Search This Blog

Cpx24.com CPM Program
Showing posts with label hari ini. Show all posts
Showing posts with label hari ini. Show all posts

Hope

Thursday, November 11, 2010

Kenapa Indonesia gak maju2, kenapa Indonesia gak berubah2, kenapa Indonesia begini.. begitu.. | Karena lo banyakan nanya, dan gak ngelakuin sesuatu.

Scene 1 'Majority'.
Secara garis besar dalam scene ini adalah testimonial 2 orang dari 2 partai berbeda, Golkar dan PKS
Si bapak 'Golkar', menyatakan bahwa hidup sebelum reformasi lebih enak, memang utang kita banyak tapi hasilnya terlihat dari pembangunan kita.
Si Anak muda 'PKS', menyatakan sudah waktunya ada reformasi, 32 tahun dan hasilnya kita tetap bodoh.
Satu yang mereka sepakat, mereka membela partainya sampai mati.

Scene 2 'Minority'
Scene ini adalah refleksi minoritas yang ternyata memberi nama yang harum buat bangsa ini.
Bagaimana perjuangan barongsai pimpinan Kong Ha Hong untuk membawa barongsai jadi sebuah hiburan,olahraga,kesenian yang diterima masyarakat Indonesia.
Berat pastinya, seberat anggapan masyarakat ketika melihat masyarakat minoritas di negara ini. Tapi tidak butuh waktu lama, setelah diterima di negara ini, barongsai pimpinannya menjadi juara dunia. membawa nama Indonesia.

Scene 3 'To Die For'
Klimaks film ini ada disini, Panji dan Otonk 'Koil' silih berganti memberi testimoni tentang 'hope'
Panji yang 'jujur' bercerita tentang lagu 'kami tidak takut', pesannya ketika berada di Tangkuban perahu, menikmati keindahan negeri ini di beberapa tempat di Indonesia.
Sedangkan Otonk 'satir' bercerita tentang ketidakpeduliannya terhadap negeri ini, harapannya ke depan buat bangsa ini walaupun dalam bahasa yang bias.
Diselingi beberapa adegan seperti kerusuhan 98, priok, di gedung DPR, serta testimoni dari beberapa orang.

Pesan film ini simpel
Jangan tanya apa yang udah negara ini lakuin buat lo, tanya apa yang udah lo lakuin buat negara ini

******************************

Saya menikmati sekali film ini, walaupun di awal-awal terasa membingungkan buat saya, ini film apa?
Tapi karena ekspektasi saya hanya ingin menonton, dan juga sudah dikatakan kalau ini adalah film dokumenter, maka saya benar-benar jadi penonton. Membuat diri saya santai, terserah alur film ini membawa saya kemana tanpa interupsi dari pikiran saya.

Ada 2 jenis anak muda di dunia
yang menuntut perubahan & yang menciptakan perubahan.


Sudah sering kita dengar, kita lihat, betapa putus asanya kita terhadap negara ini.
Setiap pemilu kita selalu salah pilih, betapa kecewanya kita sebagai anak bangsa dengan pemimpin-pemimpin kita.
Selalu, jalan yang kita pilih adalah mengeluh, menyoraki, mencemooh, mencaci-maki menuntut perubahan.
Padahal banyak jalan untuk lebih baik. Tidak sedikit orang pintar di negeri ini, begitu banyak orang terampil bertebaran di sudut-sudut yang tak terjamah eksistensi.
Yang kurang adalah pemimpin, pemimpin di setiap apapun dan juga mental dijajah serta mental premanisme.
Ditambah media yang mecekoki dengan slogan 'bad news is a good news', membunuh karakter kita secara perlahan.

Menyedihkan jika melihat demo, massanya hanya 10-15 orang meneriakkan sesuatu, mengibarkan bendera-bendera organisasi yang lebih besar dari pesan yang dibawa. Siapa yang mau dengar.
Benar kita memang bangsa yang terlanjur, yang sekarang cerminan negara kita adalah 'taklid'. Mengikuti sesuatu tanpa tahu apa yang kita ikuti.
Benar kita memang bangsa yang lupa, karena tuanya umur kita hingga apa-apa di negeri ini bisa dimaafkan.
Benar kita memang bangsa yang besar, saking besarnya kita bahkan tidak sadar kalau pulau di negeri tidak cuma satu.
Tapi kita bukan bangsa yang kebablasan, 'Hope' menyentil sisi nasionalisme kita bahwa 'Sumpah pemuda aja bisa ngumpulin pemuda seluruh Indonesia tanpa internet, lalu kenapa kita gak satu visi melakukan sesuatu agar negeri ini jadi lebih baik'.

Melalui film ini kita diajak bergerak, tidak perlu muluk-muluk untuk revolusi, tapi paling tidak lakukan apa yang bisa kamu lakukan. Bicara saja tidak akan menyelesaikan apapun.
Kamu taat pajak, buang sampah pada tempatnya, hemat listrik & air, banyak hal yang bisa dilakukan, jadi berhenti menyalahkan negeri ini

'Yang gw tau hanya nulis dan nyanyi, makanya gw nyebarin lewat lagu atau tulisan' -Panji-

Ini titipan, titipan masa lalu untuk kita dan paling tidak kita punya tanggung jawab moral untuk menitipkannya ke generasi setelah kita.
Para pahlawan saja membuat kita satu dengan darah dan airmata agar kita hidup enak sekarang, tanpa pernah mencicipi nikmatnya yang namanya kemerdekaan. Masa kita cuma jadi sang pencerca ?
Mengutip kata Sabrang, 'Indonesia sekarang bukan lagi merdeka atau mati, tapi berubah atau punah'

Read more...

Bergerak atau Diam

Monday, October 18, 2010


Jadi aku punya teman, orangnya cukup sibuk dengan pekerjaannya. Biasa sih, ceritanya juga biasa - biasa saja. Tentang orang yang sibuk.
Ini ibukota, kalau kau tidak sibuk, kamu mati atau jobless.

Pernah dia kepikiran untuk pindah dari kerjaannya yang sekarang dikarenakan waktu untuk dirinya sendiri bahkan tidak ada.
Senin sampai Jum'at, bukan office hour. Paling cepat pulang jam 10 malam, weekend sabtu-minggu harusnya adalah saat untuk bersenang-senang.
Tapi sabtu dia disibukkan dengan tugas ekstensi kantor, dan minggu... membuat laporan untuk diterbitkan senin. Hectic.

