Cak Nun menanggapi dengan memberi contoh-contoh

"Yang melakukan pengeboman adalah teroris, Muslim bagi orang Barat adalah teroris, Israel bagi muslim adalah teroris, yang ditembak kemarin adalah teroris, lha semuanya teroris."

Cak Nun lalu mengurai

"Teroris diambil dari kata teror, berarti yang melakukan teror disebut teroris.
Tuhan juga memberi kerusakan berupa gempa di Padang dan Cile, apa tuhan juga teroris?, bagaimana kita bisa menyebut seseorang teroris?, adakah hukum atau UU yang mengklasifikasikan bahwa seseorang itu disebut teroris?"

"Itu semua bahasa budaya, bahasa psikologi, bahasa antropologi dan kelemahan yang paling mendasar tentang perbedaan di negara kita adalah bahasa Indonesia. Lihat semua pasal di UU, tidak ada satupun menggunakan bahasa hukum, semuanya bahasa budaya,psikologi dan antropologi. Bagus secara sosial kemasyarakatan tapi lemah untuk menegakkan hukum, hingga bisa dipelintir penguasa"

"saya melaporkan sia anu karena perbuatan tidak menyenangkan, tidak menyenangkan menurut siapa?, adakah ukuran menyenangkan-tidak menyenangkan dalam hukum?, berarti presiden pidato bisa saya laporkan, karena pidatonya tidak menyenangkan menurut saya"

Suasana terasa cair, Cak Nun pintar memainkan ritme. Kapan waktunya serius, kapan waktunya membuat hadirin terbahak-bahak *kebanyakan sih ketawa terus*

Hampir jam 1 malam, Cak Nun dan Kiai Kanjeng pamit mundur karena besok paginya harus sudah ada di Semarang. Acara tetap berlangsung, di panggung sudah ada Kiai Budi dan Sabrang yang lebih dikenal sebagai Noe 'Letto', tercatat juga sebagai anaknya Cak Nun.

Sabrang mengurai tentang fatwa rokok, bahwa ada monopoli kenapa sampai fatwa itu didukung oleh perusahaan rokok terbesar dunia Philip Morris. Standar ganda untuk menjadi penguasa tunggal, begitu pendapat Sabrang tentang fatwa rokok ini.

Setelah Sabrang, acara puncaknya diserahkan kepada Kiai Budi yang sudah jadi langganan tetap Mocopat Syafaat. Kiai pengagum Rumi ini menjelaskan tentang Cinta, konsep pohon yang berbuah, bahwa kita tidak dinilai dari identitas kita tapi kelakuan kita.

Perumpamaan-perumpaan yang dia paparkan cukup membuat suasana malam yang sudah beranjak subuh tetap bergairah, bahasanya yang tinggi, vulgar tapi kocak membuat penonton *khususnya aku* merenung sekaligus tertawa.

Dia juga menjelaskan tentang pandangan fisik, akal, nafsu lalu hati. Sangat menarik.

Ketika kau memandang wanita dengan fisikmu, yang kau lihat hanya onggokan daging berisi tulang, nanah dan darah. Ketika kau melihat wanita dengan pikiranmu, kau akan melihat suka atau tidak suka. Ketika kau melihat wanita dengan nafsumu yang bernama ego, kau akan melihat menang atau kalah.
Lewatilah ketiga tahap itu dan lihatlah wanita dengan hatimu, kau akan melihatNya dalam ciptaanNya


Di acara itu juga tampil teman-teman dari suku Mandar membawakan lagu dengan alat musik tradisional mandar, juga ada puisi rusak-rusakan yang mengocok perut dari Mustofa W. Hasyim dan tentu saja Kiai Kanjeng yang sangat terkenal *di kalangan jamaah maiyah* :D

Malam yang menyenangkan, aku pulang jam 2.30 pagi, tidak sampai tuntas karena aku tidak ikut dengan doa penutupnya. Disamping perjalanan cukup jauh dan udara dingin, aku juga harus bangun pagi untuk sebuah urusan.


Mocopat Syafaat
17-18 Maret,
Taman Tirto, Kasihan, Bantul, DIY



*Ini draft posting udah dari tanggal 18 Maret, baru sekarang buka internet dan publish*

Read more...

Aku Datang Lagi

Tuesday, March 16, 2010

Bicara tentang mimpi, tentang sebuah pelepasan
Kita sepakat, kau menungguku disana
Dan sekarang aku telah datang
Membawa banyak cerita

Mencium lagi bau tanah basah sehabis hujan
Berteman dengan dinginmu, bermain dengan mitosmu
Ini bukan pertemuan kita yang pertama, tapi ini cukup berkesan
Kau bersembunyi di balik kabutmu dan aku telah berdiri di puncakmu

Terimakasih telah menjamuku dengan hujanmu
Terimakasih untuk hadiahmu yang cukup membekas
Biarkan aku meneruskan pelarianku
Semoga kita bertemu lagi, dengan cerita yang lain



Gunung Lawu, 3265 Mdpl
14-15 Maret 2010

Read more...

Benteng, Oseng-oseng, Klithikan, dan Angop

Saturday, March 13, 2010

Kemarin sore aku jalan-jalan di sekitar Malioboro bersama seorang teman SMA-ku. Semacam reuni, padahal kami di kota ini sudah bersama-sama hampir 7 tahun, cuma memang setelah tahun baru kami tidak pernah ketemu, aku ke Sulawesi dan dia ke Palembang.

Bercerita di sekitar Benteng Vredeburg, mengenang masa-masa lalu sambil memperhatikan lalu lalang kenderaan, dan juga merencanakan masa depan sebagai sesama pengangguran habis putus kontrak. :D

Bertemu dengan dua orang teman lain yang sama-sama sedang menghabiskan sore, tidak terasa matahari mulai terbenam. Total 4 lelaki di seputaran benteng, ngobrol ngalor-ngidul dengan topik yang semakin fokus, wanita. :)

Beranjak malam, memutuskan untuk mengisi perut di sekitaran Jl.Ahmad Dahlan, pilihan jatuh ke oseng-oseng mercon yang cukup maknyus kata pak Bondan.
Sambil ber-haaa.. ha.. hii.. hii... *karena kepedasan*, tersiarlah kabar kalau ada seorang teman yang sudah hampir 6 bulan di kota ini belum pernah ke Pasar Klithikan *kemana aja kau lae* :D

Demi memuaskan rasa penasarannya, sehabis makan berangkatlah kami ke pasar Klithikan, sering juga disebut pasar maling, tempatnya para penadah barang-barang bekas atau curian *begitu yang aku tahu*.
Dulu pasar ini berpusat di sepanjang jalan Mangkubumi, dekat Tugu Yogyakarta, tapi sekarang direlokasi oleh pemerintah dan dibuatkan tempat khusus.

Sampai di pasar Klithikan, cuci-cuci mata sambil berharap ada barang yang cukup menarik hati dan kantong, celanaku bergetar, ternyata ada telepon. Seorang teman meneleponku untuk sekedar menumpahkan unek-uneknya, gagal long weekend dan dibuang kantornya ke Ujung Kulon untuk liputan *padahal sih sama-sama liburan juga* :)

Cukup lama telepon itu putus nyambung *maklum telepon kantor, gretongan*, tiba-tiba teman SMA-ku itu mengaduh di sampingku.
Menggerak-gerakkan mulutnya, meludah, dan gelisah.

"na mangua doho..?" *kau kenapa?* aku bertanya
"na uboto puang, na ra martutup babaku, songon kram" *aku gak tahu, mulutku gak bisa nutup, seperti kram* temanku menjawab, dengan suara seperti dikumur-kumur.

Langsung aku menyudahi pembicaraan di telepon dan bertanya apa yang harus kita lakukan, temanku memilih pulang, aku memilih ke rumah sakit.
Pamit kepada 2 teman lain, segera meluncur ke rumah sakit terdekat.

"roakku i tampar begu doon" *mungkin ditampar setan ini* begitu racau temanku
"mungkin" jawabku singkat

Sampai di rumah sakit terdekat, ke bagian pendaftaran. Setelah suster melihat kondisi temanku, mengajak kami ke IGD.
Ada beberapa dokter disana, bertanya ini itu kepada temanku, lalu menyuruhnya duduk di dekat tiang.
Satu orang memegang kepalanya, satu orang memegang mulutnya. Hitungan detik sudah kembali lagi, normal.

"ini namanya angop, mungkin mas menguap atau tertawa terlalu lebar, jadi sendi yang di mulut bergeser" begitu penjelasan dokter

Untunglah tidak perlu obat, hanya disuruh untuk berhati-hati dan menjaga jangan sampai kejadian lagi.
Membayar administrasi rumah sakit lalu memutuskan untuk pulang.

Aku menemukan pesan moral setelah kejadian itu

"jangan menguap terlalu lebar, kalau kau tidak ingin kehilangan uang 100 ribu. Mahal harganya untuk ukuran pengangguran"

hahahaha

Read more...

Tentang Hujan Dan Sebuah Cerita Dari Selatan

Wednesday, March 10, 2010

Sepertinya langit sedang marah, atau kita yang sudah tidak mengerti bagaimana cara berteman dengan alam.

Sudah dua hari ini Yogya diteriaki petir dan hujan angin yang cukup ekstrim.
Kemarin aku di rumah, menemani keponakan2ku dan memindahkan barang-barang penting yang sedang dirembesi hujan.
Sambil mendengarkan petir dan kilat yang bersahut-sahutan, menggantikan suara tv yang sudah tidak menyala lagi, mati lampu.

Dulu aku paling takut mendengar suara petir, tapi kemarin aku menikmati setiap suara yang dihasilkan langit.
Sampai isya hujannya tidak berhenti, syukurlah keponakan2ku tidak terlalu takut akan gelap, malah bermain meniup lilin-lilin yang dinyalakan, menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Aku menikmati semuanya, celotehan bocah-bocah dan irama hujan.

Selepas isya baru hujannya agak reda, walau masih menetes tapi pelan-pelan. Gerimis.
Aku dihubungi seorang teman, mengajak keluar untuk sekedar menghabiskan malam dan kusuruh menunggu sampai orangtua keponakanku tiba di rumah.
Tidak lama mereka datang, dan aku pergi, menghabiskan malam sambil ngopi2. Ditemani gerimis.

***

Hari ini aku ke pameran buku, hanya melihat-lihat.
Melihat buku-buku diskon yang ternyata menggoyahkan iman, membeli satu buku, padahal aku sedang tidak minat membaca.
Setelah dari pameran buku, aku berjalan-jalan. Mengikuti arah stang motorku yang entah kemana, tanpa tujuan.

Lalu aku teringat, kalau tali jam tanganku putus dari dua minggu yang lalu dan belum sempat kuperbaiki, tepatnya sih diganti.
Kubawa motorku ke arah selatan, ke tempat yang aku tahu adalah tempat terbaik untuk urusan bahan kulit, Manding.

Sampai disana, bertanya sana sini, hingga akhirnya aku ke tempat pembuatan kulitnya, memberi contoh kulit jam tanganku yang untungnya kubawa di tas kecilku.
Cukup 15 ribu dan aku dijanjikan kulit yang setara dengan aslinya.

Santai sejenak di angkringan untuk membasahi kerongkongan dan mengasapi mulutku.
Ngobrol ngalor ngidul dengan si penjual angkringan tentang hujan kemarin, tidak terasa, langit mulai menghitam.

Kuputuskan untuk segera pulang, takut hujan segera turun dan aku tidak membawa jas hujan.
Baru sampai perempatan Manding, gerimis sudah turun.
Aku tidak berbelok ke kiri ke jalan Parangtritis, lurus terus melewati jalan yang bukan jalan utama yang aku tahu tembusnya adalah jalan Imogiri. Lebih cepat ke Jalan Solo, pikirku.

Sampai di jalan Imogiri, hujan sudah tidak tertahan, tumpah ruah membasahi apa yang ada di bawahnya, tetap dengan kilat dan petir-petirnya.
Basah, dan mencari tempat berteduh, akhirnya aku menemukannya juga.
Berteduh bersama beberapa motor dengan kondisi yang sama denganku, tanpa jas hujan.

Aku memandang sekitar, melihat sawah dan lalu lalang kenderaan yang menerobos hujan.
Ada lapangan luas lalu agak jauh ada sebuah Rumah Sakit, dan tiba-tiba aku merasa mengenal tempat ini.

Tempat yang sekitar empat tahun lalu pernah menjadi tempat wara-wiriku hampir 2 minggu bersama teman-teman kampus.
Sekedar membantu apa saja, menguatkan hati saudara-saudaraku yang tertimpa musibah yang bernama gempa bumi.

Aku menatap rumah sakit itu dari kejauhan, lebih besar dari yang dulu dan sedang diperbaiki, mungkin akan dibuat lebih besar.

Syukurlah sekarang setiap orang yang kutemui di tempat ini bisa memberi senyum tulus, walau dulu mereka begitu banyak kehilangan.

Read more...

Hei Ayah..

Friday, March 5, 2010

Seorang anak SMP berjalan pulang menuju rumah dari sekolahnya, ketika itu hari jum'at dan di kampung tempat si anak itu tinggal ada keluarga yang sedang melakukan hajatan hingga warga berkumpul.
Sesampai di rumah, si anak dipanggil ayahnya

"Benarkah yang kudengar di rumah kepling itu..?" kata si ayah

Si anak diam mematung di tempatnya berdiri, tahu kemana pembicaraan itu dan tidak berani menjawab

"Heh, kau dengar aku. benar atau tidak..!!! Kalau tidak benar biar kupukul si Kribo itu.."
"Benar yah.."

PLAAKKK...

Sebuah tamparan mendarat di pipi si anak, si ayah menyuruh masuk kamar.
Membuka ikat pinggangnya, menampar lagi si anak.

"Kau tahu, aku tidak pernah mengajarimu jadi pencuri. Apakah uangmu kurang hingga kau mencuri barang yang harganya tidak melebihi uang jajanmu.."

Si anak sudah terisak

"Kau membuat malu, hancur hatiku melihatmu berbuat seperti ini. Anak kurang ajar.."

Setelahnya berbagai macam pukulan, tendangan dan patahnya sebuah sapu menjadi bukti bagaimana remuknya hati ayah melihat anaknya melakukan sebuah tindakan tidak terhormat, mencuri. Mencuri gelang-gelang besi imitasi dari rumah tetangganya yang saat itu lagi tren. Dan tetangganya yang orang minang kebetulan adalah penjual grosir di pasar.
Kejahatan anak-anak masa puber, dilakukan tanpa memikirkan resiko bersama teman-teman sepermainan, hanya untuk gaya-gayaan dan orang-orang di kampung cukup arif untuk menyerahkan ini kepada keluarga masing-masing.
Tersangka 10 orang, sebaya dan dihajar babak belur oleh ayahnya masing-masing. Terselamatkan oleh bunyi adzan sholat jum'at.

"Pergi mandi dan jum'atan, habis itu langsung pulang"
"Iya yah.." jawab si anak disela isak tangisnya.