Sebetulnya selama kita nyaman dengan apa yang kita kerjakan, semuanya akan terasa lebih mudah.
Hanya 2 hal yang paling sering membuat orang "khususnya yang belum menikah" untuk pindah dari kerjaannya. Lingkungan dan Gaji.
Sayangnya, temanku itu terkena yang ketiga, diperbudak pekerjaan.

Dia mulai mengeluh tentang weekend yang dihabiskannya untuk bekerja, mulai berpikir untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.
Lebih baik dalam artian waktu, soal lingkungan kerja, dia tidak ada masalah, apalagi soal gaji, cukup untuk selalu mentraktir saya kalau ketemu.

Sudah beberapa kali dia bilang, aku pengen pindah, aku mulai stres, makan aja sampai lupa, sampai gak bernafsu.
Banyak lagi....... dan selalu ada kata 'TAPI'.
'Aku pengen pindah tapi masih bingung mau kerja apa'

Terakhir dia menyuruhku untuk memberinya semangat agar keluar dari pekerjaannya.
Karena dia juga meminta saranku, yang keluar hanyalah 'ya udah, segera keluar'.
Tidak membantu katanya, jelas-jelas dia memintaku memberi semangat untuk keluar dari pekerjaannya, ataukah hanya ironi untuk memberinya semangat agar bertahan di pekerjaannya.. ah gak taulah, aku tidak pandai beretorika.

Terlalu banyak tapi, terlalu banyak hitung-hitungan, terlalu banyak argumen.
Jadi orang nekad sekali-sekali tidak apa-apa kan.
Mungkin juga aku tidak memberi solusi, menyarankan seseorang untuk jadi pengangguran.
Sekali lagi, semuanya tentang pilihan.
Mudah memang mengatakannya, lebih mudah memang menyarankan saja. Membantu pun tidak, cuma menambah masalah.

Setiap orang punya pilihan, dan pilihan selalu berbarengan dengan resiko

Seperti kata Caknun :

Ketika anda akan masuk hutan lalu anda berdebat tentang apa saja yang akan anda temui selama dalam hutan, percayalah, anda tidak akan masuk hutan.

Kalau mau masuk hutan, masuk aja. persoalan ketemu macan, mau ketemu ular, tersesat, ya sudah dihadapi. Mati atau selamat, itu sudah urusan tuhan, tinggal pilihan kita, mau mati atau mau selamat.


Kalau mau keluar, ya keluar aja. Tinggal memilih, mau lebih baik atau pasrah.
Dilema.. pasti.
Orang susah nyari kerjaan, ada yang nganggur bertahun-tahun belum dapat kerja.

Mungkin akan banyak yang mencibir, bodohnya kamu, pekerjaan bagus kok ditinggal.

Mungkin aku juga akan mencibir, bodoh, kalau hanya gara-gara kerjaanmu kau membunuh dirimu pelan-pelan.

Read more...

Benteng, Oseng-oseng, Klithikan, dan Angop

Saturday, March 13, 2010

Kemarin sore aku jalan-jalan di sekitar Malioboro bersama seorang teman SMA-ku. Semacam reuni, padahal kami di kota ini sudah bersama-sama hampir 7 tahun, cuma memang setelah tahun baru kami tidak pernah ketemu, aku ke Sulawesi dan dia ke Palembang.

Bercerita di sekitar Benteng Vredeburg, mengenang masa-masa lalu sambil memperhatikan lalu lalang kenderaan, dan juga merencanakan masa depan sebagai sesama pengangguran habis putus kontrak. :D

Bertemu dengan dua orang teman lain yang sama-sama sedang menghabiskan sore, tidak terasa matahari mulai terbenam. Total 4 lelaki di seputaran benteng, ngobrol ngalor-ngidul dengan topik yang semakin fokus, wanita. :)

Beranjak malam, memutuskan untuk mengisi perut di sekitaran Jl.Ahmad Dahlan, pilihan jatuh ke oseng-oseng mercon yang cukup maknyus kata pak Bondan.
Sambil ber-haaa.. ha.. hii.. hii... *karena kepedasan*, tersiarlah kabar kalau ada seorang teman yang sudah hampir 6 bulan di kota ini belum pernah ke Pasar Klithikan *kemana aja kau lae* :D

Demi memuaskan rasa penasarannya, sehabis makan berangkatlah kami ke pasar Klithikan, sering juga disebut pasar maling, tempatnya para penadah barang-barang bekas atau curian *begitu yang aku tahu*.
Dulu pasar ini berpusat di sepanjang jalan Mangkubumi, dekat Tugu Yogyakarta, tapi sekarang direlokasi oleh pemerintah dan dibuatkan tempat khusus.

Sampai di pasar Klithikan, cuci-cuci mata sambil berharap ada barang yang cukup menarik hati dan kantong, celanaku bergetar, ternyata ada telepon. Seorang teman meneleponku untuk sekedar menumpahkan unek-uneknya, gagal long weekend dan dibuang kantornya ke Ujung Kulon untuk liputan *padahal sih sama-sama liburan juga* :)

Cukup lama telepon itu putus nyambung *maklum telepon kantor, gretongan*, tiba-tiba teman SMA-ku itu mengaduh di sampingku.
Menggerak-gerakkan mulutnya, meludah, dan gelisah.

"na mangua doho..?" *kau kenapa?* aku bertanya
"na uboto puang, na ra martutup babaku, songon kram" *aku gak tahu, mulutku gak bisa nutup, seperti kram* temanku menjawab, dengan suara seperti dikumur-kumur.

Langsung aku menyudahi pembicaraan di telepon dan bertanya apa yang harus kita lakukan, temanku memilih pulang, aku memilih ke rumah sakit.
Pamit kepada 2 teman lain, segera meluncur ke rumah sakit terdekat.

"roakku i tampar begu doon" *mungkin ditampar setan ini* begitu racau temanku
"mungkin" jawabku singkat

Sampai di rumah sakit terdekat, ke bagian pendaftaran. Setelah suster melihat kondisi temanku, mengajak kami ke IGD.
Ada beberapa dokter disana, bertanya ini itu kepada temanku, lalu menyuruhnya duduk di dekat tiang.
Satu orang memegang kepalanya, satu orang memegang mulutnya. Hitungan detik sudah kembali lagi, normal.

"ini namanya angop, mungkin mas menguap atau tertawa terlalu lebar, jadi sendi yang di mulut bergeser" begitu penjelasan dokter

Untunglah tidak perlu obat, hanya disuruh untuk berhati-hati dan menjaga jangan sampai kejadian lagi.
Membayar administrasi rumah sakit lalu memutuskan untuk pulang.

Aku menemukan pesan moral setelah kejadian itu

"jangan menguap terlalu lebar, kalau kau tidak ingin kehilangan uang 100 ribu. Mahal harganya untuk ukuran pengangguran"

hahahaha

Read more...

Tentang Hujan Dan Sebuah Cerita Dari Selatan

Wednesday, March 10, 2010

Sepertinya langit sedang marah, atau kita yang sudah tidak mengerti bagaimana cara berteman dengan alam.

Sudah dua hari ini Yogya diteriaki petir dan hujan angin yang cukup ekstrim.
Kemarin aku di rumah, menemani keponakan2ku dan memindahkan barang-barang penting yang sedang dirembesi hujan.
Sambil mendengarkan petir dan kilat yang bersahut-sahutan, menggantikan suara tv yang sudah tidak menyala lagi, mati lampu.

Dulu aku paling takut mendengar suara petir, tapi kemarin aku menikmati setiap suara yang dihasilkan langit.
Sampai isya hujannya tidak berhenti, syukurlah keponakan2ku tidak terlalu takut akan gelap, malah bermain meniup lilin-lilin yang dinyalakan, menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
Aku menikmati semuanya, celotehan bocah-bocah dan irama hujan.

Selepas isya baru hujannya agak reda, walau masih menetes tapi pelan-pelan. Gerimis.
Aku dihubungi seorang teman, mengajak keluar untuk sekedar menghabiskan malam dan kusuruh menunggu sampai orangtua keponakanku tiba di rumah.
Tidak lama mereka datang, dan aku pergi, menghabiskan malam sambil ngopi2. Ditemani gerimis.

***

Hari ini aku ke pameran buku, hanya melihat-lihat.
Melihat buku-buku diskon yang ternyata menggoyahkan iman, membeli satu buku, padahal aku sedang tidak minat membaca.
Setelah dari pameran buku, aku berjalan-jalan. Mengikuti arah stang motorku yang entah kemana, tanpa tujuan.

Lalu aku teringat, kalau tali jam tanganku putus dari dua minggu yang lalu dan belum sempat kuperbaiki, tepatnya sih diganti.
Kubawa motorku ke arah selatan, ke tempat yang aku tahu adalah tempat terbaik untuk urusan bahan kulit, Manding.

Sampai disana, bertanya sana sini, hingga akhirnya aku ke tempat pembuatan kulitnya, memberi contoh kulit jam tanganku yang untungnya kubawa di tas kecilku.
Cukup 15 ribu dan aku dijanjikan kulit yang setara dengan aslinya.

Santai sejenak di angkringan untuk membasahi kerongkongan dan mengasapi mulutku.
Ngobrol ngalor ngidul dengan si penjual angkringan tentang hujan kemarin, tidak terasa, langit mulai menghitam.

Kuputuskan untuk segera pulang, takut hujan segera turun dan aku tidak membawa jas hujan.
Baru sampai perempatan Manding, gerimis sudah turun.
Aku tidak berbelok ke kiri ke jalan Parangtritis, lurus terus melewati jalan yang bukan jalan utama yang aku tahu tembusnya adalah jalan Imogiri. Lebih cepat ke Jalan Solo, pikirku.

Sampai di jalan Imogiri, hujan sudah tidak tertahan, tumpah ruah membasahi apa yang ada di bawahnya, tetap dengan kilat dan petir-petirnya.
Basah, dan mencari tempat berteduh, akhirnya aku menemukannya juga.
Berteduh bersama beberapa motor dengan kondisi yang sama denganku, tanpa jas hujan.

Aku memandang sekitar, melihat sawah dan lalu lalang kenderaan yang menerobos hujan.
Ada lapangan luas lalu agak jauh ada sebuah Rumah Sakit, dan tiba-tiba aku merasa mengenal tempat ini.

Tempat yang sekitar empat tahun lalu pernah menjadi tempat wara-wiriku hampir 2 minggu bersama teman-teman kampus.
Sekedar membantu apa saja, menguatkan hati saudara-saudaraku yang tertimpa musibah yang bernama gempa bumi.

Aku menatap rumah sakit itu dari kejauhan, lebih besar dari yang dulu dan sedang diperbaiki, mungkin akan dibuat lebih besar.

Syukurlah sekarang setiap orang yang kutemui di tempat ini bisa memberi senyum tulus, walau dulu mereka begitu banyak kehilangan.

Read more...

Hei Ayah..

Friday, March 5, 2010

Seorang anak SMP berjalan pulang menuju rumah dari sekolahnya, ketika itu hari jum'at dan di kampung tempat si anak itu tinggal ada keluarga yang sedang melakukan hajatan hingga warga berkumpul.
Sesampai di rumah, si anak dipanggil ayahnya

"Benarkah yang kudengar di rumah kepling itu..?" kata si ayah

Si anak diam mematung di tempatnya berdiri, tahu kemana pembicaraan itu dan tidak berani menjawab

"Heh, kau dengar aku. benar atau tidak..!!! Kalau tidak benar biar kupukul si Kribo itu.."
"Benar yah.."

PLAAKKK...

Sebuah tamparan mendarat di pipi si anak, si ayah menyuruh masuk kamar.
Membuka ikat pinggangnya, menampar lagi si anak.

"Kau tahu, aku tidak pernah mengajarimu jadi pencuri. Apakah uangmu kurang hingga kau mencuri barang yang harganya tidak melebihi uang jajanmu.."

Si anak sudah terisak

"Kau membuat malu, hancur hatiku melihatmu berbuat seperti ini. Anak kurang ajar.."

Setelahnya berbagai macam pukulan, tendangan dan patahnya sebuah sapu menjadi bukti bagaimana remuknya hati ayah melihat anaknya melakukan sebuah tindakan tidak terhormat, mencuri. Mencuri gelang-gelang besi imitasi dari rumah tetangganya yang saat itu lagi tren. Dan tetangganya yang orang minang kebetulan adalah penjual grosir di pasar.
Kejahatan anak-anak masa puber, dilakukan tanpa memikirkan resiko bersama teman-teman sepermainan, hanya untuk gaya-gayaan dan orang-orang di kampung cukup arif untuk menyerahkan ini kepada keluarga masing-masing.
Tersangka 10 orang, sebaya dan dihajar babak belur oleh ayahnya masing-masing. Terselamatkan oleh bunyi adzan sholat jum'at.