Dan si anak tahu, ayahnya tidak akan pernah lagi membahas masalah itu. Ayahnya yang tempramental tapi bukan pendendam, ayahnya yang berani melawan semua orang jika dia benar, mungkin jika dia berbohong dan berkata tidak melakukannya, bisa dipastikan ayahnya akan membelanya dan dia tahu itu.
Tapi tidak kali ini, ayahnya sudah cukup malu.

***

"Hidup 5000"
"Mati.."
"Ada samping-samping lagi gak sebelum diangkat..?"
"Bentar-bentar.."

Keriuhan pemuda-pemuda kampung di belakang rumah seorang engkong-engkong Cina, sedang melakukan permainan judi "martuo'". Dua keping logam Rp.50 atau Rp.100 diletakkan di tangan lalu disentil ke atas, kalau yang jatuh ke tanah gambar keduanya sama maka dikatakan hidup, Kalo beda dikatakan mati.
Ketika itu lebaran, masih banyak yang memberi salam tempel dan banyak orang yang pulang kampung. Bertemu keluarga dan teman-teman lama.

Yang memegang koin adalah seorang anak SMA tahun ketiga, disaksikan pemuda-pemuda kampung yang sedang memegang taruhannya masing-masing di tengah-tengah lingkaran besar.
Koin itu terangkat, dan sebelum jatuh ke tanah, para pemuda berhamburan lari kesana-kemari, menyelamatkan diri.

"Uwak datang...!!!!"

Si anak antara mengambil duit atau kabur, akhirnya diam di tempat. Tidak melakukan apa-apa.

"Pulang"
"Iya yah.."

Adzan pertama sholat magrib udah terdengar, si anak berpikir paling ayahnya akan berjalan lurus ke mesjid, tapi dugaannya salah. Ayahnya mengikutinya sampai ke rumah.
Masuk rumah dan ke ruang tv, diikuti ayahnya dan pandangan heran ibunya.
Sekarang sudah tidak perlu lagi bentakan atau ucapan pembukaan, tendangan pertama, kedua, tamparan hingga sapu.

Dan yang paling kurang ajar, si anak menangkis beberapa, mungkin kesal merasa sudah tidak pantas menerima perlakuan begini.

"Kau melawan sekarang.. hah.. Sudah jago perasaanmu"

Makin kesal ayahnya, sudah tahu salah, melawan lagi.
habislah si anak dihajar ayahnya, kali ini tanpa isakan air mata. hanya benjol di kepala.
Setelah itu ayahnya pergi sholat maghrib sekaligus isya ke mesjid, si anak akhirnya menangis di kamar mandi, ibunya mengusapi kepalanya yang benjol.

***

"Kau jangan kuliah disini, ke Yogya aja. Lagian ada kakakmu disana"
"Iya yah..."

Ibunya keberatan kalau anak bungsunya kuliah jauh lagi, seperti anak-anaknya yang lain, biar yang ini agak dekatan, begitu kata ibunya.

"Kau mau dia di bawah ketiakmu terus, biar dia belajar. Bertemu orang-orang baru, banyak ilmu disana, terutama ilmu hidup."
"Tapi kalau aku rindu, mereka jauh-jauh semua. Biar ada yang bisa nengokin kalau kita ada apa-apa"
"Halah, jangan egois. Ini untuk mereka"

Ibunya hanya bisa bersungut-sungut lalu memberi petuah panjang lebar tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di rantau orang. Panjang kalau dijabarkan satu-satu.
Tiba giliran ayahnya, tumben simpel banget. hanya 3 hal yang diinginkan ayahnya untuk dia pegang ketika nanti kuliah.

"Ingat tuhan, karena cuma dia yang akan menolongmu selama disana" pertama.
"Jangan narkoba, pilihannya cuma 2, penjara atau kuburan" kedua
"Jangan rusak anak orang, jika kau dekat dengan seseorang, perlakukan dia dengan baik" ketiga

Nasehat yang lebih dari cukup membuat si anak berani bertahan dengan status mahasiswa rantau.

***

Si ayah mendapat laporan si kakak kalau adiknya tidak pernah sholat selama di Yogya setelah 3 bulan di Jakarta dan Sulawesi.

"Kau mau apa hah.., tambah umur bukannya tambah dewasa, sudah lupa kau caranya sholat..?"
"Bukan begitu ayah, aku hanya ketemu masanya"
"oya, apa masalahmu, hingga kau lupa pada tuhan..?"
"Aku tidak tahu.."
"Mau jadi apa kau, tidak ada ridho disana kalau kau hanya mengejar dunia.."
"Engghhh......."
"Kuingatkan kau satu hal, ketika aku meninggal, aku ingin anakkulah yang men-sholatkan aku. Mulai sekarang kau harus ingat itu, pikirkan baik-baik"
"Iya yah.."

Singkat, menusuk seperti biasanya. Dan si anak terisak, setelah sekian lama tidak pernah mengeluarkan air mata.

***

Keesokan harinya, si ayah kembali menelepon

"Kau dimana..?"
"Di kos lama.."
"Tidur disana.."
"Iya yah.."
"Masih ada uangmu..?"
"Masih yah.."
"Kalau habis uangmu, bilang. Biar dikirim.."
"masih ada kok... enggghh yah, aku minta maaf soal kemarin"
"Kau sudah makan..?"
"Udah yah.."
"Kapan kau pulang ke rumah kakakmu..?"
"Mungkin 3 hari lagi"
"Ya udah, baik-baik kau disana"
"iya yah.."

Dan seperti biasanya, sudah tidak ada lagi percakapan tentang kemarin.

****


Hei ayah..
Aku dulu tidak mengerti kenapa kau begitu keras pada kami anak-anakmu.
Mungkin karena alasan umurku yang belum begitu memahami maksud tersirat dari semua tindakan dan ucapanmu
Setiap hari rumah kita diisi dengan suara-suara berisi emosimu, pasti selalu ada yang dimarahi, tapi aku tidak pernah merasa kesal padamu, mungkin itu terapi sehatmu.

Hei ayah..
Dulu aku heran, kenapa orang lebih senang datang ke rumah kita ketika ada masalah.
Pertengkaran rumah tangga, anak muda yang kawin lari, pemilihan calon bupati sampai anak yang kabur dari rumah orangtuanya.
Padahal kau hanya seorang PNS, bukan orang kaya. Bukan pula keturunan raja, hanya perantau.
Bentakan dan intonasi suaramu yang begitu tinggi membuat siapa saja takut, dan tetap orang mengadu padamu.

Hei ayah..
Dibalik sifatmu yang emosian dan kerasnya ucapan serta tindakanmu, kau adalah orang yang paling pengertian yang pernah kukenal selama hidupku.
Terimakasih kau telah mengingatkanku lagi, aku benar-benar membutuhkan itu.
Jakarta membuatku greget, Sulawesi membuatku sedikit melawan tuhan.
Dan kau berdiri di depanku, untuk meluruskan pandanganku lagi padaNYA

Kau mengerti bahwa aku sedang melarikan diri ke Yogya, untuk menemukan kembali apa yang hilang dalam diriku
Dan kau menjadi pemicuku untuk kembali lagi padaNYA
Aku mungkin masih butuh lebih banyak waktu lagi, mungkin naik gunung atau ke Karimun Jawa
Tapi percayalah, aku akan baik-baik saja

Jika cinta harus butuh kata-kata, maka yang kurasakan adalah cintamu yang tanpa perlu kata-kata.

Read more...

Gak Megang, Cuma Ngelus Doank

Sunday, December 6, 2009

"Buka donk sayang"
"Jangan ah, apaan sih"
"Cuma liat doank"
"Gak mau, kamu nekad orangnya. Nanti pasti minta yang aneh-aneh"
"Bungkusnya menggoda sih, pasti dalamnya seksi banget"
"Ih maksa, gak mau ah"
"Cuma pengen liat, dalamnya kayak apa, beneran"
"Oke, tapi cuma liat ya, awas kalo berani pegang"
"Iya, gak megang, paling ngelus doank"
"Gak mau kalo kayak gitu, ntar kejadian lagi"
"Gak bakalan, aku tau kok caranya"
"Aku gak percaya, nanti ngeluarin lidah, trus gigit. Pokoknya nggak"
"Makanya buka dulu, baru dibuktiin"
"Ya udah nih"

"Asyikkkkk............."
"Jangan pegang...!!!!!"
"Tenang sayang........ Akkkkhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh"


"Dibilangin jangan dipegang. Ini ular, bukan ulekan"



*terinspirasi untuk membuat cerita dalam 100 kata setelah liat di rumah kontrakan ada yang nulis beginian, ternyata menarik juga, maaf kalo agak garing, namanya juga nyoba-nyoba. :D*

*Gambarnya diambil dari award bung becce_lawo. Makasih bro dan sorry banget baru diposting sekarang, sebetulnya alasannya garing sih, lagi ada urusan jadi jarang online, blogwalking juga gak sempat, miskin bandwith.
Tapi walaupun begitu, ada atau tanpa award, semoga silaturahmi tetap berjalan.*

Read more...

Aerosmith Minus Steven Tyler...?

Thursday, November 26, 2009

I was cryin' when I met you
Now I'm tryin' to forget you
Love is sweet misery
I was cryin' just to get you
Now I'm dyin' cause I let you
Do what you do - down on me
-cryin'-

Steven Tyler keluar dari aerosmith..

Begitu bunyi status twitter seseorang yang tak sengaja aku temukan ketika lagi asyik menjelajah dunia maya.
Hah.. reaksi kaget, tidak percaya campur penasaran akhirnya membuatku mencari berita-berita tentang itu.
Walaupun belum ada berita resmi dari situsnya Aerosmith sendiri, tapi banyaknya artikel yang membenarkan berita itu membuatku percaya, sekaligus sedih karena buatku Aerosmith berarti banyak untuk perkembangan wawasan musikku.

Pertama kali aku mendengar Aerosmith ketika tahun 1994, abangku yang waktu itu mudik lebaran membawa kaset Big One's dan memutarnya di rumah.
Aku yang masih bocah umur 9 tahun dan hanya dirasuki boys band oleh kakakku yang tinggal di rumah, terheran plus terkagum-kagum. Suara yang nyanyi benar2 keren, dan kaset itu akhirnya tinggal di rumahku.
Lagu Cryin adalah lagu pertama Aerosmith yang kudengar, dan sampai sekarang lagu itu selalu ada di playlist winampku, bahkan menjadi nada dering hpku.
Memang kuakui, setelah mendengar Aerosmith, pengetahuan musikku mundur ke belakang. Mulailah aku menggemari Slow Rock, sewaktu SMP-SMA teman2ku lagi heboh dengan musik Korn dan Limp Bizkit, aku malah asyik mendengarkan Mr.Big dan GnR.

Dulu sewaktu awal kuliah, aku bahkan rela membeli sebuah kaset baru hanya untuk ditukar dengan kaset lama Aerosmith yang berisi lagu Toys in the Attic. Setelah aku tahu kalau di sudut Malioboro ada lapak2 jualan kaset lama, bisa dengan sistem barter.
Aerosmith adalah band yang bertahan lama di dunia musik, dengan cerita yang banyak.
Tidak saja musiknya, perjalanan band inipun sangat berwarna. Dan Steven Tyler punya peran yang sangat besar dalam Aerosmith.

Kemunculan mereka di awal 70-an memberi warna baru di dunia musik. Sempat dilabeli sebagai 'The New Rolling Stones', Aerosmith membuktikan bahwa mereka punya taste yang berbeda.
Lagu-lagu mereka disukai, merajai top chart radio2 waktu itu. Mereka terkenal, dan punya penggemar setia.
Kesuksesan yang datang dengan cepat membuat mereka kewalahan, buruknya hubungan internal dan konflik dengan manajeman serta belum dewasanya mereka akhirnya membuat mereka berteman dengan narkoba.
Terpuruk dan hampir bubar, Aerosmith ditinggal oleh dua gitarisnya, Brad Withford dibuang Steven dan Joe Perry memilih solo karir.

Aerosmith jalan terus dengan Steven Tyler sebagai leader, sempat mengeluarkan beberapa album dan tidak sukses. Steven akhirnya berdamai dengan Perry, memanggil kembali Brad, meninggalkan narkoba, dan menggandeng label baru. Dibantu Run DMC, Aerosmith melakukan comeback yang hebat hingga membuat mata pecinta musik kembali melihat mereka.

Lagu2 mereka menjadi hits, "Dude (Looks Like a Lady)", "Rag Doll", dan "Angel" di album Permanent Vacations, diikuti "Janie's Got a Gun", "What It Takes", dan "Love in an Elevator" di album Pump.
Diselingi album Pandora's Box, album Get a Grip memberikan "Cryin", "Crazy" dan "Amazing" hingga album Big One's keluar yang berisi kompilasi lagu-lagu mereka.

Album Nine Lives di tahun 1997 yang berisi "Pink", "Falling in love (is Hard on the Knees)" dan "Hole in My Soul", diikuti lagu sountrack Armageddon "I Don't Want To Miss A Thing".
Lalu "Jaded", "Girl Of Summer" , "Honkin' On Bobo" sampai terakhir "Devil's Got a New Disguise - The Very Best of Aerosmith".

Sukses kembali menghampiri mereka, album mereka laris manis seperti kacang goreng.
Menjadi ikon, nama mereka mendunia, Aerosmith adalah legenda.
Konser mereka dinanti, jangan ditanya aksi panggung mereka, selalu mengesankan.
Mereka bukan hanya band studio yang hebat dalam menciptakan lagu, mereka juga band panggung yang sangat keren dalam hal aksi.

Steven Tyler adalah magnet panggung Aerosmith, dan buatku belum ada penyanyi yang mampu mengalahkan aksi panggung Steven Tyler.
Dengan selendang rumbai2 diikat di mic-nya, Ayah dari aktris Liv Tyler ini membuat gaya yang khas di panggung, apalagi kalau sudah duet satu mic dengan Joe Perry, 'toxic twins'..!!!

Sayang sekali kalau sampai berita itu benar2 kejadian, melihat Aerosmith tanpa Steven di posisi vokalis akan sangat2 aneh buatku. Itu bukan Aerosmith.
Hampir 40 tahun, dan akhir yang seperti ini, terlalu sayang untuk sebuah band yang sudah melegenda.

Memang dalam dunia musik, gonta-ganti personil adalah hal yang bisa dimaklumi, tapi untuk Aerosmith. Duh.. terlalu mahal harganya.
Semoga saja Steven hanya cuti seperti berita ini.
Aku penggemar Aerosmith, sangat walaupun tidak sampai fanatik.
Tanpa mengecilkan peran personil yang lain, Toxic twins itulah yang membuatku bertahan menikmati Aerosmith.
Tanpa Steven Tyler, aku tidak tahu apakah aku masih bisa mendengarkan musik Aerosmith.

***
I kept the right ones out
And let the wrong ones in
Had an angel of mercy to see me through all my sins
There were times in my life
When I was goin' insane
Tryin' to walk through
The pain
When I lost my grip
And I hit the floor
Yeah,I thought I could leave but couldn't get out the door
I was so sick and tired
Of livin' a lie
I was wishin that I
Would die

It's Amazing
With the blink of an eye you finally see the light
It's Amazing
When the moment arrives that you know you'll be alright
It's Amazing
And I'm sayin' a prayer for the desperate hearts tonight

That one last shot's a Permanent Vacation
And how high can you fly with broken wings?
Life's a journey not a destination
And I just can't tell just what tomorrow brings

You have to learn to crawl
Before you learn to walk
But I just couldn't listen to all that righteous talk, oh yeah
I was out on the street,
Just tryin' to survive
Scratchin' to stay
Alive
-amazing-

Read more...