"Pergi mandi dan jum'atan, habis itu langsung pulang"
"Iya yah.." jawab si anak disela isak tangisnya.

Dan si anak tahu, ayahnya tidak akan pernah lagi membahas masalah itu. Ayahnya yang tempramental tapi bukan pendendam, ayahnya yang berani melawan semua orang jika dia benar, mungkin jika dia berbohong dan berkata tidak melakukannya, bisa dipastikan ayahnya akan membelanya dan dia tahu itu.
Tapi tidak kali ini, ayahnya sudah cukup malu.

***

"Hidup 5000"
"Mati.."
"Ada samping-samping lagi gak sebelum diangkat..?"
"Bentar-bentar.."

Keriuhan pemuda-pemuda kampung di belakang rumah seorang engkong-engkong Cina, sedang melakukan permainan judi "martuo'". Dua keping logam Rp.50 atau Rp.100 diletakkan di tangan lalu disentil ke atas, kalau yang jatuh ke tanah gambar keduanya sama maka dikatakan hidup, Kalo beda dikatakan mati.
Ketika itu lebaran, masih banyak yang memberi salam tempel dan banyak orang yang pulang kampung. Bertemu keluarga dan teman-teman lama.

Yang memegang koin adalah seorang anak SMA tahun ketiga, disaksikan pemuda-pemuda kampung yang sedang memegang taruhannya masing-masing di tengah-tengah lingkaran besar.
Koin itu terangkat, dan sebelum jatuh ke tanah, para pemuda berhamburan lari kesana-kemari, menyelamatkan diri.

"Uwak datang...!!!!"

Si anak antara mengambil duit atau kabur, akhirnya diam di tempat. Tidak melakukan apa-apa.

"Pulang"
"Iya yah.."

Adzan pertama sholat magrib udah terdengar, si anak berpikir paling ayahnya akan berjalan lurus ke mesjid, tapi dugaannya salah. Ayahnya mengikutinya sampai ke rumah.
Masuk rumah dan ke ruang tv, diikuti ayahnya dan pandangan heran ibunya.
Sekarang sudah tidak perlu lagi bentakan atau ucapan pembukaan, tendangan pertama, kedua, tamparan hingga sapu.

Dan yang paling kurang ajar, si anak menangkis beberapa, mungkin kesal merasa sudah tidak pantas menerima perlakuan begini.

"Kau melawan sekarang.. hah.. Sudah jago perasaanmu"

Makin kesal ayahnya, sudah tahu salah, melawan lagi.
habislah si anak dihajar ayahnya, kali ini tanpa isakan air mata. hanya benjol di kepala.
Setelah itu ayahnya pergi sholat maghrib sekaligus isya ke mesjid, si anak akhirnya menangis di kamar mandi, ibunya mengusapi kepalanya yang benjol.

***

"Kau jangan kuliah disini, ke Yogya aja. Lagian ada kakakmu disana"
"Iya yah..."

Ibunya keberatan kalau anak bungsunya kuliah jauh lagi, seperti anak-anaknya yang lain, biar yang ini agak dekatan, begitu kata ibunya.

"Kau mau dia di bawah ketiakmu terus, biar dia belajar. Bertemu orang-orang baru, banyak ilmu disana, terutama ilmu hidup."
"Tapi kalau aku rindu, mereka jauh-jauh semua. Biar ada yang bisa nengokin kalau kita ada apa-apa"
"Halah, jangan egois. Ini untuk mereka"

Ibunya hanya bisa bersungut-sungut lalu memberi petuah panjang lebar tentang hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama di rantau orang. Panjang kalau dijabarkan satu-satu.
Tiba giliran ayahnya, tumben simpel banget. hanya 3 hal yang diinginkan ayahnya untuk dia pegang ketika nanti kuliah.

"Ingat tuhan, karena cuma dia yang akan menolongmu selama disana" pertama.
"Jangan narkoba, pilihannya cuma 2, penjara atau kuburan" kedua
"Jangan rusak anak orang, jika kau dekat dengan seseorang, perlakukan dia dengan baik" ketiga

Nasehat yang lebih dari cukup membuat si anak berani bertahan dengan status mahasiswa rantau.

***

Si ayah mendapat laporan si kakak kalau adiknya tidak pernah sholat selama di Yogya setelah 3 bulan di Jakarta dan Sulawesi.

"Kau mau apa hah.., tambah umur bukannya tambah dewasa, sudah lupa kau caranya sholat..?"
"Bukan begitu ayah, aku hanya ketemu masanya"
"oya, apa masalahmu, hingga kau lupa pada tuhan..?"
"Aku tidak tahu.."
"Mau jadi apa kau, tidak ada ridho disana kalau kau hanya mengejar dunia.."
"Engghhh......."
"Kuingatkan kau satu hal, ketika aku meninggal, aku ingin anakkulah yang men-sholatkan aku. Mulai sekarang kau harus ingat itu, pikirkan baik-baik"
"Iya yah.."

Singkat, menusuk seperti biasanya. Dan si anak terisak, setelah sekian lama tidak pernah mengeluarkan air mata.

***

Keesokan harinya, si ayah kembali menelepon

"Kau dimana..?"
"Di kos lama.."
"Tidur disana.."
"Iya yah.."
"Masih ada uangmu..?"
"Masih yah.."
"Kalau habis uangmu, bilang. Biar dikirim.."
"masih ada kok... enggghh yah, aku minta maaf soal kemarin"
"Kau sudah makan..?"
"Udah yah.."
"Kapan kau pulang ke rumah kakakmu..?"
"Mungkin 3 hari lagi"
"Ya udah, baik-baik kau disana"
"iya yah.."

Dan seperti biasanya, sudah tidak ada lagi percakapan tentang kemarin.

****


Hei ayah..
Aku dulu tidak mengerti kenapa kau begitu keras pada kami anak-anakmu.
Mungkin karena alasan umurku yang belum begitu memahami maksud tersirat dari semua tindakan dan ucapanmu
Setiap hari rumah kita diisi dengan suara-suara berisi emosimu, pasti selalu ada yang dimarahi, tapi aku tidak pernah merasa kesal padamu, mungkin itu terapi sehatmu.

Hei ayah..
Dulu aku heran, kenapa orang lebih senang datang ke rumah kita ketika ada masalah.
Pertengkaran rumah tangga, anak muda yang kawin lari, pemilihan calon bupati sampai anak yang kabur dari rumah orangtuanya.
Padahal kau hanya seorang PNS, bukan orang kaya. Bukan pula keturunan raja, hanya perantau.
Bentakan dan intonasi suaramu yang begitu tinggi membuat siapa saja takut, dan tetap orang mengadu padamu.

Hei ayah..
Dibalik sifatmu yang emosian dan kerasnya ucapan serta tindakanmu, kau adalah orang yang paling pengertian yang pernah kukenal selama hidupku.
Terimakasih kau telah mengingatkanku lagi, aku benar-benar membutuhkan itu.
Jakarta membuatku greget, Sulawesi membuatku sedikit melawan tuhan.
Dan kau berdiri di depanku, untuk meluruskan pandanganku lagi padaNYA

Kau mengerti bahwa aku sedang melarikan diri ke Yogya, untuk menemukan kembali apa yang hilang dalam diriku
Dan kau menjadi pemicuku untuk kembali lagi padaNYA
Aku mungkin masih butuh lebih banyak waktu lagi, mungkin naik gunung atau ke Karimun Jawa
Tapi percayalah, aku akan baik-baik saja

Jika cinta harus butuh kata-kata, maka yang kurasakan adalah cintamu yang tanpa perlu kata-kata.

Read more...

Catatan Tentang Daratan Yang Ternama

Tuesday, November 24, 2009

Dulu sewaktu aku masih kecil, sekitar umur 9-10 tahun, ibuku mengajakku dan saudara-saudaraku mengunjungi sebuah daratan yang terpisah dari pulau tempatku lahir.
Cerita tentang daratan itu benar-benar membuat kami terutama aku terkesima.
Tempat yang jauh, begitu kata ibu, makanya butuh banyak biaya untuk sampai kesana.

Ikut menumpang dengan mobil teman ayah yang waktu itu juga ingin pergi ke daratan itu, memang butuh waktu lama, 2 hari 3 malam.
Pertama kami sampai ke daratan itu, kami mencium tanahnya. Yup, seperti di film-film, kami menciumnya.

Mungkin banyak yang menganggap itu perbuatan yang konyol, tapi perjuangan untuk sampai kesana benar-benar tidak murah.
Kampungan, begitu mungkin mata beberapa orang yang melihat kejadian itu. Terserah, kami memang dari kampung.

Disini tempat orang merantau, tempat orang-orang yang sering di tv, ini ibukota negara kita. Panjang lebar ibu bercerita tentang daratan yang waktu itu sudah mulai menjulang dengan gedung-gedung tingginya.
Daratan yang bernama Jakarta dalam kenanganku waktu itu sangat berkesan. Banyak mobil-mobil, jalanan selalu ramai dan banyak tempat bermain. Ah, dasar bocah.. :)

Sehabis SMA dan tersesat di kota gudeg, aku beberapa kali mengunjungi Jakarta. Baik itu ketika liburan atau sedang ada acara keluarga.
Tapi rasanya lain, aku tidak pernah melebihi tiga hari disana. Alasannya selalu, tidak betah.

Jakarta masih menyuguhkan gedung-gedung megah, macet, padat penduduknya dan tempat bermain yang selalu bertambah canggih, bahkan ditambah dengan tempat hiburan yang bisa kunikmati di usiaku saat ini. Sayang, mungkin pola pikirku yang sudah berubah hingga akhirnya Jakarta selalu masuk daftar coret tempat yang akan kukunjungi.

Hingga waktu membuatku datang lagi ke Jakarta, mencoba 'menjajah' ibukota negara tercinta ini.
Sebagai seorang pengangguran yang sedang mencari celah untuk ikut dalam arus ibukota.
Seminggu lebih, bermain-main dengan ibukota yang kata orang begitu kejam. Mempelajari ritme dan dunia orang-orang Jakarta yang kata Seno Gumira Ajidarma hanya ada tiga: rumah, kantor dan mobil.

Sejauh ini aku mencoba menikmatinya, mungkin benar pepatah orang-orang tua, alah bisa karena biasa.
Dulu aku selalu bertanya, kenapa orang betah di Jakarta. Datang dari berbagai penjuru tanah air, mencoba mengadu nasib di ibukota ini.
Padahal tidak ada yang bisa dijanjikan Jakarta, selain kompetisi.

Sekarang aku disini, di salah satu sudut Jakarta, menulis postingan dalam keadaan yang baik-baik saja. Hanya terhalang masalah koneksi dan kesempatan untuk fokus menulis.
Kalau ditanya sekarang apa yang dijanjikan Jakarta untuk orang-orang, jawabanku tetap sama, kompetisi.




*baru buka blog ini, makasih buat teman-teman yang sempat2nya mengkhawatirkan keadaanku. Maaf gak bisa blogwalking, miskin koneksi internet.. :)
*Buat bung Becce-Lawo, ewotnya nanti akan saya pajang bro.. tunggu aja, semoga belum basi.hahaha

Read more...

Memutar Memori

Friday, October 23, 2009

"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun"
"Anakku... anakku..."
"Ibu, yang sabar ya, ikhlas bu, ngucap.."

Siang itu tuhan sedang berbaik hati, memanggil seorang bayi yang baru berusia 4 hari dari tangan seorang perempuan.
Diiringi isak tangis perempuan itu dan tetangga yang sedang mencoba menabahkan hatinya, untuk kedua kalinya tuhan menguji imannya.

Prosesi pemakaman sederhana dilakukan keesokan harinya, masih terasa kesedihan itu.
Perempuan itu terhempas ke titik terendah dalam hidupnya, tidak berani menatap mentari.
Takut bertegur sapa dengan tetangga, pekerjaannya dia tinggal, merasa hidup ini begitu tidak memihak.

Tiga kali dia melahirkan, dua kali dia kehilangan.
Beruntunglah masih ada seorang anak yang bertahan dipelukannya, untuk mendapat kasih sayangnya.
Apalagi ketika itu cerita2 tentang kematian masih kental dengan mitos.
Bahkan ada yang bilang ini adalah sebuah bala.