Catatan Tentang Daratan Yang Ternama

Tuesday, November 24, 2009

Dulu sewaktu aku masih kecil, sekitar umur 9-10 tahun, ibuku mengajakku dan saudara-saudaraku mengunjungi sebuah daratan yang terpisah dari pulau tempatku lahir.
Cerita tentang daratan itu benar-benar membuat kami terutama aku terkesima.
Tempat yang jauh, begitu kata ibu, makanya butuh banyak biaya untuk sampai kesana.

Ikut menumpang dengan mobil teman ayah yang waktu itu juga ingin pergi ke daratan itu, memang butuh waktu lama, 2 hari 3 malam.
Pertama kami sampai ke daratan itu, kami mencium tanahnya. Yup, seperti di film-film, kami menciumnya.

Mungkin banyak yang menganggap itu perbuatan yang konyol, tapi perjuangan untuk sampai kesana benar-benar tidak murah.
Kampungan, begitu mungkin mata beberapa orang yang melihat kejadian itu. Terserah, kami memang dari kampung.

Disini tempat orang merantau, tempat orang-orang yang sering di tv, ini ibukota negara kita. Panjang lebar ibu bercerita tentang daratan yang waktu itu sudah mulai menjulang dengan gedung-gedung tingginya.
Daratan yang bernama Jakarta dalam kenanganku waktu itu sangat berkesan. Banyak mobil-mobil, jalanan selalu ramai dan banyak tempat bermain. Ah, dasar bocah.. :)

Sehabis SMA dan tersesat di kota gudeg, aku beberapa kali mengunjungi Jakarta. Baik itu ketika liburan atau sedang ada acara keluarga.
Tapi rasanya lain, aku tidak pernah melebihi tiga hari disana. Alasannya selalu, tidak betah.

Jakarta masih menyuguhkan gedung-gedung megah, macet, padat penduduknya dan tempat bermain yang selalu bertambah canggih, bahkan ditambah dengan tempat hiburan yang bisa kunikmati di usiaku saat ini. Sayang, mungkin pola pikirku yang sudah berubah hingga akhirnya Jakarta selalu masuk daftar coret tempat yang akan kukunjungi.

Hingga waktu membuatku datang lagi ke Jakarta, mencoba 'menjajah' ibukota negara tercinta ini.
Sebagai seorang pengangguran yang sedang mencari celah untuk ikut dalam arus ibukota.
Seminggu lebih, bermain-main dengan ibukota yang kata orang begitu kejam. Mempelajari ritme dan dunia orang-orang Jakarta yang kata Seno Gumira Ajidarma hanya ada tiga: rumah, kantor dan mobil.

Sejauh ini aku mencoba menikmatinya, mungkin benar pepatah orang-orang tua, alah bisa karena biasa.
Dulu aku selalu bertanya, kenapa orang betah di Jakarta. Datang dari berbagai penjuru tanah air, mencoba mengadu nasib di ibukota ini.
Padahal tidak ada yang bisa dijanjikan Jakarta, selain kompetisi.

Sekarang aku disini, di salah satu sudut Jakarta, menulis postingan dalam keadaan yang baik-baik saja. Hanya terhalang masalah koneksi dan kesempatan untuk fokus menulis.
Kalau ditanya sekarang apa yang dijanjikan Jakarta untuk orang-orang, jawabanku tetap sama, kompetisi.




*baru buka blog ini, makasih buat teman-teman yang sempat2nya mengkhawatirkan keadaanku. Maaf gak bisa blogwalking, miskin koneksi internet.. :)
*Buat bung Becce-Lawo, ewotnya nanti akan saya pajang bro.. tunggu aja, semoga belum basi.hahaha

Read more...

Video Tahunan

Tuesday, November 3, 2009

Tadi malam, ketika sedang asyik menjelajah dunia maya, seorang teman kos memanggilku ke kamarnya.
Memperlihatkan sebuah video di komputernya, video yang sebetulnya aku sendiri sudah lupa.
Video tahunan anak2 SMA negeri di Magelang.
Kalau aku tidak lupa, video itu diambil bulan Mei-Juni. Entahlah, memoriku tidak menyimpannya dengan baik.

Ketika tombol play dimainkan, treng...
Muncullah wajah anak2 SMA yang sedang melakukan kegiatan belajar mengajar, suasana sekolah yang nyaman dan hiruk pikuk kehidupan sekolah pada umumnya.
Ada satu hal yang membuat temanku itu senyum2 menjijikkan dari awal video itu diputar, kadang tertawa menyebalkan sambil mengejek.
Bukan videonya yang jelek, tapi karena aku ada disana.
Yup, aku ada di video itu, video tahunan anak2 SMA itu.
***

Sabtu, di sebuah warung kopi. Bulan Mei atau Juni.
"Besok ikut ke Magelang ya.." temanku bercerita kalau dia dan dua orang temannya dapat job untuk membuat video tahunan sebuah SMA. Sebuah pekerjaan sampingan anak Komunikasi yang ternyata bisa menghasilkan rupiah.
"Lha yang dapat projek kan kalian, aku ngapain ikut, malas.." jawabku sekenanya.
"Ikut ajalah, kita cuma bertiga nih. Udah carter mobil juga. Ayolah, hitung2 ngeramein, ntar jalan2 juga kok."
"Halah, jalan2 apaan. Bilang aja buat bantu angkat2 barang. Kabel, lampu, kamera, ya kan..."
"Hahaha, ya gak segitunya, kalau itu kan bareng2. Udah ikut aja ya.."

Setelah beberapa lama saling ejek, akhirnya aku memutuskan ikut kesana.
Tidak ada salahnya juga, apalagi aku mengenal mereka bertiga. Yo wes lah, hari minggu juga tidak ada rencana kemana-mana.

Besoknya kami berempat berangkat ke Magelang.
Hanya budaya karet yang membuat kami jadi terlambat, itupun gara2 telat bangun. Selebihnya perjalanan kesana mulus kami lalui.
Anak2 SMA itu sudah menunggu hampir dua jam, tapi mereka maklum atas keterlambatan kami. Udah biasa, itu mungkin pikiran mereka.

"Mas, guru2 gak ada yang bisa" Seorang anak, mungkin ketua dari projek ini memberitahukan pada temanku bahwa guru2 sekolahnya tidak ada yang bisa hadir. Padahal ada bagian kelas di video itu yang mengharuskan adanya seorang guru. Tidak lucu nantinya, kelas tanpa guru. Mungkin juga karena ini hari minggu, guru2 itu lebih merasa wajib untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya.

"Waduh, gimana ya.."Sambil menyiapkan peralatan untuk pengambilan gambar video dan mengatur pencahayaan ruangan, temanku berpikir sejenak.
"Kamu aja yang jadi guru.." Dengan santainya dia berkata sambil mengarahkan wajahnya padaku.
"Ngawur.. emoh aku" Apa coba itu maksudnya menjadikanku Oemar Bakrie. Tidak ada potongan seorang guru di wajahku, jelas aku menolak.
"Iya, kamu aja. Kasihan anak2 ini, lagian ini adegan2 terakhir. Masak kita harus balik lagi kesini, Yogya-Magelang lumayan ngabisin lho.." Dua temanku yang lain mencoba meng-gol-kan ide Oemar Bakrie versi Don Juan itu.
"Kampret semua nih, jangan2 tujuan kalian bawa aku kesini memang buat antisipasi ini kan.. ah, pantes semangat banget ngajak aku. Curut...!!!"
"Iya mas, mas aja yang jadi guru. Dipantes2in aja.." Seorang anak malah ikut ngerusuhi, ditambah anak2 lain yang ikut mengiyakan.
"Udahlah bro, demi lho ini.. demi.."
"Demi opo, demit kabeh.."
***

Jadilah Aku Oemar Bakrie dadakan, dan yang parahnya, dialognya banyak sekali.
Dari menegur sampai memberi nasehat, pakai kostum batik dan celana kain, kacamata, sampai sisiran guru tahun 45. Apalagi rambutku sedikit gondrong waktu itu, gak ada potongan guru sama sekali. Ini sih cari mati namanya.

Tapi anak2 itu benar2 membantuku. Tidak mudah memang, aku yang jelas2 tidak ada bakat di depan kamera, tanpa latihan sama sekali, harus memerankan seorang guru kelas.
Improvisasi aja, begitu kata temanku si penggagas ide gila ini. *Improvisasi gundulmu, gak liat apa keringat udah segede jagung gini. Belum lagi lidah yang hampir patah gara2 salah dialog terus*

Seharian kami disana, bersama hampir seratus anak2 SMA yang dengan semangat menyukseskan video tahunan mereka.
Sangat menyenangkan bekerja dengan mereka, banyak ketawanya, dan mereka sangat serius dalam prosesnya.
Aku pribadi salut atas keinginan mereka untuk membuat sesuatu yang bisa diingat kelak oleh mereka.
Keinginan untuk tetap menjaga silaturahmi dan juga sebagai kenangan. Karena setelah kelulusan, aku yakin banyak yang tidak akan tahu kabar masing2.
Video itu menjadi sebuah saksi, bahwa dulu mereka pernah bersama.
***

Dan jangan ditanya aktingku di video itu... melihatnya saja tadi malam sudah seperti mimpi buruk buatku. *Terimakasih buat kalian bertiga, yang dengan busuknya merencanakan semua ini. Semoga tuhan membalasnya.. :P*

Read more...

Kiai Kanjeng, Sebuah Nilai

Saturday, October 31, 2009

Aku masih ingin bercerita tentang acara itu.
Selain budayawan mbeling dan suasana kebersamaan itu, ada satu hal lagi yang selalu membuatku tidak rela melepaskan acara itu.
Sekelompok orang yang selalu bersama budayawan mbeling itu kemanapun dia diundang atau melakukan suatu kegiatan.

Sekumpulan orang yang bisa dibilang tidak muda, walaupun sekarang sudah ada regenerasi, tapi mereka adalah bapak2 kebanyakan yang bersama budayawan mbeling itu menunjukkan indahnya musik tanpa embel2 'genre', Kiai Kanjeng.

Tidak banyak yang tahu Kiai Kanjeng. Kemunculan mereka tidak terlalu menarik untuk dibahas industri 'mainstream'.
Mereka kalah segalanya kalau dalam hitung2an industri musik.
Lagu mereka tidak mengikuti arus, lirikpun tidak populer. Apalagi sudah menyangkut fisik, tampang mereka tidak menjual.

Tapi tidak banyak yang tahu juga, sebelum lagu2 religius bertebaran di pasaran dan menjadi sebuah komoditi dagang industri musik, Kiai Kanjeng sudah melintasi pulau, negara, komunitas, suku bahkan agama untuk mengajak semua orang bergembira, menumbuhkan rasa persatuan dan persaudaraan, melalui musik.

Berawal dari Teater Dinasti di tahun 70an, timbul tenggelam sampai di awal 90an, budayawan mbeling itu bersama Teater Salahuddin membuat sebuah pertunjukan bernama Pak Kanjeng untuk mengkritik penguasa pada masa itu.
Hingga akhirnya lahir Kiai Kanjeng, yang kalau diteruskan akan melahirkan Letto.

Kiai Kanjeng bergerak dengan hatinya, sebuah konsep tentang memanusiakan manusia.
Berjalan di jalan sunyi bersama budayawan mbeling itu tanpa perlu publikasi dan 'ketenaran'.
Kiai Kanjeng merangkul semuanya, tanpa pilih2.

Kiai Kanjeng tidak perlu sebuah panggung megah untuk tampil, atau lampu2 blitz dan tiket seharga setengah juta.
Mereka ada di kelurahan, di acara2 kesenian sampai di altar2 gedung pencakar langit.

Ukuran sukses mereka ada di kegembiraan orang2 kecil menikmati hidup, berbagi bersama korban lumpur Sidoarjo, di museum seni klasik Napoli, di tengah2 perjanjian damai 3 agama di Belanda.

Musik mereka pada dasarnya tradisional, gamelan, rebana, demung tapi mereka juga sangat bagus memainkan gitar, biola, piano, dan perkusi.
Musik mereka memakai bahasa apa saja, Indonesia, Arab, Inggris, China bahkan Ibrani.
Kiai Kanjeng selalu membanggakan Indonesia ketika mereka sedang melawat ke luar negeri tanpa pernah meminta pamrih pada Indonesia atas 'pelayanan' mereka.

Kiai Kanjeng terlalu besar untuk masuk dalam buku musik Indonesia, karena mereka tidak mau diperbudak musik.
Kiai Kanjeng tidak mau musik menjadi awal sebuah jurang antara manusia dengan manusia lain.

Level musik Kiai Kanjeng tidak pop,rock,blues,karawitan,jazz,qasidah atau apapun sebutan untuk musik itu sendiri.
Kiai Kanjeng membuat semua batasan itu menjadi tidak ada. Musik adalah bahasa, media untuk mengakrabkan semua.
Karena memang begitulah seharusnya..

Kami kumpulan manusia-manusia yang lemah, yang takut kehilangan intimitas kemanusiaan, dan rasa takut itu kami bayar dengan keberanian untuk kehilangan yang lain yakni sukses dan kemasyhuran, jabatan dan kekuasaan, karier dan kehebatan. Atau dari sudut lain, kami adalah sekumpulan manusia-manusia yang tak mampu mencapai sukses dan kemasyhuran, jabatan dan kekuasaan, karier dan kehebatan maka kami berusaha jangan sampai kehilangan “yang paling sederhana dari kehidupan” yakni persaudaraan, keluarga dan intimitas kemanusiaan dalam hidup yang amat singkat ini. -Kiai Kanjeng-


"Heh, adikku juga ternyata sering ke acara itu". Seorang teman berbicara padaku melalui telepon, mengatakan kalau adiknya juga rela bolak balik Semarang-Yogyakarta demi acara itu.
"Masak, kok gak pernah ketemu ya.."
"Meneketehe, waktu kutanya, katanya dia pengen liat Kiai Kanjeng. Musiknya magis.."
"Hah, magis..?"
"Iya, katanya... 'mbak, Kiai Kanjeng itu punya magis deh. Dream Theater mah... lewat...'. Dodol bener tu anak, mang bener ya..?"
"Hahahaha, iya kali..."

Read more...

Kebersamaan Tanpa Batas

Tuesday, October 27, 2009

Gerimis membasahi Bantul malam itu. Di halaman sebuah TK sekaligus rumah seorang 'budayawan' yang katanya 'mbeling' digelar sebuah acara maiyah.
Dengan panggung sederhana, nyaris tanpa ada ruang kosong dengan pengunjung dan terpal untuk duduk lesehan, benar2 'membumi'.