"Kau dengar kata uwak itu kan..?"
"Apa pulak kau pikir-pikirkan itu, gak ada itu" si suami mencoba berpikir jernih, menenangkan perempuan itu.
"Tapi aku takut bang, masak aku menunggu kehilangan sampai tujuh kali baru hilang balanya, gak sanggup aku bang."
"Sudahlah, bukan kita yang mengatur urusan hidup mati. Kalau memang rejeki kita cuma satu itu, kita besarkan dia dengan baik."
"Bang, kalau yang satu itu juga diambil, ceraikanlah aku. Mungkin memang bawa bala aku dalam pernikahan kita ini."
"Jangan gila kau ya, pikiran macam apa itu.."

.....

Ternyata cerita itu tidak terbukti, bahkan tiga tahun setelah kematian yang kedua, perempuan itu melahirkan lagi, perempuan.
Tidak cukup disitu, dua tahun kemudian bayi perempuan lahir lagi dari rahimnya, semuanya sehat dan tumbuh normal.

"Masih percaya kau tentang bala itu, kau lihat apa yang tuhan kasih"
"Imanku tidak cukup kuat waktu itu, maafkan aku bang"
"Lalu ngapain lagi kau sering ke dokter buat cek2 kesehatan"
"Kupikir aku bisa hamil lagi bang.."
"Ah, gak ngerti aku lagi. Dulu kau menolak punya anak lagi, sekarang minta nambah kau"
"Siapa tahu dikasih lagi.."
"Ingat kau apa yang kubilang dulu, kalau rejeki kita cuma segini, ya sudah kita besarkan mereka baik2. Dan jangan suruh2 aku ke dokter, kau kira aku impoten hah"

.....

Setelah itu kehidupan berjalan baik, cerita tentang menambah keturunanpun sudah bukan lagi topik utama di keluarga itu. Hingga tujuh tahun berselang..

"Bang, aku hamil lagi.. gimana ini.." perempuan itu tidak siap, mengingat umurnya yang sudah bukan masa produktif lagi. Pada waktu itu KB bukan favorit para ibu2 kampung.
"Beginilah cara kerja tuhan, ingat apa yang kau bilang dulu. Mau nambah anak, dikasih malah bingung.."
"Tapi kenapa harus sekarang bang, saat aku mulai berpikir untuk membesarkan, bukan lagi meregang nyawa dan duduk menyusui, aku hampir memasuki masa menopause"
"Terus mau apa kau, mau kau tolak rejeki itu"
"Pokoknya ini terakhir aku melahirkan, jangan nambah lagi.."
"Sok2 mengatur pulak kau, disyukuri semuanya. Jagalah baik2 janin itu.."

.....

Bertambah lagi keluarga mereka, seorang bayi perempuan lahir dengan selamat.
Di awal2 kelahiran, si bayi sering sakit.
Fisiknya dinilai lemah oleh dokter, bahkan pernah dua hari menangis tanpa bisa didiamkan.
Perempuan itu mulai panik, teringat trauma masa lalunya tentang kehilangan.
Kali ini jangan ya tuhan, biarkan dia hidup, pinta perempuan itu dalam doa2nya.

Tuhan ternyata mendengar, bayi itu dibiarkan hidup dan berangsur pulih.
Perempuan itu begitu bersyukur, dan berjanji dalam hatinya, biarlah ini yang terakhir. Sudah cukup karunia ini, Empat anak ini jangan bertambah lagi.

Segala cara dia lakukan untuk mencegah, dari lebih banyak mengkonsumsi air tape sampai terapi pijat kampung yang katanya bisa meminimalkan efek hamil.
Apalagi umurnya sudah tidak bisa dibilang muda lagi, dia memang tidak mau lagi menambah anak.

Tapi tuhan berkehendak lain, dua tahun kemudian dia hamil lagi dan melahirkan seseorang yang saat ini sedang memutar memorinya menulis cerita ini.

....


Kutulis untuk ibuku, yang dengan beraninya bercerita tentang sebuah proses dalam perjalanan hidupnya.

*Maaf ibu, jurus2 menolak lahir itu tidak cukup kuat untuk menahanku melihat dunia dan menyusup diantara cinta kalian.. :)*

Read more...

Atas Nama Infotainment

Tuesday, October 20, 2009

Inilah kita, jutaan rakyat yang sedang memperhatikan dengan seksama kotak segiempat ajaib tanpa kedipan mata.
Sudah beberapa hari ini kita disuguhi tontonan kejar tayang.

Dari audisi sampai perhelatan akbar, kita 'dipaksa' untuk tidak melewatkan sedetikpun.
Acara menunggu telepon buatku sangat menarik, apalagi yang sampai acara habis berendam memakai kimono sambil membawa blackberry, hingga acara salam-salaman yang barusan selesai.

Baru kali ini ada audisi untuk pasukan warna-warni.
Bagaimana ya perasaan mereka memasuki ruang audisi untuk sesi wawancara, harusnya ini juga diliput, biar tambah gayeng.. :D
Belum lagi senyum2 menggoda dan petunjuk2 misterius dari si audiens, menambah penasaran orang yang menonton.
Mirip berita seleb yang kalau diwawancarai tersipu malu sambil bilang 'no comment'

Panitia acara benar2 bekerja secara profesional, terutama untuk segi hiburannya.
Aku tidak tahu ini ide siapa, tapi buatku ini sangat menghibur.
Terinspirasi dari banyaknya reality show di negeri ini, sampai acara kenegaraan inipun dikemas dengan semenarik mungkin.
Selamat.. selamat...
Acaranya sudah selesai, tinggal menunggu pasukan warna-warni yang akan menyemarakkan negeri ini lima tahun ke depan.

Oya jangan lupa, siapa tahu dalam waktu dekat akan diadakan pesta besar2an untuk acara ini, diisi oleh musisi2 ternama negeri ini dan hadiah doorprize untuk penelepon yang bisa menjawab 'siapakah anggota pasukan warna-warni yang akan angkat koper dalam 100 hari ke depan'
Dan nanti akan ada joke2 seru dari hostnya 'acaranya sangat menggetarkan, mengalahkan getaran di Sumbar' :D

Apakah anda terhibur dengan rangkaian acaranya..? :)

Read more...

Keren Bin Kanker

Wednesday, October 7, 2009

Keren nih, mbak ada yang nomor 42 gak..?
Sebentar mas...

****
Wow pas, harganya murah lagi... bungkus...

***
1399000 mas
Hah...ntar dulu deh mbak..*berlalu meninggalkan kasir sambil mikir kenapa 0 nya bisa nambah satu*

**
-kejadian di sebuah mall, dengan pelaku dua curut yang lagi tidak waras-

*
gambar diambil disini

Read more...

Gempa, Kelas Baru Dan Batik

Saturday, October 3, 2009

Ingin aku bertanya pada tuhan, apakah kita terlalu disayang hingga selalu diberi perhatian olehNya.
Atau memang kita seperti lagu Ebiet yang membuat alam bosan bersahabat dan memilih marah dengan caranya.

Pelajaran tentang bumi dan alam semesta telah terkubur di gudang buku2 SD.
Mungkin dulu kita *khususnya aku* malas memahami tentang arti 60LU-110LS dan 95-141 BT, diapit dua benua dan dua samudera.
Jantung khatulistiwa, dilewati garis equator dan berada di atas lempeng bumi.

Dari dulu mungkin kita *lagi-lagi khususnya aku* tidak detil mencermati cerita2 rakyat yang sudah terlupakan sekarang.
Beberapa kejadian, seperti Sangkuriang yang menjadi Tangkuban Perahu, Malin Kundang, Roro Jonggrang dan banyak lagi selalu diakhiri dengan peristiwa alam.
Bukankah kita begitu dekat dan bahkan sudah 'berteman' dengan kejadian2 itu, dari jaman nenek moyang kita yang katanya pelaut itu.

Kejadian gempa di Sumbar membangunkan kita lagi, bahwa alam kesal karena selalu dicurangi.
Mari kita memberi bantuan, apapun itu bentuknya sambil memikirkan lagi ke depan untuk mencoba 'berteman' lagi dengan alam.
Yang belum tahu, mulailah mengenal.
Yang paham ilmu, mulailah berbagi
Yang punya akses, mulailah menyebarkan.
Benar, bencana alam memang tidak bisa dicegah, tapi percayalah kita bisa meminimalisir dampaknya.

Ada satu hal yang membuatku sedikit miris akan kejadian gempa ini, banyaknya siaran di tv yang selalu memutar adegan yang sama, tentang tangisan yang videonya hampir 24 jam diulang terus.
Aku bukannya tidak berempati, gempa itu sudah menghancurkan semua yang mereka punya, jangan lagi menghancurkan hati keluarga2 mereka yang berada jauh dari mereka dengan selalu menampilkan gambar yang sama setiap waktu.

Jengah aku mendengar si reporter bertanya 'seperti apa rasanya waktu itu' atau 'bagaimana perasaan bapak setelah tahu keluarga bapak tertimbun di bawah reruntuhan'.
Mereka butuh bantuanmu, bukan pertanyaan yang akan membuat mereka menangis lagi.
Mereka mau bantuan, bukan simpati atau teman menangis. Bantuan yang akan membuat kepala mereka tegak, percaya mereka bisa bangkit dengan harapan dan hidup yang baru.

Lalu aku Ingin bertanya pada 'kelas baru' itu, butakah mereka dengan kenyataan di depan mereka.
Melihat mereka memamerkan jas baru keluaran loundry terkenal itu, dengan tampang sumringah bersalaman dan berbisik-bisik tentang gaji pertama mereka.

Pelantikan itu, peresmian kelas baru yang menghabiskan dana yang begitu besar, apalagi yang mau diharapkan dari mereka.
Masalah artis bokep yang mau datang kesini saja mereka ributnya setengah mati, membuat UU dan interupsi, mereka jagonya.

Duh... pekalah sedikit, coba kalian bergeser sedikit dari kursi nyaman itu dan lihat sekeliling.
Banyak orang miskin, negeri kita baru tertimpa musibah dan kalian tetap 'show must go on'...?
Terus terang buat para wakil rakyat di kelas baru itu, pesimis aku membayangkan negeri ini di tangan kalian.

Terakhir, ingin aku bertanya pada euforia ini, perlukah membuat sebuah hari khusus untuk batik.
Kemarin hampir semua memakai batik, mengikuti himbauan karena telah disahkannya batik sebagai milik negeri ini.
Pantaskah kita bereuforia dengan 'mewajibkan' satu hari khusus berbatik ria, dan memandang aneh orang yang tidak berbatik di hari itu.

Tidak punya nasionalisme, begitulah anggapan untuk yang tidak memakai batik.
Tiap orang di negeri ini pasti setuju, yang punya batik adalah kita.
Lalu nasionalisme itu akhirnya diukur dari selembar kain bernama batik...? mengherankan.
Batik adalah budaya, punya nilai sejarah yang panjang, banyak nilai hidup yang ada di kain batik.
Tidak perlu menunggu UNESCO baru memakai batik, janganlah memakai batik hanya untuk memperingati 'hari batik'.

Memang ada untungnya pengakuan itu, kita jadi lebih memperhatikan batik, yang artinya akan berdampak pada kesejahteraan pembuat batik, tapi untuk 'hari khusus itu', aku benar2 heran.

Kalau memang begitu pentingnya pengakuan dari luar sampai dibuat sebuah hari yang khusus memakai batik, maka atas nama nasionalisme bersiaplah..
Mungkin dalam waktu dekat UNESCO juga akan mensahkan koteka sebagai warisan budaya negeri ini.
Buatlah hari khusus, jika memang tidak mau dibilang pilih kasih.

Read more...

Wake Me Up When September Ends

Thursday, October 1, 2009

Jika rasa makanan adalah dari lidah, maka rasa menulis adalah dari hati.

Fiuuhh... baru buka blog ini lagi.
Hujan dan berita gempa mengawali hari ini.
Semoga saudara2 yang ada di Sumatera, khususnya Sumatera Barat diberi kekuatan dan ketabahan.

Kemaren memang emosi banget, dan gak tau mau dikeluarin dimana, dan akhirnya blog inlah yang jadi sasaran tembak..:D

Nasi sudah menjadi bubur, putusan sudah dijatuhkan.
Terlalu buang energi kalau harus terus memikirkannya, sekarang adalah mencari solusi.
Life must go on, begitu kata sang bijak.
Face it and solve it, begitu kata .... *siapa itu, lupa aku*.

Sejujurnya postingan kemaren murni unek2.
Aku tahu aku bisa menghadapinya, hanya ingin mengeluarkan isi hati, daripada kutahan jadi penyakit, atau aku membuat keributan di tengah pasar gara-gara itu, kan gak lucu jadinya... :D

Aku tidak pernah dendam dengan itu, emosi boleh tho... hehehe
Membuang energi negatif itu ternyata bisa meringankan, postingan itu benar2 menolongku.
Melihat lagi lebih jelas, berpikir melingkar dan membuatku merasa lebih dewasa.
Aku tidak sedang mencari simpati dari tulisan itu, hanya pengen memaki.
Terimakasih buat teman2 yang meninggalkan komentar, kuterima semua sebagai proses belajar.

Buatku inilah terapi yang paling efektif, menulis, menulis semua yang ada dipikiran dan belum sempat terkatakan.
So, wake me up when september ends... eh udah oktober dink.. :D
Kalau begitu selamat datang oktober, selalu ada pelangi setelah hujan.

Read more...

Yogyakarta Hari Ini

Wednesday, September 23, 2009

Pulang ke kotamu..
Ada setangkup haru dalam rindu...
Masih seperti dulu..
Tiap sudut menyapaku bersahabat..
Penuh Selaksa Makna..
Terhanyut aku akan nostalgia..
Saat kita sering luangkan waktu..
Nikmati bersama suasana Yogya..

Kebangetan jika ada yang tidak tahu lagu itu, kalaupun tidak hapal liriknya, paling tidak, ingat nadanya atau parah-parahnya, tahu lagunya..
Lagu yang sangat populer di era 90-an, yang dinyanyikan oleh KLA Project.
Aku teringat lagu itu, gara-gara Yogyakarta hari ini.

Yogya kota pelajar, kota kebudayaan, kota seniman, sering juga disebut Indonesia kecil karena hampir semua suku ada disini.
Mau cari orang Aceh sampai Papua , ada di Yogya.
Terlalu banyak cerita di Yogya, bukan hanya untukku tapi mungkin untuk semua orang yang pernah bersentuhan dengan Yogyakarta.
Aku mengenang semuanya, gara-gara Yogyakarta hari ini.

Mungkin banyak yang bertanya, ada apa dengan Yogya hari ini..
Sebetulnya Yogya baik-baik saja, aman, tentram, damai, hanya macet.

Yup Yogya macet hari ini, jalanan Yogya seharian ini dipenuhi kotak-kotak besi yang tumpah ruah seperti ikan kaleng.
Macet mungkin hal yang biasa di Jakarta, tapi di Yogya... buatku ini kejadian luar biasa..

Selama aku tinggal di Yogya, Baru sekarang kejadian macet gak karu-karuan ini terjadi.
Aku tidak tahu apakah ini efek lebaran, hingga orang-orang menyempatkan diri berlibur bersama keluarga ke kota ini, apalagi yang tinggal tidak jauh dari Yogya.
Ataukah gara-gara arus mudik dan arus balik hingga Yogya menjadi jalan lintas orang-orang yang sedang pulang kampung.
Atau Yogya memang seperti ini kalau libur lebaran, mungkin cuma aku yang berlebihan menanggapinya, maklumlah ini pertama kalinya aku berlebaran disini.

Biasanya kalau ada kejadian macet di Yogya, pasti ada sesuatu, kalau tidak tabrakan, orang kecelakaan mungkin juga razia polisi.
Tapi serius, tanpa kejadian di atas, Yogya benar-benar macet hari ini.

Terkesan berlebihan..? entahlah.. tapi Yogya benar-benar macet hari ini, sebetulnya sudah beberapa hari ini, sejak libur lebaran.
Beberapa teman yang tinggal di Yogya bahkan sudah dari kemarin menulis di status fb tentang macet Yogya.
Tapi aku baru merasakannya hari ini.
*kalimat ini sudah kuulang berapa kali ya..* :D

Dimulai dari aku keluar dari kos, ke jalan besar yang menghubungkan Yogya-Solo.
Woo... aku langsung disambut antrian kotak-kotak besi yang berderet rapi, untunglah aku pakai kuda besi, jadi bisa nyelip-nyelip.
Tapi tetap ini mengherankan, jalan disini biasanya santai-santai, sekarang malah harus seperti belut, meliuk-liuk mencari jalan.

Ingin kuurungkan niatku dan kembali ke kos, tapi mengingat tujuanku keluar memang membeli sesuatu yang penting, jadi terpaksalah aku mengikut dengan kemacetan itu.
Sudah kutabalkan di kepalaku, sudah kupasrahkan dalam hatiku, terserahlah ini mau makan waktu berapa lama tapi aku harus sampai kesitu, ke pusat kemacetan itu... Malioboro.

Dan terbukti memang lama sampainya, yang biasanya cuma 15-20 menit sekarang 1 jam lebih.
Banyaknya kotak besi, pengalihan jalan dan wisatawan yang entah dari mana-mana menambah acara macet hari ini.

Jangan ditanya seperti apa rupa Malioboro hari ini.
Kacau balau... rame.. seperti pasar.
Aku geleng-geleng kepala ketika memarkir kuda besiku dan melihat manusia-manusia yang ada disana.
Malioboro benar-benar punya magis... :D

Aku bahkan sampai bingung mau jalan kemana, setelah barang kudapat, aku memilih duduk di trotoar dan mengamati orang-orang yang berseliweran.
Menikmati melihat kotak-kotak besi itu berjalan seperti keong, yang anehnya tetap tertib tanpa banyak suara klakson, tidak ada yang terburu-buru, bahkan si bapak polisi mengatur lalu lintas sambil bermain sms, canggih.. :)

Iseng-iseng kuperhatikan kotak-kotak besi itu, tidak tahu kenapa setiap ada yang lewat, aku melihat plat nomornya.
B, AD, H, L, F, W, KB, BM, BG, K, E dan banyak lagi.
Yang pasti ada plat AB karena jelas ini di Yogya.
Kebanyakan memenuhi warung-warung makanan dan pusat-pusat perbelanjaan.
Selebihnya... menyebar ke seluruh penjuru kota ini.

Kamu memang kota yang tak terlupakan, bahkan orang-orang ini rela menempuh perjalanan jauh hanya untuk makan di warung-warungmu dan menghabiskan uangnya di lapak-lapakmu, antri menikmati macetnya suasana, menghabiskan waktu berjam-jam dari rumahnya yang puluhan, ratusan bahkan ribuan kilometer itu hanya demi sebuah cerita dan senyumanmu


Yogya.. Yogya...

Read more...
Sonic Run: Internet Search Engine
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

  © Blogger template Brownium by Ourblogtemplates.com 2009

Back to TOP