Aku yang datang malam itu bersama dengan seorang teman, naik motor. Menyempatkan diri untuk mengisi perut yang memang jatahnya. Jam 9 malam kami sampai ke lokasi.
Tempat yang sama, suasana yang sama, hangat. Bertemu orang2 dari berbagai daerah, kelas sosial, tua muda dan latar belakang yang berbeda.

Sampai di tempat, aku dan temanku mencari tempat duduk lesehan.
Setelah dibuka oleh MC dan kelompok ibu2 pengajian bershalawat, budayawan mbeling itupun naik panggung bersama kelompok musik yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi.

Dia menyapa dengan hangat, diiringi sentilan dan candaannya tentang negeri ini dan doanya kepada sang pencipta.
Setelah itu dia berpuisi, dengan sangat menjiwai, yang judulnya saja aku tidak tahu. Malam itu dia sukses mengawali acara itu dengan tundukan kepala pengunjung *sial, bahkan mataku berair.*

"Saat ini kita berada di puncak ketidaktahuan kita sebagai manusia. Kita tidak mengerti siapa yang kita perjuangkan, kita tidak tahu siapa pemimpin kita. Kita bahkan tidak tahu apa itu artinya sebuah bangsa."

Begitulah kalimat yang kutangkap dari semua gojekan dan sentilannya pada malam itu.
Sudah beberapa bulan ini hal itu sering dia ungkapkan.

Untuk apa kita sekolah, kalau ternyata kita hidup bukan atas keinginan kita. Seperti bidak catur yang bisa dipindah-pindah, kita dikecewakan keadaan. Semuanya jelas, ini negara yang main2, ini demokrasi yang main2 dan saya bersyukur atas keputusan yang main2 ini karena setelah ini akan terbuka semua yang ditutup2i.

Sebuah rasa 'greget' melihat negeri ini, hingga akhirnya dia mengatakan "malam ini kita tidak usah membahas negeri ini, kita bershalawat saja untuk mendekatkan diri pada yang maha adil karena kita hidup bukan untuk main2."

Malam itu terasa sekali aura mendung, tiga tamu yang datangpun semuanya berpuisi.
Hujan sempat turun beberapa saat di tengah malam itu, tapi tidak ada yang beranjak dari tempat itu, kebanyakan hanya melindungi diri dengan tas atau merapatkan jaket.

Acara selesai hampir pukul 3 pagi, diakhiri doa dan pengetahuan yang bertambah.
Mungkin benar, ini memang sebuah acara yang multidimensi.
Bayangkan hampir tujuh jam duduk, tanpa pamrih, tidak membawa kepentingan apapun bahkan tahan tidak ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil.
Aku tidak menemukannya di acara seminar atau forum lain.

Ini bukan acara resmi, aku tidak merasa terikat untuk wajib datang ke acara ini. Bahkan acara ini tidak wajib untuk diadakan, tapi semua orang yang pernah datang ke acara ini akan selalu datang.

Di acara ini aku bisa melihat Gus Dur berbalas ejekan dengan bahasa kebun binatang, atau tawa keras Amin Rais yang begitu kalem. Pengamen nyanyi, monolog seorang Jemek Supardi, Alm.Rendra bercerita masa mudanya sampai bule2 yang begitu asyik bergoyang dangdut. Semua orang bebas menjadi dirinya sendiri.

Ada satu quote yang benar2 selalu dia ulang setiap acara itu

aku tidak mau jadi panutan kalian sebab itu akan membuat kalian fanatik kepadaku. Aku tidak mau berada diantara kalian dan Allah, terlalu berat buatku.


Ah, harusnya ini ditanamkan juga oleh pemimpin kita, tokoh2 masyarakat kita maupun ulama2 kita.

Tidak banyak orang sepertimu, yang dengan ikhlas menyapa ke semua lapisan, sebuah pekerjaan yang jika dihitung secara duniawi, jelas rugi.
Kau orang yang unik, punya kharisma tapi kau begitu dekat, dan kau tidak pelit untuk membagi ilmumu.
Dua tahun, dan aku tidak pernah bosan datang ke acara itu.

Mocopat Syafaat
Kasihan, Bantul, DIY
22 Oktober 2009

Read more...

Memutar Memori

Friday, October 23, 2009

"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun"
"Anakku... anakku..."
"Ibu, yang sabar ya, ikhlas bu, ngucap.."

Siang itu tuhan sedang berbaik hati, memanggil seorang bayi yang baru berusia 4 hari dari tangan seorang perempuan.
Diiringi isak tangis perempuan itu dan tetangga yang sedang mencoba menabahkan hatinya, untuk kedua kalinya tuhan menguji imannya.

Prosesi pemakaman sederhana dilakukan keesokan harinya, masih terasa kesedihan itu.
Perempuan itu terhempas ke titik terendah dalam hidupnya, tidak berani menatap mentari.
Takut bertegur sapa dengan tetangga, pekerjaannya dia tinggal, merasa hidup ini begitu tidak memihak.

Tiga kali dia melahirkan, dua kali dia kehilangan.
Beruntunglah masih ada seorang anak yang bertahan dipelukannya, untuk mendapat kasih sayangnya.
Apalagi ketika itu cerita2 tentang kematian masih kental dengan mitos.
Bahkan ada yang bilang ini adalah sebuah bala.

"Kau dengar kata uwak itu kan..?"
"Apa pulak kau pikir-pikirkan itu, gak ada itu" si suami mencoba berpikir jernih, menenangkan perempuan itu.
"Tapi aku takut bang, masak aku menunggu kehilangan sampai tujuh kali baru hilang balanya, gak sanggup aku bang."
"Sudahlah, bukan kita yang mengatur urusan hidup mati. Kalau memang rejeki kita cuma satu itu, kita besarkan dia dengan baik."
"Bang, kalau yang satu itu juga diambil, ceraikanlah aku. Mungkin memang bawa bala aku dalam pernikahan kita ini."
"Jangan gila kau ya, pikiran macam apa itu.."

.....

Ternyata cerita itu tidak terbukti, bahkan tiga tahun setelah kematian yang kedua, perempuan itu melahirkan lagi, perempuan.
Tidak cukup disitu, dua tahun kemudian bayi perempuan lahir lagi dari rahimnya, semuanya sehat dan tumbuh normal.

"Masih percaya kau tentang bala itu, kau lihat apa yang tuhan kasih"
"Imanku tidak cukup kuat waktu itu, maafkan aku bang"
"Lalu ngapain lagi kau sering ke dokter buat cek2 kesehatan"
"Kupikir aku bisa hamil lagi bang.."
"Ah, gak ngerti aku lagi. Dulu kau menolak punya anak lagi, sekarang minta nambah kau"
"Siapa tahu dikasih lagi.."
"Ingat kau apa yang kubilang dulu, kalau rejeki kita cuma segini, ya sudah kita besarkan mereka baik2. Dan jangan suruh2 aku ke dokter, kau kira aku impoten hah"

.....

Setelah itu kehidupan berjalan baik, cerita tentang menambah keturunanpun sudah bukan lagi topik utama di keluarga itu. Hingga tujuh tahun berselang..

"Bang, aku hamil lagi.. gimana ini.." perempuan itu tidak siap, mengingat umurnya yang sudah bukan masa produktif lagi. Pada waktu itu KB bukan favorit para ibu2 kampung.
"Beginilah cara kerja tuhan, ingat apa yang kau bilang dulu. Mau nambah anak, dikasih malah bingung.."
"Tapi kenapa harus sekarang bang, saat aku mulai berpikir untuk membesarkan, bukan lagi meregang nyawa dan duduk menyusui, aku hampir memasuki masa menopause"
"Terus mau apa kau, mau kau tolak rejeki itu"
"Pokoknya ini terakhir aku melahirkan, jangan nambah lagi.."
"Sok2 mengatur pulak kau, disyukuri semuanya. Jagalah baik2 janin itu.."

.....

Bertambah lagi keluarga mereka, seorang bayi perempuan lahir dengan selamat.
Di awal2 kelahiran, si bayi sering sakit.
Fisiknya dinilai lemah oleh dokter, bahkan pernah dua hari menangis tanpa bisa didiamkan.
Perempuan itu mulai panik, teringat trauma masa lalunya tentang kehilangan.
Kali ini jangan ya tuhan, biarkan dia hidup, pinta perempuan itu dalam doa2nya.

Tuhan ternyata mendengar, bayi itu dibiarkan hidup dan berangsur pulih.
Perempuan itu begitu bersyukur, dan berjanji dalam hatinya, biarlah ini yang terakhir. Sudah cukup karunia ini, Empat anak ini jangan bertambah lagi.

Segala cara dia lakukan untuk mencegah, dari lebih banyak mengkonsumsi air tape sampai terapi pijat kampung yang katanya bisa meminimalkan efek hamil.
Apalagi umurnya sudah tidak bisa dibilang muda lagi, dia memang tidak mau lagi menambah anak.

Tapi tuhan berkehendak lain, dua tahun kemudian dia hamil lagi dan melahirkan seseorang yang saat ini sedang memutar memorinya menulis cerita ini.

....


Kutulis untuk ibuku, yang dengan beraninya bercerita tentang sebuah proses dalam perjalanan hidupnya.

*Maaf ibu, jurus2 menolak lahir itu tidak cukup kuat untuk menahanku melihat dunia dan menyusup diantara cinta kalian.. :)*

Read more...

Keren Bin Kanker

Wednesday, October 7, 2009

Keren nih, mbak ada yang nomor 42 gak..?
Sebentar mas...

****
Wow pas, harganya murah lagi... bungkus...

***
1399000 mas
Hah...ntar dulu deh mbak..*berlalu meninggalkan kasir sambil mikir kenapa 0 nya bisa nambah satu*

**
-kejadian di sebuah mall, dengan pelaku dua curut yang lagi tidak waras-

*
gambar diambil disini

Read more...

Yogyakarta Hari Ini

Wednesday, September 23, 2009

Pulang ke kotamu..
Ada setangkup haru dalam rindu...
Masih seperti dulu..
Tiap sudut menyapaku bersahabat..
Penuh Selaksa Makna..
Terhanyut aku akan nostalgia..
Saat kita sering luangkan waktu..
Nikmati bersama suasana Yogya..

Kebangetan jika ada yang tidak tahu lagu itu, kalaupun tidak hapal liriknya, paling tidak, ingat nadanya atau parah-parahnya, tahu lagunya..
Lagu yang sangat populer di era 90-an, yang dinyanyikan oleh KLA Project.
Aku teringat lagu itu, gara-gara Yogyakarta hari ini.

Yogya kota pelajar, kota kebudayaan, kota seniman, sering juga disebut Indonesia kecil karena hampir semua suku ada disini.
Mau cari orang Aceh sampai Papua , ada di Yogya.
Terlalu banyak cerita di Yogya, bukan hanya untukku tapi mungkin untuk semua orang yang pernah bersentuhan dengan Yogyakarta.
Aku mengenang semuanya, gara-gara Yogyakarta hari ini.

Mungkin banyak yang bertanya, ada apa dengan Yogya hari ini..
Sebetulnya Yogya baik-baik saja, aman, tentram, damai, hanya macet.

Yup Yogya macet hari ini, jalanan Yogya seharian ini dipenuhi kotak-kotak besi yang tumpah ruah seperti ikan kaleng.
Macet mungkin hal yang biasa di Jakarta, tapi di Yogya... buatku ini kejadian luar biasa..

Selama aku tinggal di Yogya, Baru sekarang kejadian macet gak karu-karuan ini terjadi.
Aku tidak tahu apakah ini efek lebaran, hingga orang-orang menyempatkan diri berlibur bersama keluarga ke kota ini, apalagi yang tinggal tidak jauh dari Yogya.
Ataukah gara-gara arus mudik dan arus balik hingga Yogya menjadi jalan lintas orang-orang yang sedang pulang kampung.
Atau Yogya memang seperti ini kalau libur lebaran, mungkin cuma aku yang berlebihan menanggapinya, maklumlah ini pertama kalinya aku berlebaran disini.

Biasanya kalau ada kejadian macet di Yogya, pasti ada sesuatu, kalau tidak tabrakan, orang kecelakaan mungkin juga razia polisi.
Tapi serius, tanpa kejadian di atas, Yogya benar-benar macet hari ini.

Terkesan berlebihan..? entahlah.. tapi Yogya benar-benar macet hari ini, sebetulnya sudah beberapa hari ini, sejak libur lebaran.
Beberapa teman yang tinggal di Yogya bahkan sudah dari kemarin menulis di status fb tentang macet Yogya.
Tapi aku baru merasakannya hari ini.
*kalimat ini sudah kuulang berapa kali ya..* :D

Dimulai dari aku keluar dari kos, ke jalan besar yang menghubungkan Yogya-Solo.
Woo... aku langsung disambut antrian kotak-kotak besi yang berderet rapi, untunglah aku pakai kuda besi, jadi bisa nyelip-nyelip.
Tapi tetap ini mengherankan, jalan disini biasanya santai-santai, sekarang malah harus seperti belut, meliuk-liuk mencari jalan.

Ingin kuurungkan niatku dan kembali ke kos, tapi mengingat tujuanku keluar memang membeli sesuatu yang penting, jadi terpaksalah aku mengikut dengan kemacetan itu.
Sudah kutabalkan di kepalaku, sudah kupasrahkan dalam hatiku, terserahlah ini mau makan waktu berapa lama tapi aku harus sampai kesitu, ke pusat kemacetan itu... Malioboro.

Dan terbukti memang lama sampainya, yang biasanya cuma 15-20 menit sekarang 1 jam lebih.
Banyaknya kotak besi, pengalihan jalan dan wisatawan yang entah dari mana-mana menambah acara macet hari ini.

Jangan ditanya seperti apa rupa Malioboro hari ini.
Kacau balau... rame.. seperti pasar.
Aku geleng-geleng kepala ketika memarkir kuda besiku dan melihat manusia-manusia yang ada disana.
Malioboro benar-benar punya magis... :D

Aku bahkan sampai bingung mau jalan kemana, setelah barang kudapat, aku memilih duduk di trotoar dan mengamati orang-orang yang berseliweran.
Menikmati melihat kotak-kotak besi itu berjalan seperti keong, yang anehnya tetap tertib tanpa banyak suara klakson, tidak ada yang terburu-buru, bahkan si bapak polisi mengatur lalu lintas sambil bermain sms, canggih.. :)

Iseng-iseng kuperhatikan kotak-kotak besi itu, tidak tahu kenapa setiap ada yang lewat, aku melihat plat nomornya.
B, AD, H, L, F, W, KB, BM, BG, K, E dan banyak lagi.
Yang pasti ada plat AB karena jelas ini di Yogya.
Kebanyakan memenuhi warung-warung makanan dan pusat-pusat perbelanjaan.
Selebihnya... menyebar ke seluruh penjuru kota ini.

Kamu memang kota yang tak terlupakan, bahkan orang-orang ini rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk makan di warung-warungmu dan menghabiskan uangnya di lapak-lapakmu, antri menikmati macetnya suasana, menghabiskan waktu berjam-jam dari rumahnya yang puluhan, ratusan bahkan ribuan kilometer itu hanya demi sebuah cerita dan senyumanmu


Yogya.. Yogya...

Read more...
Sonic Run: Internet Search Engine
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP